KONTAN.CO.ID - Jakarta. Hari ini, Selasa 14 April 2026 menjadi kesempatan terakhir bagi investor untuk mendapatkan pembayaran dividen saham dari PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) dan PT Cinema XXI Tbk (CNMA). Kedua emiten tersebut memasuki cum date dividen di tanggal yang sama.
Cum date dividen merupakan batas akhir investor memiliki hak atas pembagian dividen. Artinya, investor harus membeli saham sebelum atau pada tanggal ini dan menahannya hingga recording date agar berhak menerima dividen.
Menariknya, dividen ADMF dan CNMA tergolong besar (jumbo) karena yield-nya melampaui suku bunga deposito maupun obligasi saat ini.
Mengacu data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), cum dividen saham CNMA dan ADMF di pasar reguler dan negosiasi sama-sama berlangsung pada 14 April 2026.
Baca Juga: Dividend Yield Saham Capai 9,9%! Ini Jadwal Cum Date Saham ADMF ROTI CNMA BNLI
Nilai dividen yang dibagikan pun cukup menarik. ADMF menetapkan dividen tunai sebesar Rp630 per saham, sedangkan CNMA sebesar Rp7 per saham.
Pada penutupan perdagangan Senin (13/4/2026), saham ADMF berada di level Rp9.050 atau naik 0,56%. Dengan harga tersebut, yield dividen ADMF mencapai sekitar 6,96%.
Sementara itu, saham CNMA ditutup di level Rp112 dan mencerminkan yield dividen sebesar 6,25%.
Jika dibandingkan, yield ini setara sekitar tiga kali lipat bunga deposito bank umum yang berada di kisaran 2%. Bahkan, lebih tinggi dari rata-rata imbal hasil obligasi yang sekitar 5%.
Berikut jadwal lengkap dividen saham CNMA dan ADMF:
Tonton: Blokade Total Iran Dimulai! Trump Klaim Hancurkan Militer & Guncang Pasar Minyak Dunia
Jadwal Dividen CNMA:
- Cum Dividen Reguler: 14 April 2026
- Ex Dividen Reguler: 15 April 2026
- Cum Dividen Tunai: 16 April 2026
- Ex Dividen Tunai: 17 April 2026
- Recording Date: 16 April 2026
- Pembayaran Dividen: 28 April 2026
Jadwal Dividen ADMF:
- Cum Dividen Reguler: 14 April 2026
- Ex Dividen Reguler: 15 April 2026
- Cum Dividen Tunai: 16 April 2026
- Ex Dividen Tunai: 17 April 2026
- Recording Date: 16 April 2026
- Pembayaran Dividen: 30 April 2026
Baca Juga: Siap Cair Dividen CMRY Rp1,59 Triliun, Intip Profil Emiten hingga Kinerja Terakhirnya
Strategi Investor Mengincar Dividen
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menyebut momentum cum date dapat dimanfaatkan investor untuk mulai mengoleksi saham dengan yield tinggi dan fundamental kuat.
Biasanya, harga saham cenderung naik menjelang cum date dan turun setelah ex-date. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk strategi trading jangka pendek.
Investor juga dapat mengombinasikan keuntungan dari dividen dengan capital gain, atau memilih saham yang rutin membagikan dividen untuk investasi jangka menengah hingga panjang.
Namun, investor diingatkan agar tidak hanya tergiur yield tinggi. Yield besar tidak selalu mencerminkan kualitas perusahaan yang baik.
Hindari saham dengan laba menurun atau payout ratio terlalu tinggi karena berisiko menjadi dividend trap.
Dari sisi rekomendasi, saham ADMF dinilai menarik untuk dikoleksi karena kinerja yang stabil dan yield kompetitif. Sementara itu, CNMA lebih cocok untuk strategi spekulatif jangka pendek dengan potensi rebound, meski risikonya lebih tinggi.
Senada, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan, saham yang belum memasuki cum date masih menarik untuk strategi dividend capture.
“Menjelang cum date, harga saham umumnya mengalami penguatan seiring meningkatnya permintaan investor, sehingga membuka peluang kombinasi antara capital gain dan dividen,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan agar investor tetap selektif, mengingat sebagian sentimen tersebut sudah tercermin dalam harga saham.
Dari sisi strategi, investor disarankan melakukan akumulasi secara bertahap sebelum cum date, terutama saat terjadi koreksi harga. Selain itu, disiplin dalam menentukan waktu keluar juga penting, mengingat harga saham biasanya mengalami penyesuaian setelah ex-date.
Untuk menghindari dividend trap, investor perlu memperhatikan sejumlah indikator fundamental seperti payout ratio yang sehat, tren pertumbuhan laba yang konsisten, serta arus kas operasional yang kuat.
“Yield tinggi yang berasal dari penurunan harga saham justru bisa menjadi sinyal risiko,” ujar Hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News