IPO

Pemesanan Ditutup Jam 9 WIB, Lebih Dari 500.000 Investor Minati IPO Dua Saham Ini

Senin, 06 Juli 2026 | 07:32 WIB
Pemesanan Ditutup Jam 9 WIB, Lebih Dari 500.000 Investor Minati IPO Dua Saham Ini

ILUSTRASI. Pemesanan Ditutup Jam 9 WIB, Lebih Dari 500.000 Investor Minati IPO Dua Saham Ini


Reporter: Adi Wikanto, Avanty Nurdiana, Ridwan Nanda Mulyana  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemburu saham perdana melalui hajatan initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) harus bergegas. Pemesanan atas dua IPO saham di BEI berakhir hari ini, Senin 6 Juli 2026 jam 09.00 WIB.

Dua perusahaan yang memasuki tahap akhir masa penawaran umum IPO saham adalah PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI).

Keduanya telah menggelar penawaran umum sejak 2 Juli 2026. Investor berkesempatan melakukan pemesanan atau orde IPO saham EMMI dan BACH hingga jam 9 nanti.

Selanjutnya, perdagangan hari pertama pertama saham EMMI dan BACH di BEI berlangsung pada 8 Juli 2026. 

Baca Juga: Harga Saham Ini Turun Jadi Rp 505, Investor Bisa Kantongi Dividen Rp2.560/Lot

IPO Saham EMMI

EMMI menawarkan 522.857.000 saham baru atau 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, dengan harga penawaran Rp 470 per saham. Jumlah seluruh nilai penawaran ini mencapai sebesar Rp 245,74 miliar. 

Pantauan di Stockbit Sekuritas, peminat saham perusahaaan yang bergerak di industri alat kesehatan membludak. Pada Senin (6/7) jam 00.10 WIB, sebanyak 519.170 akun investor telah antre memesan IPO saham EMMI.

Dengan jumlah pemesan yang banyak, IPO saham EMMI diprediksi sukses. Harga saat perdagangan hari pertama di BEI berpotensi meningkat.

Direktur Utama Esa Medika Mandiri, Florian Chris Widjaja menyampaikan bahwa IPO ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat fondasi pertumbuhan EMMI sebagai penyedia alat kesehatan di Indonesia. Florian menyatakan IPO akan menjadi awal dari fase pertumbuhan baru bagi Esa Medika Mandiri.

Dana hasil IPO, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan dan mendukung pengembangan usaha EMMI.

Dana sebesar Rp 50 miliar akan digunakan untuk pembayaran sebagian pokok pinjaman, sekitar 6,4% untuk pembiayaan belanja modal pembangunan gedung pabrik Cikupa.

Kemudian sekitar 72,3% untuk modal kerja, antara lain pembelian barang terkait proyek softloan serta pembelian bahan baku/persediaan untuk menunjang operasional bisnis.

Florian mengatakan, penguatan modal kerja dan kapasitas usaha menjadi penting seiring meningkatnya kebutuhan fasilitas kesehatan terhadap alat kesehatan yang andal dan berkualitas. 

EMMI melihat kebutuhan alat kesehatan nasional masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas, didorong oleh modernisasi rumah sakit, peningkatan kapasitas layanan kesehatan, serta penguatan industri alat kesehatan dalam negeri.

"Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, jaringan distribusi nasional, fasilitas manufaktur lokal, serta kemitraan dengan berbagai prinsipal alat kesehatan, Perseroan berada pada posisi yang baik untuk menangkap peluang tersebut,” tambah,” ujar Florian melalui keterangan tertulis yang disiarkan pada Kamis (2/7/2026)..

Tonton: GoTo Akhirnya Buka Suara! Ini Penjelasan Resmi soal PHK Tokopedia

Sebagai informasi, Esa Medika Mandiri bergerak dalam perdagangan besar alat laboratorium, alat farmasi, dan alat kedokteran untuk manusia. Portofolio Esa Medika Mandiri mencakup peralatan medis atau capital equipment untuk mendukung layanan kritikal di ruang operasi, ICU (Intensive Care Unit), IGD (Instalasi Gawat Darurat), dan sistem sterilisasi.

Esa Medika Mandiri telah melayani lebih dari 200 rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Indonesia, didukung oleh 1 kantor pusat, 2 pabrik, 4 kantor perwakilan, serta sales representative di berbagai wilayah.

Secara kinerja, Esa Medika Mandiri membukukan penjualan bersih sebesar Rp 454,64 miliar pada 2025, meningkat 18,11% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 384,93 miliar. Laba bersih tahun berjalan meningkat 188,23% menjadi Rp 32,44 miliar pada 2025 dari Rp 11,25 miliar pada 2024. 

Dalam IPO ini, PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT Ina Sekuritas Indonesia bertindak sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek. Sementara PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk dan PT Investindo Nusantara Sekuritas bertindak sebagai Penjamin Emisi Efek. 

Tonton: Korupsi MBG Seret Polisi dan TNI Aktif, Peneliti UGM: Potensi Abuse of Power Sangat Tinggi!

IPO Saham BACH 

Data Stockbit mencatat, hingga Senin 6 Juli 2026 jam 01.05 WIB, sebanyak 663.051 akun investor telah antre memesan IPO saham BACH. 

BACH menawarkan sebanyak 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO dengan harga penawaran Rp 442 per saham. perusahaan menargetkan dana sekitar Rp 271,83 miliar dari aksi korporasi tersebut.

BACH dinilai memiliki posisi strategis untuk memanfaatkan pertumbuhan kebutuhan listrik cadangan (backup power) dan ekspansi infrastruktur digital nasional. 

Di tengah masih berlangsungnya masa penawaran umum perdana saham (IPO), Semesta Indovest Sekuritas dalam riset 2 Juli 2026 menilai model bisnis perusahaan yang menggabungkan penyediaan genset dengan jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi menjadi keunggulan kompetitif di tengah berkembangnya industri.

Baca Juga: Blue Chip Tertekan, Analis Sebut Peluang Rebound Semester II 2026, Cek Pilihan Saham! 

BACH tidak hanya mengandalkan penjualan dan penyewaan generator set (genset), tetapi juga memperoleh pendapatan dari pembangunan serta pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi. Kombinasi tersebut dinilai memberikan peluang cross-selling karena operator telekomunikasi membutuhkan pasokan listrik yang andal sekaligus layanan operasional untuk menjaga keandalan jaringan.

"Model bisnis yang terintegrasi membuka peluang perusahaan menangkap permintaan dari kebutuhan genset, mobile backup power, maintenance site, fiberisasi, hingga pembangunan infrastruktur digital," tulis Semesta Indovest dalam riset.

Prospek tersebut ditopang oleh kinerja keuangan yang tumbuh signifikan sepanjang 2025. Perusahaan ini membukukan pendapatan sebesar Rp 1,73 triliun atau meningkat 39,7% dibandingkan tahun sebelumnya, terutama didorong pertumbuhan bisnis penjualan dan penyewaan genset.

Tonton: Indonesia Incar Rudal BrahMos! India: Pembahasannya Sudah Sangat Maju

Peningkatan pendapatan turut mendorong perbaikan profitabilitas. Laba bersih melonjak 97,5% secara tahunan menjadi Rp 156 miliar, sementara margin laba bersih alias net profit margin (NPM) meningkat menjadi 9% dari sebelumnya 6,3%.

Semesta Indovest mencatat bisnis penjualan dan penyewaan genset menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan sekitar Rp 978 miliar atau 56,4% dari total pendapatan perusahaan pada 2025.

Sementara itu, segmen jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi menyumbang sekitar Rp 755 miliar atau 43,6% dari total pendapatan.

Menurut analis, komposisi tersebut membuat BACH tidak bergantung pada satu lini usaha. perusahaan masih memiliki peluang memperoleh pendapatan dari berbagai aktivitas seperti pembangunan site telekomunikasi, fiberisasi, preventive maintenance, corrective maintenance, hingga mobile backup power.

Posisi BACH juga dinilai semakin kuat sejak menjadi bagian dari ekosistem PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) pada 2023. Hingga September 2025, grup tersebut mengoperasikan sekitar 36.049 menara telekomunikasi dan lebih dari 170.500 kilometer jaringan serat optik.

Keterkaitan dengan ekosistem tersebut dinilai memperluas akses BACH terhadap proyek-proyek infrastruktur telekomunikasi nasional.

Analis juga menilai kekuatan BACH berasal dari hubungan jangka panjang dengan sejumlah pemain utama industri telekomunikasi.

Perusahaan tercatat menjadi mitra berbagai perusahaan besar seperti Protelindo Group, Tower Bersama Infrastructure, Centratama Group, Indosat Hutchison, XL Axiata, Huawei, hingga Telkomsel.

Pada 2025, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk berkontribusi sekitar Rp 495,1 miliar atau sekitar 28% terhadap pendapatan konsolidasian BACH.

Menurut Semesta Indovest Sekuritas, portofolio pelanggan tersebut menunjukkan posisi BACH sebagai salah satu vendor yang relevan dalam pembangunan maupun pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Semesta Indovest Sekuritas melihat prospek industri yang menjadi pasar BACH masih cukup menjanjikan.

Pasar generator Indonesia diproyeksikan tumbuh dari sekitar US$ 679,5 juta pada 2024 menjadi US$ 1,76 miliar pada 2035, dengan pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 9,1%.

Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya kebutuhan listrik cadangan di sektor industri, proyek infrastruktur, pertambangan, kawasan komersial, telekomunikasi, hingga pusat data (data center).

Di sisi lain, jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai 221,6 juta orang pada 2024 dengan tingkat penetrasi sekitar 79,5%. Kondisi tersebut terus mendorong kebutuhan pembangunan jaringan telekomunikasi.

Baca Juga: Proyek FSRU AKR Corporindo (AKRA) Perkuat Diversifikasi, Cermati Rekomendasi Analis

Pasar menara telekomunikasi Indonesia diperkirakan meningkat dari US$ 1,87 miliar pada 2026 menjadi US$ 2,29 miliar pada 2031, sementara pasar data center diproyeksikan tumbuh dari US$ 1,83 miliar menjadi US$ 3,48 miliar pada periode yang sama.

Menurut Semesta Indovest Sekuritas, pertumbuhan tiga sektor tersebut menempatkan BACH pada posisi yang strategis karena perusahaan memiliki eksposur langsung terhadap kebutuhan genset, backup power, pembangunan jaringan, serta layanan pemeliharaan infrastruktur digital.

Meski prospeknya dinilai menarik, Semesta Indovest Sekuritas mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor.

Risiko utama berasal dari ketergantungan perusahaan terhadap pemasok genset dan komponen utama dari luar negeri. Kondisi tersebut membuat biaya pengadaan sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar, gangguan rantai pasok global, hingga perubahan kebijakan perdagangan internasional.

Selain itu, persaingan juga cukup ketat, baik di bisnis penyediaan genset maupun jasa infrastruktur telekomunikasi. Perusahaan ini dituntut menjaga kualitas layanan, efisiensi biaya, serta memenuhi standar service level agreement (SLA) agar mampu mempertahankan kontrak dengan pelanggan.

Analis juga menilai perlambatan belanja modal operator telekomunikasi maupun meningkatnya keandalan jaringan listrik PLN berpotensi memengaruhi permintaan terhadap proyek telekomunikasi dan kebutuhan genset cadangan.

Dari sisi valuasi, Semesta Indovest Sekuritas mencatat price to earnings ratio (PER) BACH pada 2025 berada di level 11,6 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata perusahaan sejenis sebesar 15,9 kali.

Sementara itu, price to book value (PBV) tercatat sekitar 3,4 kali dengan return on equity (ROE) mencapai 29%, mencerminkan tingkat pengembalian modal yang relatif tinggi.

Di sisi lain, margin laba bersih perusahaan sebesar 9% masih berada di bawah rata-rata perusahaan sejenis yang mencapai sekitar 14,9%.


 

Reksadana Saham Turun 21,87%, Ini Prediksi Analis untuk Semester II

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru