Rekomendasi

Harga Saham Ini Turun Jadi Rp 505, Investor Bisa Kantongi Dividen Rp2.560/Lot

Kamis, 02 Juli 2026 | 07:42 WIB
Harga Saham Ini Turun Jadi Rp 505, Investor Bisa Kantongi Dividen Rp2.560/Lot

ILUSTRASI. Harga Saham Ini Turun Jadi Rp 505, Investor Bisa Kantongi Dividen Rp2.560/Lot


Reporter: Yuliana Hema  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) hingga awal Juli 2026 ini terus melemah. Saat harga turun, investor berkesempatan mengantongi dividen dengan yield di atas suku bunga deposito. 

Emiten infrastruktur telekomunikasi ini akan membagikan dividen tunai sebesar Rp2,08 triliun.

Nilai tersebut setara dengan 98% laba bersih tahun buku 2025. Dengan demikian, setiap pemegang saham MTEL berhak memperoleh dividen tunai sebesar Rp25,6 per saham atau Rp2.560 per lot. 

Pada penutupan perdagangan Rabu (1/7), saham MTEL berada di level Rp505 per saham, turun 35 poin atau 6,48% dibandingkan hari sebelumnya.

Sejak awal tahun 2026, harga saham MTEL telah melemah sekitar 23,48% atau turun 155 poin.

Baca Juga: Dividen RAJA Cum Date Rabu (1/7): Cek Profil Lengkap dan Kinerja Terbaru Emiten Gas

Dividend Yield MTEL Di Atas Bunga Deposito

Senior Research Analyst Sinarmas Sekuritas Indonesia, Yosua Zisokhi, menilai dividend yield yang ditawarkan MTEL tergolong menarik di tengah pelemahan pasar saham.

Dengan harga terakhir, dividend yield MTEL diperkirakan mencapai sekitar 5,06%.

Nilai tersebut di atas suku bunga deposito rupiah di perbankan yang hanya 3%-4% per tahun. Yield dividen saham MTEL juga di atas bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar 3,5%.

Menurut Yosua, tingkat imbal hasil tersebut menjadi daya tarik tersendiri ketika pasar saham domestik masih berada dalam tekanan. Sepanjang tahun berjalan 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat telah terkoreksi sekitar 34,14%.

"Yield jelas atraktif karena equity market tercermin dari IHSG saat ini secara year-to-date turun signifikan. Dividen juga menjadi sumber cash flow bagi investor," ujar Yosua dalam paparannya, Rabu (1/7/2026).

Ia menambahkan, dividen yang besar berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan saham MTEL dalam jangka pendek selama volatilitas pasar masih berlangsung.

Tonton: Mulai 1 Juli, Pedagang di Shopee dan Tokopedia Kena PPh 0,5%

Fundamental MTEL Tetap Solid

Meski demikian, Yosua menilai faktor fundamental tetap menjadi penentu utama kinerja saham MTEL dalam jangka panjang.

Investor akan mencermati kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan bisnis sekaligus menjaga kondisi keuangan yang sehat.

Menurutnya, keputusan membagikan hampir seluruh laba tidak akan menghambat ekspansi perusahaan.

Mitratel masih memiliki struktur permodalan yang kuat dengan rasio debt-to-equity (DER) sekitar 0,56 kali, termasuk salah satu yang terendah di industri menara telekomunikasi.

Selain itu, kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas juga dinilai sangat solid. Hingga kuartal I-2026, recurring free cash flow MTEL mencapai Rp5,7 triliun. Kondisi tersebut memberikan ruang pendanaan internal yang besar untuk mendukung belanja modal maupun peluang akuisisi pada masa mendatang.

Likuiditas perusahaan juga tetap terjaga. Posisi kas dan setara kas MTEL hingga akhir kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp2,8 triliun sehingga perusahaan masih memiliki fleksibilitas finansial meski membagikan dividen dalam jumlah besar.

"Kombinasi dividend yield yang menarik, neraca yang sehat, kemampuan menghasilkan arus kas yang kuat, serta ruang ekspansi yang masih besar menjadikan MTEL tetap memiliki prospek investasi yang menarik," kata Yosua.

Tonton: KAI Terus Berinovasi, Loyalitas Pelanggan Tetap Terjaga

RUPST Setujui Merger Anak Usaha

Selain menyetujui pembagian dividen, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) MTEL juga menyetujui aksi korporasi berupa merger dua anak usaha, yakni PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT) dan PT Persada Sokka Tama (PST).

Langkah tersebut diharapkan dapat memperbesar skala usaha sekaligus memperkuat portofolio infrastruktur telekomunikasi yang dimiliki Mitratel.

Dengan kombinasi dividend yield yang kompetitif, fundamental yang solid, posisi kas yang kuat, serta strategi ekspansi melalui merger, MTEL masih menjadi salah satu emiten infrastruktur telekomunikasi yang layak dicermati investor, terutama bagi mereka yang mencari potensi pendapatan dividen sekaligus prospek pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Setelah 72 Bulan Surplus, Neraca Dagang Indonesia Akhirnya Defisit

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru