Cermati Rekomendasi Saham Surya Citra Media (SCMA) Pasca TV Analog Dihentikan

Kamis, 10 November 2022 | 04:55 WIB   Reporter: Nur Qolbi
Cermati Rekomendasi Saham Surya Citra Media (SCMA) Pasca TV Analog Dihentikan

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Penghentian siaran TV analog alias Analog Switch Off (ASO) diprediksi tidak memengaruhi kinerja emiten yang bergerak di bisnis tv secara signifikan, termasuk PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). 

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai, pendapatan dari iklan akan tetap menunjang bisnis SCMA.

Menurutnya, pendapatan iklan membuat emiten media cukup berkelanjutan. Mengingat, iklan dari para pelaku industri terutama sektor FMCG dapat mendorong konsumsi rumah tangga yang pada akhirnya juga menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain itu, permintaan terhadap set top box supaya bisa terkoneksi dengan berbagai saluran televisi domestik memperlihatkan peningkatan. 

Baca Juga: Rekomendasi SMCA, BRMS, IMJS, MMLP, dan PNBN BRI dari Danareksa Sekuritas Hari Ini

"Set top box TV memiliki harga yang beragam. Alat terebut sangat dibutuhkan masyarkat untuk menikmati siaran televisi digital," ucap Nafan saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (10/11).

Secara teknikal, Nafan merekomendasikan investor untuk mengakumulasi saham SCMA. Pasalnya, Nafan melihat SCMA masih berpotensi melanjutkan kenaikan ke level Rp 260 per saham, lalu Rp 270 per saham dengan support di Rp 224 per saham.

Berdasarkan riset tanggal 1 September 2022, Analis Ciptadana Sekuritas Asia Gani memprediksi bisnis TV free to air (FTA) SCMA bakal lebih kuat di semester 2 2022. Hal ini didorong oleh meningkatnya belanja iklan dari sektor FMCG dan perusahaan rekreasi & pariwisata berbasis internet.

Penayangan sinetron baru dan kompetisi sepak bola doemestik juga aka menjadi pendukung bisnis TV FTA SCMA. 

"Sementara itu, di bisnis layanan video streaming Vidio, SCMA berencana untuk memperbesar pasar sasaran ke segmen kelas atas yang biasanya lebih berkualitas," ucap Gani. Ia merekomendasikan buy SCMA dengan target harga Rp 280 per saham.

Baca Juga: Media Citra Nusantara Menggenjot Bisnis Layanan OTT, Begini Rekomendasi Saham MNCN

Dalam riset tanggal 1 November 2022, Head of Indonesia Research & Strategy J.P. Morgan Sekuritas Indonesia Henry Wibowo mengatakan, pihaknya melihat prospek positif atas layanan video streaming SCMA, yakni Vidio. Pada kuartal III-2022, Vidio memperlihatkan momentum pertumbuhan yang berkelanjutan dengan membukukan pendapatan Rp 231 miliar.

Pendapatan tersebut naik 46% dibanding kuartal II-2022 dan meningkat 86% dibanding kuartal III tahun 2021. Hal ini menjadikan pendapatan Vidio untuk sembilan bulan pertama 2022 mencapai Rp 545 miliar atau meningkat 71% year on year (yoy).

"Pertumbuhan yang kuat ini utamanya didorong oleh penyiaran English Premier League (EPL) mulai semester 2 2022 dan deretan serial original yang kuat," kata Henry.

 

 

Belakangan ini, tersebar berita bahwa Vidio merupak layanan video streaming paling populer di Indonesia. Disney+ mempunyai pelanggan yang lebih banyak tapi kebanyakannya berasal dari kemitraan dengan Telkomsel. Sementara Vidio digunakan oleh lebih banyak orang dengan jumlah pelanggan berbayar lebih dari 3,5 juta.

Di sisi lain, Vidio yang masih dalam tahap ekspansi mencatatkan kenaikan rugi bersih menjadi Rp 212 miliar pada kuartal III-2022 dari Rp 99 miliar pada kuartal II-2022. Jika rugi bersih kuartal III-2022 disetahunkan, maka jumlahnya mencapai sekitar US$ 55 juta. 

Dengan asumsi rugi bersih tersebut dan adanya pendanaan US$ 200 juta baru-baru ini, Vidio mempunyai runway pendanaan tiga sampai empat tahun di luar kas internal SCMA.

Meskipun begitu, secara konsolidasian, SCMA mmasih menghasilkan free cash flow (FCF) sekitar US$ 100 juta setiap tahunnya dari bisnis TV FTA yang sangat menguntungkan. Dengan kerugian Vidio, SCMA masih membukukan laba bersih Rp 831 miliar pada sembilan bulan 2022 dengan margin bersih 17%.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham SRTG, ANTM dan SCMA untuk Jumat (28/10)

Hal ini didukung oleh pendapatan yang mencapai Rp 4,95 triliun sepanjang Januari-September 2022 atau meningkat 13% yoy. Jumlah laba bersih dan pendapatan tersebut masing-masing setara 67% dan 76% dari proyeksi J.P. Morgan untuk setahun penuh 2022.

Henry menetapkan rating overweight untuk SCMA dengan target harga Rp 360 per saham sampai dengan Desember 2022. 

Rating positif ini sejalan dengan unlock value dari aset media digital terutama Vidio.com dalam rangka menunggangi kue iklan digital yang berkembang pesat, unlock value dari bisnis konten melalui IEG (Sinemart, Skenario) untuk mendiversifikasi aliran pendapatan ke pihak ketiga non-TV, dan pemulihan belanja iklan seiring dengan pembukaan kembali ekonomi setelah pandemi Covid-19.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli

Terbaru