Emiten

Chandra Asri (TPIA) bakal terbitkan obligasi Rp 1 triliun, begini kata analis

Selasa, 30 Maret 2021 | 20:33 WIB   Reporter: Ika Puspitasari
Chandra Asri (TPIA) bakal terbitkan obligasi Rp 1 triliun, begini kata analis

ILUSTRASI. Pabrik Chandra Asri Petrochemical (TPIA)

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) bakal menerbitkan dan melakukan penawaran umum obligasi berkelanjutan III Chandara Asri Petrochemical dengan jumlah sebanyak-banyaknya Rp 1 triliun pada April 2021 mendatang.

Dalam keterbukaan informasi KSEI, obligasi ini akan ditawarkan dalam tiga seri. Pertama seri A senilai Rp 50 miliar dengan bunga 7,80% yang akan jatuh tempo dalam 3 tahun mendatang tepatnya 15 April 2024.

Kemudian seri B senilai Rp 587,95 miliar dengan bunga 8,50% dan jatuh tempo pada 5 tahun mendatang atau 15 April 2026.

Selanjutnya seri C senilai Rp 362,05 miliar dengan bunga 9,00% dan akan jatuh tempo dalam 7 tahun mendatang pada 15 April 2028. Frekuensi pembayaran setiap tiga bulan.

Baca Juga: Masih ada 13 emiten bakal rights issue, simak saran analis berikut

Sebagai informasi, penawaran umum berkelanjutan III ini masih menyisakan plafon sebesar Rp 3,4 triliun dari total target emisi Rp 5 triliun. PUB III memiliki periode penerbitan selama 2020-2022.

Hingga November, Chandra Asri telah trcatat telah tiga kali menggelar penawaran obligasi. Anak usaha Barito Pasific ini telah meraih dana Rp 750 miliar melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) II tahap III pada Februari.

Kemudian, perseroan mengantongi dana Rp 1,6 triliun melalui PUB III tahap I dan II. Penerbitan surat utang tersebut masing-masing diselesaikan pada Agustus dan Oktober.

Analis Binaartha Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama menilai, dengan menerbitkan obligasi sebesar Rp 1 triliun ini maka akan meningkatkan debt to equity ratio (DER) atau rasio utang dibandingkan total ekuitas.

Meski demikian, Nafan melihat DER TPIA masih tergolong rendah dan masih terbilang aman. Saat ini DER TPIA berada di 98,65%.

 

 

Menurut laporan keuangan tahun 2020, jumlah liabilitas tercatat US$ 1,78 miliar atau naik dari tahun 2019 sebesar US$ 1,69 miliar. Sementara total aset sebesar US$ 3,59 miliar atau naik dari tahun 2019 sebanyak US$ 3,45 miliar.

Sukarno Alatas, Analis Kiwoom Sekuritas mengatakan, dengan tambahan utang baru tersebut nantinya rasio DER TPIA menjadi 102% dari sebelumnya 98%.

“Terkait posisi neraca, porsi total hutang bisa meningkat menjadi 51% dari 50% dengan asumsi dirupiahkan dengan kurs tahun lalu. Untuk saat ini kondisi likuiditasnya masih aman, karena dilihat dari rasio lancarnya juga masih di atas 1x,” terang Sukarno.

Sukarno melanjutkan, penerbitan obligasi ini dapat memberikan dampak yang positif untuk kegiatan ekspansi TPIA. Ia memandang secara prospek bisnis TPIA masih sangat menarik ke depannya didukung dengan permintaan yang kuat untuk produk petrokimia. Terlebih, TPIA juga memiliki basis klien yang terdiversifikasi.

Baca Juga: Chandra Asri Petrochemical akan terbitkan obligasi Rp 1 triliun, berikut jadwalnya

Jika dilihat dari laporan keuangannya, sampai akhir tahun lalu penjualan TPIA masih didominasi oleh pasar lokal sebesar US$ 1,30 miliar dan penjualan ke luar negeri US$ 496,31 juta. Sementara penjualan dari kontrak pada pelanggan menyumbang US$ 1,79 miliar.

Secara valuasi saham, Sukarno menerangkan saat ini saham TPIA sudah tergolong mahal jika dilihat dari historical nilai price to book value (PBV) karena sudah berada di standar deviasi +2. PBV TPIA berada di 7,89 kali dengan PER 277 kali. Namun, ia bilang tidak menutup kemungkinan bisa menguat meskipun dinilai mahal.

Oleh karena itu, Sukarno menyarankan pelaku pasar untuk menerapkan strategi jangka pendek terdekat bisa dengan test di Rp 11.350, jika berhasil breakout bisa trading buy dengan target selanjutnya di Rp 12.000.

Sedangkan Nafan menyarankan hold saham TPIA dengan target harga Rp 11.800 per saham. Pada penutupan perdagangan Selasa (30/3) saham TPIA menguat 2,73% ke harga Rp 11.275 per saham.

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Yudho Winarto
Terbaru