Dividen UNTR Rp 1.096 per Saham, Tapi Kinerja Loyo, Pilih Beli / Ambil Untung?

Jumat, 17 April 2026 | 06:20 WIB
Dividen UNTR Rp 1.096 per Saham, Tapi Kinerja Loyo, Pilih Beli / Ambil Untung?

ILUSTRASI. Dividen UNTR Rp 1.096 per Saham, Tapi Kinerja Loyo, Pilih Beli / Ambil Untung?


Reporter: Dimas Andi  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) kembali menarik perhatian investor setelah mengumumkan pembagian dividen jumbo. Emiten blue chip ini akan membagikan dividen final sebesar Rp 1.096 per saham.

Di tengah kabar tersebut, harga saham UNTR juga menunjukkan tren positif. Lantas, apakah saham ini masih layak dikoleksi atau justru sudah waktunya taking profit?

Sebagai saham blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI), UNTR dikenal memiliki fundamental kuat, kapitalisasi pasar besar, serta likuiditas tinggi. Saham ini juga merupakan bagian dari indeks LQ45 yang berisi emiten-emiten unggulan.

UNTR menetapkan total dividen tunai sebesar Rp 1.663 per saham atau setara Rp 5,92 triliun dari laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp 14,8 triliun.

Jumlah tersebut sudah termasuk dividen interim Rp 567 per saham yang telah dibagikan pada Oktober 2025. Dengan demikian, investor akan menerima sisa dividen final sebesar Rp 1.096 per saham.

Seiring pengumuman tersebut, harga saham UNTR pada Kamis (16/4/2026) ditutup di level Rp 31.475 per saham. Secara year to date (ytd), saham ini telah naik 4,57% dan melonjak 41,62% dalam setahun terakhir.

Namun, di balik kinerja saham yang menguat, performa operasional UNTR justru menunjukkan pelemahan pada awal 2026.

Baca Juga: Yield Dividen LPPF 12,9%, Investor Dapat Rp 25.000 per Lot, Catat Tanggal pembayaran!

Penjualan alat berat Komatsu turun 10,50% YoY menjadi 869 unit pada Januari-Februari 2026. Produksi batubara oleh PT Pamapersada Nusantara juga turun 6,85% YoY menjadi 20,4 juta ton.

Selain itu, volume overburden removal terkoreksi 7,49% YoY menjadi 156,9 juta bcm. Penjualan batubara melalui PT Tuah Turangga Agung juga melemah 2,81% YoY menjadi 2,77 juta ton.

Dari lini emas, penjualan hanya mencapai 2.000 ounce, jauh di bawah periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 38.000 ounce.

Di sisi lain, segmen nikel menjadi penopang dengan pertumbuhan 30,37% YoY menjadi 455.000 ton.

Presiden Direktur UNTR Iwan Hadiantoro menyebut, tantangan utama berasal dari keterlambatan persetujuan RKAB 2026 yang berdampak pada aktivitas produksi dan permintaan alat berat.

Selain itu, persaingan dengan produk alat berat asal China juga semakin ketat.

Tonton: KEMLU RI TANGGAPI PELANGGARAN UDARA PESAWAT MILITER AS

Untuk menghadapi kondisi ini, UNTR mengadopsi strategi defensif dengan fokus pada penguatan fundamental bisnis dan diversifikasi portofolio ke sektor mineral dan energi.

Salah satu katalis positif adalah rencana beroperasinya kembali Tambang Emas Martabe pada pertengahan 2026 dengan target produksi 60.000 ounce.

UNTR juga memperkuat ekspansi melalui akuisisi Tambang Emas Doup yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.

Dari sisi analis, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menilai UNTR tetap menarik berkat arus kas kuat dan konsistensi dividen.

Namun, dalam jangka pendek investor perlu mencermati risiko perlambatan kinerja akibat kendala operasional.

Wafi merekomendasikan hold saham UNTR dengan target harga Rp 28.000 per saham.

Kesimpulannya, saham UNTR masih menarik untuk investor jangka panjang berkat dividen besar dan strategi diversifikasi. Namun untuk jangka pendek, investor bisa mempertimbangkan taking profit seiring kenaikan harga yang signifikan.


 

Harga BBM Tidak Naik Selama-lamanya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru