Emiten rokok diproyeksikan kian tertekan seiring naiknya target penerimaan cukai 2022

Senin, 29 November 2021 | 21:18 WIB   Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Emiten rokok diproyeksikan kian tertekan seiring naiknya target penerimaan cukai 2022

ILUSTRASI. Pengenaan pungutan pajak tambahan untuk rokok akan tetap berada di level double digit.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah berencana mengerek penerimaan negara. Salah satunya, dengan kenaikan tarif cukai rokok pada tahun 2022.

Pengenaan pungutan pajak tambahan untuk rokok akan tetap berada di level double digit. Kenaikan dua digit ini seiring dengan target penerimaan cukai rokok di APBN tahun depan sebesar Rp 193 triliun atau naik 11,56% dibandingkan tahun ini sebesar Rp 173 triliun.

Sekadar mengingatkan, di tahun 2021, pemerintah mematok target penerimaan cukai rokok sebesar Rp 173,78 triliun, naik 5,35% dari target tahun 2020 senilai Rp 164,94 triliun. Artinya, dengan rerata kenaikan tarif CHT 2021 sebesar 12,5%, pemerintah menargetkan kenaikan penerimaan cukai rokok sebesar Rp 8,84 triliun pada tahun ini.

Nah, untuk mencapai kenaikan penerimaan cukai rokok tahun depan, hitungan Kontan.co.id, setidaknya tarif cukai yang dibanderol sebesar 25%. Proyeksi kenaikan tarif CHT itu pun sebetulnya hanya menyumbang kenaikan Rp 17,68 triliun, dengan mengkalkulasi besaran tarif CHT tahun ini terhadap kenaikan penerimaan cukai 2021.

Baca Juga: DJKN: PNBP dari pengelolaan BMN telah mencapai Rp 801,6 miliar hingga Oktober 2021

Adapun pada 2020 dengan rerata kenaikan tarif CHT sebesar 23%, target penerimaan cukai rokok pada awal 2020 sebelum pandemi Covid-19 dibanderol Rp 173,15 triliun. Dus, dengan besaran rerata kenaikan tarif CHT tahun lalu, ada kenaikan penerimaan cukai senilai Rp 14,45 triliun dari target tahun 2019 sebesar Rp 158,8 triliun.

Analis Sucor Sekuritas menilai, sebetulnya jika masih pada kisaran 11%-12% masih cukup baik. Hanya saja, jika di atas itu ada potensi tekanan margin untuk emiten rokok pada tahun 2022.

"Karena mereka akan berpotensi mengalami kesulitan dalam pass on the excise tax," ujar dia kepada Kontan.co.id, Senin (29/11).

Kendati begitu, dia masih melihat secara optimis bahwa masih ada ruang untuk tumbuh. Hal itu berdasarkan daya beli sedang tumbuh, sehingga ada potensi konsumsi rokok meningkat di tahun 2022 dan membantu kinerja dari emiten rokok.

Baca Juga: Faktor tenaga kerja perlu diperhitungkan dalam penentuan kebijakan tarif CHT

Editor: Wahyu T.Rahmawati
Terbaru