ETF masih jadi salah satu pilihan portofolio menarik di tahun ini

Senin, 01 Maret 2021 | 07:35 WIB   Reporter: Hikma Dirgantara
ETF masih jadi salah satu pilihan portofolio menarik di tahun ini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Reksadana Exchange Traded Fund (ETF) masih jadi salah satu pilihan portofolio menarik di tahun ini. Secara historis, reksadana ETF juga mampu mengungguli kinerja indeks sehingga imbal hasil yang diterima bisa lebih optimal.

Dari segi industri, reksadana ETF juga terus mengalami tren positif, baik dari segi produk maupun pertumbuhan dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM). Sepanjang 2020, tercatat terdapat 9 produk bara reksadana ETF. Sehingga kini terdapat 47 produk reksadana ETF. Namun, sepanjang tahun ini, belum ada produk reksadana ETF terbaru yang diluncurkan.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, walaupun belum ada produk baru yang diluncurkan tahun ini, bukan berarti reksadana ETF tidak tumbuh. Ia bilang, pertumbuhan reksadana bukan dilihat dari reksadana baru, namun pertumbuhan dana kelolaan jenis reksadana tersebut.

“Sejauh ini kan AUM reksadana ETF masih tumbuh. Jadi artinya, investor masih melakukan subscribe dan minat untuk ETF masih tetap bagus. Produk baru tidak selamanya menentukan pertumbuhan suatu industri,” kata Wawan kepada Kontan.co.id, Jumat (26/2).

Sebagai informasi, per Januari 2021 jumlah dana kelolaan reksadana ETF telah sebesar Rp 15,1 triliun. Jumlah ini naik sekitar 6,28% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Baca Juga: Berpotensi tumbuh double digit, penurunan harga ETF jadi peluang masuk

Senada, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menyebut, peluncuran produk baru kerapkali tergantung sesuai dengan kebutuhan Manajer Investasi (MI). 

"Jika MI merasa sudah punya produk yang lengkap, maka tidak akan terbitkan lagi. Sementara bagi MI yang belum punya, bisa jadi menunggu momen maupun indeks baru yang dianggap menarik untuk dijadikan underlying," imbuh Rudiyanto.

Rudiyanto mengatakan, saat ini peminat ETF masih didominasi oleh kalangan institusi. Hal ini disebabkan sifat ETF yang harus dibeli lewat sekuritas dan punya nilai minimal transaksi yang lumayan besar. Ia melihat, investor ritel cenderung masuk ke reksadana indeks ketimbang ETF.

Wawan juga tak menampik bahwasanya ETF cenderung diisi oleh investor institusi. Walau begitu, secara minat, ia menyebut semakin banyak institusi yang semakin melirik reksadana ini. Hanya saja, pertumbuhan minat baru sebatas di pasar primer ketimbang sekunder.

Menurutnya, salah satu faktor yang membuat ETF dilirik adalah kinerjanya yang apik dalam beberapa waktu ke belakang. Bahkan, ETF mampu ourperform kinerja rata-rata reksadana saham. "Namun setahun terakhir memang kinerjanya kalah dibandingkan rata-rata reksadana saham. Tahun lalu dan tahun ini adalah fase recovery, jadi (kinerja reksadana saham) memang cepat sekali pertumbuhannya," jelasnya.

Untuk tahun ini sendiri, Wawan memperkirakan kinerja ETF masih akan searah dengan kinerja indeks. Ia memproyeksikan pertumbuhan indeks bisa mencapai 10-15%. Pasalnya, tahun ini banyak ekspektasi positif untuk pasar saham. Seperti, pemulihan ekonomi, vaksinasi, hingga pembangunan infrastruktur.

Rudiyanto menambahkan, sentimen seperti tren suku bunga rendah, implementasi omnibus law, hingga harga komoditas yang membaik turut menjadi katalis positif. "Oleh karena itu, IHSG masih akan tumbuh ke level 6.700 pada akhir tahun nanti. Sehingga pergerakan indeks lain juga akan searah dan masih ada upside untuk ETF," pungkas Rudiyanto.

Selanjutnya: Dana kelolaan industri reksadana turun di awal tahun 2021

 

Editor: Handoyo .
Terbaru