Harga saham emiten farmasi turun di tengah sentimen positif, ini kata analis

Jumat, 16 Juli 2021 | 21:35 WIB   Reporter: Kenia Intan
Harga saham emiten farmasi turun di tengah sentimen positif, ini kata analis

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Melonjaknya kasus positif Covid-19 di Indonesia memicu peningkatan permintaan yang signifikan terhadap produk-produk yang berkaitan dengan pandemi. Salah satunya, obat-obat pendukung penangan Covid-19.

Sempat beredar kabar, tingginya permintaan itu mengakibatkan kelangkaan obat-obat pendukung penanganan Covid-19.

Walau obat-obatan berkaitan dengan Covid-19 banyak dibutuhkan dan dicari, Analis Erdhika Elit Sekuritas Regina Fawziah mencermati, hal itu tidak akan menjadi sentimen signifikan ke pergerakan harga saham-saham farmasi. 

"Beberapa emiten farmasi tengah berusaha menjaga bahan baku dan kapasitas produksi dapat mencukupi untuk kebutuhan saat ini," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (16/7).

Baca Juga: BTN bidik penyaluran kredit dan layanan payroll di PT Indofarma Tbk

Di sisi lain, adanya kemungkinan pengaturan distribusi obat-obatan pendukung tersebut dapat menstabilkan kondisi permintaan dan penawaran. Oleh karenanya, harga tidak melambung tinggi di tengah permintaan yang mengalami peningkatan. 

Sepengamatan Regina, sentimen yang berpengaruh terhadap pergerakan harga saham-saham farmasi cenderung sama sejak tahun lalu hingga saat ini, yakni pengadaan dan program vaksinasi Covid-19.

"Bedanya mungkin pada periode kuartal III ini lonjakan kasus kembali terjadi di domestik, sehingga permintaan akan obat-obatan dan pelayanan kesehatan cenderung lebih tinggi," imbuhnya. 

Kendati diwarnai sentimen positif berupa tingginya permintaan masyarakat, investor perlu mewaspadai pergerakan saham-saham farmasi yang terlihat menurun sepanjang tahun 2021 ini. 

Baca Juga: BPOM bantah terbitkan izin penggunaan darurat Ivermectin untuk obat Covid-19

Menurut catatan Kontan.co.id, secara year to date (ytd) mayoritas saham farmasi di bursa bergerak menurun antara 1,22% hingga 29,5%.  Adapun penurunan paling dalam itu dialami oleh PT Phapros Tbk (PEHA) menjadi Rp 1.195 per saham. 

Setelahnya ada PT Indofarma Tbk (INAF) yang tertekan 20,8% ytd menjadi Rp 3.190 per saham dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) yang menurun hingga 19,76% ytd menjadi Rp 3.410 per saham. 

"Hal ini dikarenakan pada tahun lalu saham-saham farmasi ini sempat meningkat cukup signifikan hingga ratusan persen dengan kisaran 50%-400% seperti INAF, KAEF, KLBF dan PEHA," katanya.

Oleh karena itu, menurutnya wajar apabila pergerakan saham pada periode ini cenderung tertekan. Melihat tren saham  farmasi seperti KLBF dan PEHA, Regina mencermati pergerakannya dalam jangka pendek hingga menengah cenderung sideways.

Sementara dari sisi volume masih relatif sepi. Berdasarkan MA 200 garisnya berada di atas candle. Sehingga, belum ada potensi teknikal rebound secara jangka panjang untuk saham-saham farmasi ini. 

Baca Juga: Permintaan obat dan multivitamin naik, emiten farmasi BUMN jaga pasokan bahan baku

Sementara, emiten farmasi plat merah INAF dan KAEF berpotensi bergerak konsolidasi. INAF bergerak dengan support 3.090 dan resistance 3.380 - 3.450. Adapun KAEF bergerak dengan support 3.265 dan resistance 3.615 - 3.630.

Akan tetapi perlu diperhatikan juga, tren dari KAEF dan INAF berdasarkan indikator RSI cenderung sideways.

"Untuk strateginya, apabila investor ingin membeli saham-saham farmasi saat ini lebih baik untuk trading harian atau jangka pendek terlebih dahulu saja, karena secara tren jangka panjang belum ada tanda-tanda akan kembali meningkat," tutupnya. 

Sekadar informasi, seperti hanya PEHA, INAF, dan PT Kalbe Farma Tbk (KAEF) harga saham KLBF juga melorot sejak awal tahun ini. KLBF tertekan 6,08% menjadi Rp 1.390 per saham. 

Selanjutnya: Permintaan obat dan multivitamin naik, emiten farmasi BUMN jaga pasokan bahan baku

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Noverius Laoli
Terbaru