Hingga Mei, Volume Penjualan Semen Indocement (INTP) Capai 6 Juta Ton

Kamis, 23 Juni 2022 | 04:45 WIB   Reporter: Akhmad Suryahadi
Hingga Mei, Volume Penjualan Semen Indocement (INTP) Capai 6 Juta Ton


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatatkan realisasi penjualan semen di  periode Mei 2022 sebesar 1 juta ton. Jumlah ini kurang lebih sama dengan pencapaian penjualan di periode yang sama tahun lalu.

Hanya saja, jika diakumulasikan sejak awal tahun sampai Mei 2022, total volume penjualan INTP mengalami penurunan. INTP tercatat menjual hampir 6 juta ton semen. Angka ini lebih rendah 3,22% dari pencapaian penjualan di periode yang sama tahun lalu  yang mencapai 6.2 juta ton.

“Penyebab penurunan volume ini terutama diakibatkan oleh adanya kenaikan harga jual yang kami lakukan secara bertahap,” terang Antonius Marcos, Sekretaris Perusahaan Indocement kepada Kontan.co.id, Rabu (22/6). 

Marcos melanjutkan, kenaikan harga jual ini sebagai konsekuensi dari kenaikan ongkos produksi, terutama akibat kenaikan biaya energi.

Baca Juga: Nusatama Berkah (NTBK) Kantongi Kontrak Rp 90 Miliar Hingga Mei 2022

INTP dan industri semen memang sedang menghadapi kenaikan harga batubara. Batubara memegang peranan penting bagi industri semen karena berperan sebagai bahan bakar utama.

Terkait batubara, sampai dengan saat ini Indocement masih terus bernegosiasi dengan para vendor batubara untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan kebijakan domestic market obligation (DMO).

“Kami berharap pihak pemerintah terus melakukan pengawasan untuk memastikan semua pihak mendapatkan perlakukan yang sama dari harga DMO batubara ini,” pungkas Marcos.

Sebagai gambaran, sepanjang tiga bulan pertama 2022, emiten produsen semen merk Tiga Roda ini membukukan laba bersih senilai Rp 182,55 miliar.

Jumlah ini menyusut 48,04% dibandingkan dengan laba bersih di periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 351,58 miliar. Alhasil, laba per saham dasar INTP menyusut menjadi Rp 51,59  dari sebelumnya Rp 95,43.

Baca Juga: Ada Crossing Rp 8,72 Triliun, Axiata dan EXCL Resmi Jadi Pemilik Link Net (LINK)

Meski demikian, INTP berhasil meningkatkan kinerja top line-nya. INTP membukukan pendapatan senilai Rp 3,55 triliun sepanjang kuartal pertama 2022. Realisasi ini masih naik 3,4% dari pendapatan periode yang sama tahun lalu.

Marcos mengatakan, penurunan laba bersih INTP dikarenakan adanya kenaikan biaya energi yang sangat signifikan. Ini akibat harga batubara yang melonjak hampir 3 kali lipat. Adapun biaya energi mewakili sekitar 40% dari total biaya produksi semen, sehingga kenaikan harga beli batubara tentunya mengakibatkan kenaikan yang signifikan ongkos produksi semen INTP. 

Adapun sampai akhir Maret 2022, konstituen Indeks Kompas100 ini belum mendapatkan sama sekali alokasi harga beli batubara sesuai harga DMO yang dipasang di harga US$ 90 per ton.

Per kuartal pertama 2022, INTP telah  merealisasikan belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar Rp  500 miliar. Angka ini mewakili 32% dari capex yang telah dianggarkan.

Laba bersih INTP yang menurun hingga 48% berada di bawah ekspektasi yang dipasang Analis Ciptadana Sekuritas Michael Filbery. Capaian bottomline INTP per kuartal pertama 2022 hanya mewakili 9,9% dari target tahun 2022 yang dipasang.

Realisasi yang di bawah ekspektasi ini membuat Ciptadana Sekuritas memangkas perkiraan laba bersih INTP untuk tahun ini dan tahun depan, masing-masing sebesar 15,4% dan 11,6%. Michael memperkirakan biaya tunai yang lebih tinggi akan menekan profitabilitas INTP sepanjang tahun ini. 

Dus, tahun ini INTP diperkirakan membukukan laba bersih senilai Rp 1,56 triliun dan di tahun depan menjadi Rp 2,06 triliun.

Proyeksi rata-rata harga batubara yang lebih tinggi tahun ini, yakni US$ 180 per ton mendorong Ciptadana Sekuritas untuk meningkatkan pertumbuhan biaya bahan bakar per ton menjadi 7,3% secara year-on-year (YoY).

Pada akhirnya, Ciptadana Sekuritas memangkas target harga INTP dari semula Rp 12.500 menjadi Rp 9.600 per saham, dengan rekomendasi yang juga diturunkan dari semula beli menjadi hold.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru