TARGET KINERJA EMITEN - JAKARTA. PT Petrosea Tbk (PTRO) tampak mengalami penurunan kinerja keuangan hingga kuartal III-2020. Kendati begitu, emiten jasa pertambangan ini masih memiliki peluang untuk memperbaiki kinerjanya di sisa tahun ini maupun di tahun depan.
Sebagai informasi, pendapatan PTRO terkoreksi 34,01% (yoy) menjadi US$ 249,93 juta hingga kuartal III-2020. Mayoritas pendapatan PTRO pada saat itu berasal dari bisnis pertambangan senilai US$ 151,73 juta.
Kemudian disusul oleh pendapatan dari jasa sebesar US$ 47,30 juta, pendapatan rekayasa dan konstruksi sebesar US$ 46,53 juta, dan pendapatan lain-lain sebesar US$ 4,37 juta. Selain itu, laba bersih PTRO juga ikut turun 36,1% (yoy) menjadi US$ 13,16 juta per akhir kuartal III-2020.
Baca Juga: Modal pembelian Lo Kheng Hong di saham PTRO sudah nol rupiah
Direktur Petrosea Romi Novan Indrawan mengatakan, penurunan pendapatan PTRO lebih disebabkan adanya permintaan dari sejumlah klien, seperti Kideco Jaya Agung, Indonesia Pratama, ataupun Binuang Mitra Bersama, untuk mengurangi volume produksi batubara.
Dia juga menyebut, hingga kuartal III-2020, PTRO telah merealisasikan volume pengupasan lapisan tanah penutup atau overburden removal (OB) sebesar 68,8 juta bank cubic meter (bcm) serta volume produksi batubara sebesar 19,1 juta ton.
Jumlah tersebut dinilai masih dalam jalur yang tepat untuk mencapai target PTRO di akhir tahun ini, yakni 118 juta bcm untuk volume OB dan 31 juta ton untuk volume batubara.
Novan meyakini, pihaknya sudah bisa memitigasi tantangan pandemi Covid-19 dengan lebih baik sehingga volume OB dan produksi batu bara PTRO dipercaya akan meningkat di periode-periode berikutnya.
Ditambah lagi, harga batubara global sudah mulai pulih secara perlahan seiring perbaikan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Kombinasi demikian dinilai dapat mendongkrak kinerja keuangan PTRO terutama pada tahun depan.
“Kami indikasikan volume OB perusahaan tumbuh 20% di tahun 2021 nanti,” ujar dia dalam paparan publik virtual, Selasa (15/12).
Di kesempatan yang sama, Presiden Direktur Petrosea Hanifa Indradjaya menambahkan, kinerja keuangan PTRO memang tertekan bila hanya melihat secara absolut berupa pendapatan dan laba. Kondisi tersebut sangat sulit dihindari oleh setiap perusahaan yang memiliki jangkauan bisnis yang besar, seperti PTRO, terutama di masa pandemi Covid-19.
Baca Juga: Pasar batubara tertekan, begini kinerja operasional Indika Energy di semester I
Lagi pula, PTRO masih sanggup menjaga marjin keuntungan dengan baik. Hanifa menyebut, marjin laba kotor PTRO mampu meningkat dari 15% per kuartal III-2019 menjadi 19% per kuartal III-2020. “Dengan kondisi seperti ini kami tetap dapat meningkatkan marjin,” ucapnya.
Walau belum menjelaskan proyeksi pendapatan dan laba bersih secara rinci, Hanifa menyebut bahwa bisnis PTRO selalu dipandu oleh strategi 3D yakni diversifikasi, digitalisasi, dan dekarbonisasi. Poin-poin dalam strategi tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Implementasi strategi ini pun akan berdampak pada kinerja PTRO di masa depan.
“Ekspansi kami ke depan juga lebih ke arah implementasi strategi 3D tadi. Artinya bukan sekadar untuk meningkatkan kapasitas atau menambah kontrak baru semata,” pungkas dia.
Selanjutnya: Petrosea (PTRO) siapkan capex sekitar US$ 100 juta di tahun depan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News