Jadi top picks di sektor tambang logam, ini rekomendasi analis untuk saham ANTM

Rabu, 15 September 2021 | 06:10 WIB   Reporter: Akhmad Suryahadi
Jadi top picks di sektor tambang logam, ini rekomendasi analis untuk saham ANTM

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Saham emiten penambang komoditas mineral masih atraktif di tengah kenaikan harga komoditas. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Juan Harahap menyematkan rating overweight terhadap sektor pertambangan logam.

Juan meyakini, permintaan komoditas logam khususnya nikel masih menjanjikan di masa depan. Setidaknya, ada tiga faktor yang mendorong tumbuhnya permintaan nikel.

Pertama, solidnya permintaan di industri baja nirkarat mentah. Kedua, lambatnya pemulihan produksi nikel pada tahun ini. Ketiga, potensi permintaan yang besar dari segmen kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memiliki eksposur yang tinggi terhadap industri nikel. Pada kuartal I 2021, sebanyak 23% pendapatan ANTM disumbang oleh nikel.

Baca Juga: Asing banyak melepas saham-saham ini saat IHSG menguat 0,67%

Di sisi lain, seluruh pendapatan INCO berasal dari nikel matte. Meski segmen emas ANTM saat ini menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan kontribusi 72%, Juan mengatakan segmen nikel memiliki margin yang lebih tinggi di antara lini bisnis lainnya termasuk segmen emas.

Lebih lanjut, ANTM dan INCO akan diuntungkan dari adanya proyek industri kendaraan listrik. Hal ini mengingat ANTM sebagai salah satu pemegang saham di holding Indonesia Battery Corporation (IBC). Kemudian, salah satu dari dua fasilitas pengolahan nikel akan dibangun di konsesi milik ANTM di Maluku Utara.

 

 

Sementara itu, INCO memproduksi nikel matte yang merupakan salah satu bahan baku baterai kendaraan listtik. INCO juga saat ini sedang dalam proses pembangunan High Pressure Acid Leach (HPAL) di Pomalaa dimana smelter ini akan memproduksi mix sulphide precipitate (MSP) yang merupakan bahan baku baterai listrik.

Mirae Asset Sekuritas menjadikan ANTM sebagai saham pilihan utama (top picks) di sektor tambang logam. Hal ini mengingat margin pada segmen emas yang lebih tinggi seiring tingginya porsi penjualan domestik. Kedua, potensi adanya tambahan pendapatan dari proyek smelter Halmahera. Ketiga, ANTM memiliki lebih banyak eksposur terhadap proyek  holding baterai lsitrik.

Baca Juga: Harga melesat, begini dampaknya terhadap industri nikel di dalam negeri

Juan merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga Rp 3.250 dan beli saham INCO dengan target harga Rp 6.400.

Analis MNC Sekuritas Catherina Vincentia juga mempertahankan outlook overweight untuk sektor pertambangan logam. MNC Sekurutas menjadikan saham ANTM sebagai top picks karena kinerja ANTM pada kuartal I-2021 telah mengungguli estimasi sebesar 27%. Catherina meyakini, kenaikan pada harga jual rata-rata atau average selling price(ASP) nikel dan naiknya volume penjualan emas dapat meningkatkan kinerja topline dan bottomline ANTM masing-masing sebesar 6% dan 137% secara YoY.

“Sementara kami melihat bahwa PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) masih akan  struggling karena adanya insiden tambang,” terang Catherina.  

Sebagai gambaran, kinerja MDKA mengalami tekanan sepanjang semester I-2021. Pada enam bulan pertama 2021, MDKA membukukan pendapatan senilai US$ 135,417 juta, menurun 31,8% dari pendapatan di semester I-2020 yang mencapai US$ 198,81 juta.

Alhasil, konstituen Indeks Kompas100 ini membukukan laba bersih senilai US$ 5,86 juta, merosot 84,66% dari realisasi laba bersih MDKA di periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 38,26 juta. Penurunan kinerja MDKA seiring dengan menurunnya penjualan emas sepanjang semester I-2021. Penurunan ini masih dikarenakan insiden heap leach pada tambang.

Baca Juga: Pefindo menegaskan peringkat utang Aneka Tambang (ANTM)

MNC Sekuritas merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga Rp 3.100, beli saham INCO dengan target harga Rp 7.150, dan beli saham MDKA dengan target harga Rp 3.300.

Sementara itu, dalam riset yang dipublikasikan Rabu (31/8), analis BRIDanareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mempertahankan rekomendasi hold saham PT Timah Tbk (TINS) dengan target harga Rp 1.700. rekomendasi ini diambil dengan menimbang kenaikan saham TINS terhadap target harga yang dipasang cukup terbatas.

 

 

Stefanus menilai, solidnya harga timah olahan akan membantu perusahaan pelat merah ini untuk mempertahankan labanya di kuartal mendatang. Potensi kenaikan saham TINS utamanya berasal dari kenaikan pada harga timah olahan dan volume produksi yang lebih baik dari perkiraan.

Selanjutnya: Harga melesat, begini dampaknya terhadap industri nikel di dalam negeri

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Noverius Laoli
Terbaru