Kasus Covid-19 Naik Lagi, Saham Emiten Farmasi Ikut Terkerek?

Senin, 27 Juni 2022 | 06:20 WIB   Reporter: Kenia Intan
Kasus Covid-19 Naik Lagi, Saham Emiten Farmasi Ikut Terkerek?


KONTAN.CO.ID -   JAKARTA. Setelah mereda, kasus Covid-19 kembali meningkat di Indonesia belakangan ini. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo menyebut kasus Covid-19 yang naik lagi memang berpotensi mendongkrak saham-saham farmasi meski tidak begitu signifikan.

Saat ini, saham-saham farmasi cenderung bergerak sideways. Ini mengindikasikan saham-saham farmasi tidak begitu terdampak dengan katalis kenaikan kasus Covid-19 yang terjadi di Indonesia beberapa waktu terakhir.

Ke depannya, pelaku pasar juga belum melihat sentimen positif yang akan mengerek pergerakan saham-saham farmasi secara signifikan.

"Terlebih kenaikan pada harga komoditas, serta melemahnya rupiah bisa menjadi sentimen negatif dimana hal ini bisa meningkatkan beban dari saham-saham farmasi," kata Abdul kepada Kontan.co.id belum lama ini.

Baca Juga: Menguat di Akhir Pekan, Begini Proyeksi IHSG, Senin (27/6)

Sentimen tersebut diperkirakan masih akan memberatkan pergerakan saham-saham farmasi di tengah sentimen positif kenaikan Covid-19.

Berbeda, Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya menuturkan, vaksinasi dan imunitas yang tinggi memang membuat gejala yang ditimbulkan oleh varian baru tidak terlalu fatal. Kondisi ini dinilai akan lebih menguntungkan saham farmasi dibanding saham-saham lain di sektor kesehatan seperti saham rumah sakit, laboratorium, maupun alat kesehatan.

"Untuk saham farmasi kemungkinan berpotensi naik sesaat di tengah kenaikan kasus Covid-19," jelasnya kepada Kontan.co.id, Jumat (24/6).

Walau kenaikan kasus Covid-19 memang bisa mengerek pergerakannya, saham farmasi juga dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah. Ini bisa memberatkan emiten-emiten farmasi yang sebagian besar bahan bakunya masih impor.

Oleh karenanya, saham farmasi yang cenderung menggunakan bahan baku lokal seperti SIDO terlihat lebih menarik karena pelemahan rupiah relatif tidak berdampak. Di sisi lain, kenaikan kasus Covid-19 akan mendorong permintaan SIDO sebagai produsen imun booster.

Terhadap saham SIDO, Helen merekomendasikan buy dengan target harga Rp 995 per saham.

Baca Juga: Saham-saham Ini Konsisten Berkinerja Apik, Mana yang Berpotensi Melaju?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru