Rekomendasi

Saham ANTM INCO PTBA Naik Di 2026, Cek yang Prospek untuk Dibeli

Kamis, 02 April 2026 | 07:42 WIB
Saham ANTM INCO PTBA Naik Di 2026, Cek yang Prospek untuk Dibeli

ILUSTRASI. Saham ANTM INCO PTBA Naik Di 2026, Cek yang Prospek untuk Dibeli


Reporter: Dimas Andi  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Harga emiten saham pertambangan badan usaha milik negara (BUMN) hingga April 2026 bergerak di zona hijau. Di sisi lain, perusahaan anggota holding BUMN pertambangan MIND ID telah merilis laporan keuangan tahun 2025. Lalu saham tambang milik pemerintah apa yang memiliki prospek cerah untuk investasi?

Harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada akhir perdagangan 1 April 2026 ditutup di level 3.710 naik 210 poin atau 6% dibandingkan sehari sebelumnya. Sejak awal tahun 2026 atau secara year to date (ytd), harga saham ANTM meningkat 15,58%.

Pada saat bersamaan, harga saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) ditutup di level 2.980 turun 200 poin atau 6,29% dibandingkan sehari sebelumnya. Namun secara ytd harga saham PTBA naik 28,45%.

Lalu harga saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terparkir di level 5.750 naik 400 poin atau 7,48% dari sehari sebelumnya. Secara ytd harga saham INCO meningkat 8,49%.

Hasil kinerja emiten MIND ID pun dinilai mencerminkan tren pergerakan harga komoditas terkait sepanjang tahun lalu.

Baca Juga: Saham Pilihan Ini Siap Terbang Jelang Libur Wafat Yesus, Cek Daftarnya!

Salah satu emiten MIND ID yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencetak kinerja gemilang. Pendapatan ANTM meningkat 22% year on year (yoy) menjadi Rp 84,64 triliun pada 2025.

Laba bersih tahun berjalan ANTM juga melesat 106% yoy menjadi Rp 7,92 triliun.

Sepanjang 2025, segmen emas berkontribusi sekitar 79% terhadap pendapatan ANTM, di mana pendapatan perusahaan dari segmen tersebut tumbuh 15% yoy menjadi Rp 66,47 triliun.

Segmen nikel berupa produk feronikel dan bijih nikel mencatat kontribusi sebesar 18% terhadap pendapatan ANTM, yang mana pendapatan dari segmen tersebut melesat 56% yoy menjadi Rp 14,85 triliun.

Pendapatan ANTM dari segmen bauksit dan alumina juga meningkat 62% yoy menjadi Rp 2,92 triliun pada 2025, dengan kontribusi sebesar 3% dari total pendapatan perusahaan. 

“Capaian kinerja ANTM pada 2025 memperkuat posisi sebagai perusahaan pertambangan mineral terintegrasi yang berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang dan mampu berkontribusi secara berkelanjutan bagi pemegang saham, pemangku kepentingan, dan pembangunan industri nasional,” ungkap Direktur Utama Aneka Tambang Untung Budiharto dalam keterbukaan informasi, Selasa (31/3/2026) malam.

Sebaliknya, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengalami penurunan kinerja keuangan. Pendapatan PTBA terkoreksi 0,26% yoy menjadi Rp 42,65 triliun pada 2025. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk PTBA juga menyusut 42,55% yoy menjadi Rp 2,93 triliun.

Tonton: Program MBG Dirombak, Pemerintah Targetkan Bisa Hemat Rp 20 Triliun

Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan, di tengah tekanan harga batubara global sepanjang 2025, PTBA tetap mampu mempertahankan kinerja operasional yang solid.

“Perusahaan juga mencatat perbaikan profitabilitas secara kuartalan, didorong oleh optimalisasi portofolio pasar ekspor dan peningkatan efisiensi biaya," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (1/4/2026).

Dari sisi operasional, PTBA meraih kenaikan penjualan batubara 6% yoy menjadi 45,42 juta ton. Sayangnya, harga jual rata-rata batubara emiten tersebut turun 6% yoy. Untuk 2026, PTBA menargetkan volume penjualan batubara sebanyak 49,51 juta ton.

Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan kenaikan pendapatan 4,18% yoy menjadi US$ 990,19 juta pada akhir 2025. Pada periode yang sama, laba bersih tahun berjalan INCO melonjak 31,68% yoy menjadi US$ 76,06 juta.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, kinerja keuangan yang beragam dari emiten-emiten MIND ID pada dasarnya cukup merefleksikan dinamika harga komoditas global.

Ambil contoh, kenaikan signifikan pendapatan dan laba bersih ANTM tak lepas dari kuatnya harga emas dan nikel sepanjang tahun lalu serta optimalisasi volume penjualan, sehingga leverage terhadap kenaikan harga komoditas sangat terlihat pada lonjakan laba.

Di sisi lain, pelemahan laba PTBA mencerminkan normalisasi harga batubara setelah supercycle pada 2022—2023 yang disertai tekanan biaya dan kewajiban domestic market obligation (DMO).

“INCO diuntungkan oleh stabilisasi harga nikel dan efisiensi operasional,” imbuh dia, Rabu (1/4/2026).

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menambahkan, kinerja PTBA pada 2026 berpeluang pulih seiring rebound harga batubara global di tengah gejolak di Timur Tengah.

Tonton: Harga BBM Pertamina 1 April 2026 Tidak Naik, Ini Rincian Harga Pertalite, Pertamax Cs

Sebaliknya, kinerja ANTM dan INCO berpotensi ternomalisasi seiring tren bearish harga emas dan fluktuasi harga nikel. Namun, kinerja kedua emiten tersebut dapat terbantu oleh optimalisasi volume produksi dan efisiensi operasional.

Wafi juga menyebut, proyek hilirisasi akan menjadi game changer bagi emiten MIND ID secara jangka panjang yang dapat menciptakan peningkatan margin signifikan dan tahan terhadap risiko fluktuasi harga komoditas mentah.

“Pendanaan eksternal untuk hilirisasi diperlukan segera karena capex proyek smelter masif dan berisiko menekan likuiditas operasional jangka pendek,” terang dia, Rabu (1/4).

Dia melanjutkan, PTBA diyakini dapat menjadi emiten MIND ID dengan kinerja terunggul pada 2026 berkat momentum pemulihan harga batubara dan valuasi saham yang menarik.

Namun, secara umum tantangan utama bagi seluruh emiten MIND ID masih berkaitan dengan volatilitas harga komoditas global, risiko cost overrun pada penyelesaian proyek smelter, hingga tekanan kurs rupiah yang berdampak pada impor komponen.

Di lain pihak, Arinda memprediksi, ANTM dan INCO menjadi penopang kinerja bagi Grup MIND ID pada 2026 berkat eksposur komoditas nikel yang masih menjadi komoditas strategis dalam rantai pasok kendaraan listrik global. Faktor utama yang dapat menentukan kinerja emiten MIND ID antara lain dinamika harga komoditas global, efisiensi biaya, dan progres proyek hilirisasi.

Arinda menyebut saham ANTM dan INCO dapat dikoleksi investor dengan target harga masing-masing di level Rp 3.950 per saham dan Rp 8.000 per saham. 

Sementara itu, Wafi menyebut saham PTBA, ANTM, dan INCO layak dipertimbangkan oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 3.200 per saham, Rp 3.600 per saham, dan Rp 4.500 per saham.


 

AVTUR NAIK 70%! Tiket Pesawat Siap Meledak?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Video Terkait


Terbaru