Saham Bank Blue Chip Tertekan di Awal 2026, Waktunya Akumulasi atau Jual?

Selasa, 06 Januari 2026 | 06:30 WIB
Saham Bank Blue Chip Tertekan di Awal 2026, Waktunya Akumulasi atau Jual?

ILUSTRASI. Saham Bank Blue Chip Tertekan di Awal 2026, Waktunya Akumulasi atau Jual?


Reporter: Adi Wikanto  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga saham perbankan berkapitalisasi besar atau blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menunjukkan tren melemah pada awal perdagangan tahun 2026. Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor: apakah saham bank blue chip sudah layak dikoleksi, atau justru sebaiknya dilepas bagi yang sudah memiliki?

Saham blue chip dikenal sebagai saham lapis satu dengan fundamental kuat, rekam jejak panjang di pasar modal, serta kapitalisasi pasar besar. Di sektor perbankan, saham-saham ini kerap menjadi pilihan utama investor jangka panjang karena stabilitas bisnis dan potensi dividen yang konsisten.

Namun pada perdagangan Senin (5/1/2026), sejumlah saham bank besar justru masih berada di zona merah. Beberapa di antaranya adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).

Padahal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,27% ke level 8.859,19 pada hari yang sama. Perbedaan arah pergerakan ini menunjukkan tekanan spesifik yang masih membayangi sektor perbankan.

Baca Juga: Inilah Emiten Pembayar Dividen Saham yang Cum Date Pekan 1 Januari 2026

Mengacu data Stockbit, saham BBRI turun 0,27% ke level Rp3.630 per saham, sekaligus menjadi emiten dengan aksi jual bersih asing terbesar, mencapai Rp134,78 miliar. Saham BMRI juga tertekan 0,49% ke Rp5.050 dengan net sell asing sebesar Rp51,16 miliar.

Tekanan serupa terjadi pada BBNI yang turun 0,70% ke level Rp4.230 per saham, disertai aksi jual bersih asing Rp23,65 miliar. Bahkan saham bank swasta terbesar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), turut mencatatkan net sell asing Rp38,15 miliar, meskipun harga sahamnya masih mampu naik 0,62% ke Rp8.075.

Sikap hati-hati investor asing mencerminkan sentimen global yang masih cenderung risk off. Ketidakpastian arah suku bunga acuan serta dinamika ekonomi global membuat aliran dana asing ke saham perbankan besar belum kembali solid.

Baca Juga: Baru IPO Juli 2025, Saham Orang Terkaya Indonesia Ini Akan Bayar Dividen Awal 2026

Menanti Kepastian Kebijakan dan Laporan Keuangan

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menilai aksi jual asing lebih disebabkan oleh strategi menunggu kejelasan kondisi makroekonomi dan kebijakan moneter ke depan. Di sisi lain, terdapat indikasi akumulasi bertahap oleh sebagian investor menjelang musim pembagian dividen.

“Untuk jangka pendek investor asing masih cenderung risk off. Namun, untuk jangka menengah, saham bank dengan fundamental kuat tetap menarik, terutama jika outlook suku bunga mulai jelas,” ujar Indy kepada Kontan.co.id.

Ia menambahkan, kinerja keuangan kuartal IV-2025 akan menjadi katalis penting, khususnya dari sisi profitabilitas dan kualitas aset perbankan.

Tonton: Aturan Baru Menkeu, DJP Dikecualikan dari Pembatasan Jabatan

Rekomendasi Saham Perbankan

Indy merekomendasikan saham BMRI dengan target harga Rp5.500. Sementara itu, BBCA dinilai masih menarik untuk investasi jangka panjang dengan target harga Rp10.000 per saham.

Sementara itu, Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menilai pergerakan saham perbankan masih cenderung terbatas. Minimnya sentimen positif serta kekhawatiran peningkatan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) menjadi faktor penahan laju saham bank besar.

“Dalam beberapa pekan terakhir, investor asing justru lebih aktif di sektor tambang, sehingga saham perbankan sementara kurang mendapat perhatian,” jelas Ekky.

Meski begitu, peluang rotasi dana ke sektor perbankan tetap terbuka, terutama menjelang periode pembagian dividen pada akhir kuartal I. Investor disarankan tetap selektif dan menyesuaikan strategi dengan horizon investasi masing-masing.

Untuk jangka pendek, Ekky menilai saham bank digital mulai menarik dari sisi teknikal. ARTO berpotensi menguat ke area 2.200–2.400, sementara BBYB memiliki peluang menuju level 600 sebagai area resistance terdekat.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diimbau tetap mencermati perkembangan suku bunga, arus dana asing, serta kinerja keuangan emiten perbankan sebelum mengambil keputusan investasi.

Baca Juga: Harga Saham Bank Melemah Hari Pertama Tahun 2026, Apakah Koreksi Akan Berlanjut?
 

Awas! Akun Telegram Palsu Marak, Risiko Penipuan Investasi Mengintai

Selanjutnya: Kementerian ESDM: Kebocoran Pipa Gas TGI Mengganggu Produksi Migas Rokan Awal 2026

Menarik Dibaca: Intip Ramalan 12 Zodiak Keuangan dan Karier Hari Ini Selasa 6 Januari 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru