Emiten

Saham pelat merah melesat sejak awal tahun, ini pendorongnya

Senin, 18 Januari 2021 | 20:48 WIB   Reporter: Kenia Intan
Saham pelat merah melesat sejak awal tahun, ini pendorongnya

ILUSTRASI. Indeks IDX BUMN20 menguat paling signifikan dibanding indeks lainnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks IDX BUMN20 menguat paling signifikan dibanding indeks lainnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mengutip data BEI, Senin (18/1), IDX BUMN20 menguat hingga 11,03% sejak awal tahun 2021. 

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, melesatnya saham-saham BUMN sejak awal tahun 2021 didorong oleh persepsi pelaku pasar. "Artinya tidak 100% karena ada faktor fundamental," kata Reza kepada Kontan.co.id, Senin (18/1).

Sehingga, sentimen-sentimen yang mempengaruhi pergerakan harga saham saat ini sebenarnya belum terlihat dampaknya ke kinerja keuangan dan fundamental perusahaan. Reza menambahkan, kenaikan saham-saham pelat merah itu lebih banyak ditopang oleh pemberitaan.

Dia mencontohkan, kabar mengenai vaksin Covid-19 yang mampu mengerek saham-saham BUMN farmasi begitu kencang. Asal tahu saja, harga saham emiten farmasi yang menjadi konstituen IDX BUMN20, PT Kimia Farma Tbk (KAEF), melonjak hingga 24,12% ytd menjadi Rp 5.275. 

Baca Juga: Siapkan capex Rp 1,9 triliun, PT Timah (TINS) targetkan produksi di atas 50.000 ton

Selain itu ada juga sentimen lembaga pengelola investasi (LPI) atau sovereign wealth fund (SWF) yang mengerek saham-saham BUMN karya. Adapun PT Waskita Karya Tbk (WSKT) meningkat hingga 33,33% ytd menjadi Rp 1.920. Ada juga PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang menguat hingga 13,25% ytd menjadi Rp 2.250. 

Hal serupa terjadi untuk emiten perbankan yang tertopang sentimen penempatan dana dari pemerintah di bank-bank pelat merah. Sentimen ini belum terlihat langsung penerapannya serta dampaknya ke kinerja emiten-emiten perbankan.

Tidak jauh berbeda, saham pertambangan yang kini memimpin peningkatan harga di IDX BUMN20 terdorong oleh kabar mobil listrik. Sentimen ini membentuk persepsi pelaku pasar bahwa permintaan tembaga dan nikel akan meningkat. Setelah itu, dibutuhkan pabrik pengolahan yang memerlukan sumber energi batubara. Ini merupakan efek domino dari persepsi pelaku pasar. 

Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) akan memproduksi karbon aktif dari batubara

Reza menjelaskan, kenaikan harga saham karena persepsi dikhawatirkan rawan terkoreksi. Apalagi, ketika ada perkembangan kabar yang tidak sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Oleh karena itu, terhadap saham-saham BUMN yang melesat itu Reza cenderung mengambil sikap wait and see sampai ada kejelasan terkait sentimen pendorongnya.  

Dia pun cenderung mengamati saham-saham pelat merah berfundamental baik yang tercermin dari kinerja kuartal ketiga 2020. Selain itu, dia mencermati saham-saham yang penguatan harganya belum terlalu signifikan. Sehingga, ia mengunggulkan BBTN dan TLKM

Menurutnya emiten perbankan, walau kinerjanya memang tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya, tampak mulai pulih di kuartal ketiga 2020. Di sisi lain, sahamnya lebih sustain karena sektor perbankan cenderung tetap dibutuhkan masyarakat. 

Baca Juga: Ini alasan Kementerian BUMN bentuk holding pembiayaan mikro

Adapun saham telekomunikasi seperti TLKM juga masih atraktif. Apalagi di tengah kondisi seperti saat ini, kebutuhan layanan data akan meningkat. TLKM semakin menarik mengingat mayoritas pasar telekomunikasi di Indonesia dikuasi oleh emiten plat merah itu. Mempertimbangkan hak tersebut, Reza merekomendasikan buy keduanya dengan target harga Rp 2.300 untuk BBTN dan Rp 4.200 untuk TLKM

Sementara itu, bagi trader yang ingin memanfaatkan momentum kenaikan harga saham pelat merah untuk medapatkan keuntungan, Reza menyarankan untuk menetapkan harga masuk maupun keluar dari saham-saham tersebut. 

Baca Juga: Saham-saham ini terdorong katalis positif pembentukan SWF

Editor: Wahyu T.Rahmawati


Terbaru