Sejumlah proyek pembangkit EBT Terregra Asia Energy (TGRA) tersendat pandemi corona

Selasa, 29 Desember 2020 | 07:30 WIB   Reporter: Dimas Andi
Sejumlah proyek pembangkit EBT Terregra Asia Energy (TGRA) tersendat pandemi corona

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten yang bergerak di bidang energi baru terbarukan (EBT) PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA) tetap fokus mengerjakan proyek-proyek pembangkit berbasis EBT yang ada di tengah tantangan pandemi Covid-19.

Wakil Direktur Utama Terregra Asia Energy Christin Soewito menyebut, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Batang Toru 3 dan PLTM Sisira telah mendapat kepastian penandatanganan perjanjian jual-beli listrik atau power purchasing agreement (PPA).

Kedua PLTM yang berkapasitas masing-masing 10 MW dan 9,8 MW ini sedang dalam tahap konstruksi. Namun, lantaran adanya pandemi Covid-19, proyek-proyek tersebut baru bisa selesai dan masuk tahap commercial on date (COD) pada semester II-2021.

Selain itu, TGRA juga menggarap PLTM Batang Toru 4 yang berkapasitas 10 MW dan sudah tanda tangan PPA. Proyek ini akan memasuki tahap COD pada tahun 2022 mendatang.

Baca Juga: Pendapatan merosot 56,48%, rugi bersih Terregra Asia Energy (TGRA) justru mengecil

TGRA juga memiliki proyek PLTM Raisan Niaga Timbul dan PLTM Raisan Huta Dolok yang sama-sama berkapasitas 7 MW. Kedua proyek ini sudah tanda tangan PPA dan dijadwalkan COD pada tahun 2023.

Kemudian, TGRA menggarap PLTM Batang Toru 3 SMS (Exp.) yang berkapasitas 10 MW. Proyek ini sedang dalam tahap studi kelayakan dan ditargetkan COD pada tahun 2022 mendatang. Proyek PLTM Simbelin 2 juga sedang dalam tahap studi kelayakan. Pembangkit berkapasitas 7 MW ini dijadwalkan akan COD pada tahun 2024 nanti.

Tak hanya itu, TGRA juga mengerjakan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berskala besar yakni PLTA Teunom 3 (135 MW) dan PLTA Teunom 2 (240 MW) yang berada di Aceh. Kedua proyek ini rencananya akan COD masing-masing pada tahun 2024 dan 2025.

“Saat ini proyek PLTA Teunom 2 dan 3 sedang tahap studi kelayakan dan seharusnya tahun ini sudah selesai tahap tersebut,” ungkap Christin dalam paparan publik virtual, Senin (28/12).

Sekadar informasi, seluruh proyek PLTA milik TGRA berlokasi di Aceh sedangkan proyek PLTM yang digarap perusahaan tersebut berada di Sumatera Utara.

Lebih lanjut, TGRA memiliki portofolio bisnis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap yang terpasang di Waterbom Bali. Manajemen TGRA pun masih menggarap proyek PLTS di Indonesia secara business to business lantaran belum adanya kejelasan regulasi, terutama perihal tarif listrik dari pembangkit tersebut.

Sebaliknya, TGRA menggarap proyek PLTS di Australia. Salah satu proyek PLTS TGRA yang berada di Mobilong, Australia Selatan telah COD pada 12 Juli 2019. Pembangkit tersebut memiliki kapasitas sebesar 5 MW.

Kini, TGRA tengah mengerjakan empat proyek PLTS lainnya di Australia yang masing-masing berkapasitas 5 MW. Seharusnya, keempat proyek tersebut sudah memasuki masa COD pada tahun 2020 namun tersendat karena adanya pandemi Covid-19.

Seiring adanya pandemi, lembaga-lembaga keuangan internasional lebih memprioritaskan membiayai proyek-proyek yang bersifat inti atau mendesak. Alhasil, proyek-proyek PLTS TGRA di Australia mengalami kendala dari sisi pendanaan.

“Kalau proyek di Australia tidak ada kepastian financing, mungkin tidak kami lanjutkan. Kami fokuskan ke proyek-proyek yang ada di Indonesia saja,” kata Christin.

 

Selanjutnya: PLN dapat pendanaan US$ 500 juta dari Bank Dunia untuk kembangkan EBT

 

Editor: Khomarul Hidayat
Terbaru