Wall Street Loyo: Dow, S&P 500, Nasdaq Tertekan Kekhawatiran Pembatasan Covid China

Selasa, 22 November 2022 | 08:00 WIB Sumber: Reuters
Wall Street Loyo: Dow, S&P 500, Nasdaq Tertekan Kekhawatiran Pembatasan Covid China

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street tergelincir setelah tiga indeks utama ditutup koreksi melemah pada awal pekan ini. Sentimen negatif bagi bursa saham Amerika Serikat (AS) datang dari kekhawatiran bahwa China dapat melanjutkan langkah-langkah yang lebih ketat untuk memerangi Covid-19.

Senin (21/11), Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,13% menjadi 33.700,28, indeks S&P 500 melemah 0,39% ke 3.949,94 dan indeks Nasdaq Composite ambles 1,09% ke 11.024,51.

Dengan hasil ini, S&P 500 memperpanjang penurunannya dari minggu sebelumnya ketika beberapa pejabat Federal Reserve mengulangi janji bank sentral untuk menaikkan suku bunga sampai inflasi terkendali, karena investor sekarang menunggu rilis risalah dari pertemuan Fed November pada hari Rabu.

Sektor energi pada indeks S&P 500 turun hampir 3% ke level terendah dalam empat minggu karena harga minyak jatuh lebih dari 5% setelah laporan bahwa Arab Saudi dan produsen minyak OPEC lainnya sedang mendiskusikan peningkatan produksi.

Pelemahan sektor energi ini sudah berhasil ditekan jelang penutupan setelah Arab Saudi membantah pembicaraan tentang hal itu.

Baca Juga: Peningkatan Kasus Covid di China Turut Menekan Wall Street di Awal Pekan

Sebenarnya, sektor energi adalah satu-satunya sektor pada indeks utama S&P 500 yang mengincar keuntungan untuk tahun ini, setelah melonjak sekitar 63%.

Namun, tekanan bagi bursa saham Amerika Serikat (AS) tetap kuat setelah Beijing mengatakan pada hari Senin akan menutup bisnis dan sekolah di distrik yang terkena dampak parah dan memperketat aturan untuk memasuki kota, karena infeksi Covid-19 terus meningkat.

"Ada ketakutan bahwa China mungkin menerapkan kembali beberapa pembatasan COVID yang konon baru saja mereka cabut," kata Carol Schleif, Deputy Chief Investment Officer di BMO Family Office.

Saham operator kasino AS dengan bisnis di China, termasuk Wynn Resorts Ltd, Las Vegas Sands Corp, MGM Resorts International dan Melco Resorts & Entertainment Ltd semuanya turun setidaknya 2% pada sesi kali ini.

Sementara itu, pada perdagangan di awal pekan ini, volume perdagangan rendah dan kemungkinan akan terus berkurang jelang liburan Thanksgiving pada hari Kamis (24/11), membuat pasar lebih rentan terhadap volatilitas.

Volume di bursa AS adalah 9,43 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,88 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

"Jika Anda ingin menyalahkan sedikit profit taking pada beberapa kekhawatiran lonjakan kasus COVID, tidak apa-apa," kata Jack Janasiewicz, Lead Portfolio Strategist and Portfolio Manager di Natixis Investment Managers Solutions. "Ini menjadi sangat rumit karena volume."

Baca Juga: Sentimen-sentimen yang Jadi Penggerak IHSG Sepanjang Pekan Ini

Pasar saham memangkas kerugian di sore hari setelah Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly berkomentar bahwa para pejabat perlu berhati-hati untuk menghindari "penurunan yang menyakitkan."

Presiden The Fed Cleveland Loretta Mester juga sepakat dengan Daly, yang mengatakan dia mendukung kenaikan suku bunga yang lebih kecil pada bulan Desember.

Para pelaku pasar secara luas bertaruh pada kenaikan 50 basis poin pada pertemuan Desember, dengan puncak suku bunga diharapkan pada bulan Juni.

Pada sesi kali ini, saham Walt Disney Co DIS.N melonjak 6,30% setelah kembali menarik Bob Iger sebagai kepala eksekutif dari raksasa hiburan itu.

Di antara saham lainnya, Tesla Inc anjlok 6,84% setelah pembuat mobil listrik itu mengatakan akan menarik kembali kendaraan di AS karena masalah yang dapat menyebabkan lampu belakang sesekali gagal menyala.

Sedangkan aplikasi kencan gay Grindr terjun bebas 46,00% di tengah pelemahan pasar yang lebih luas, setelah meroket dalam debutnya di New York Stock Exchange pada sesi sebelumnya.

Selanjutnya: Harga Saham GoTo Turun Saat Kinerja Dilaporkan Meningkat, Investor Harus Jual / Beli?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru