KONTAN.CO.ID - Jakarta.. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) melalui anak usahanya PT Bukit Bali Permai (BBP) mengumumkan transaksi afiliasi berupa pembelian lahan senilai Rp65,56 miliar. Analis menilai, aksi korporasi ini bisa mendukung peningkatan kinerja perusahaan yang sebagian besar sahamnya dikuasai pengusaha Happy Hapsoro tersebut.
Akuisisi ini mencakup tiga bidang lahan berstatus Sertipikat Hak Guna Bangunan (SHGB) dengan total luas 8.395 meter persegi di kawasan premium Pecatu, Badung, Bali.
Transaksi yang diteken pada 23 April 2026 itu dilakukan dengan PT Erlangga Prakarsa Mulia Sentosa (EPMS) dan dikategorikan sebagai transaksi afiliasi sesuai POJK No.42/2020.
Corporate Secretary BUVA Rian Fachmi menyebut akuisisi ini memberi fleksibilitas lebih besar bagi perseroan dalam mengembangkan bisnis hospitality, sekaligus mengurangi risiko terkait keterbatasan masa sewa.
"Lahan milik EPMS berada berdampingan dengan Alila Villas Uluwatu, salah satu aset unggulan BUVA," ujar Rian dalam keterbukaan informasi.
Baca Juga: ULTJ Bagi Dividen Jumbo Rp1,35 Triliun, Yield 8,18% Setara 4 Kali Bunga Deposito
Akuisisi Lahan Uluwatu Perkuat Strategi Jangka Panjang BUVA
Langkah ini dinilai strategis karena memperkuat model bisnis BUVA yang lebih berbasis aset (asset-backed).
Dengan kepemilikan langsung atas lahan di kawasan premium Uluwatu, BUVA memiliki ruang lebih besar untuk ekspansi fasilitas akomodasi, pengembangan proyek hospitality terintegrasi, serta peningkatan nilai aset jangka panjang.
Di tengah pemulihan sektor pariwisata Bali, strategi ini berpotensi mendukung pertumbuhan recurring income perseroan.
Selain itu, transaksi dengan pihak afiliasi disebut meningkatkan efisiensi eksekusi dan memberi nilai tambah dibanding alternatif transaksi lain.
Tonton: Uni Eropa Wajibkan Produk Made in Europe! China Murka dan Siap Balas
Prospek Kinerja BUVA Dinilai Positif
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai pembelian lahan ini memperkuat fondasi jangka panjang emiten.
Menurut dia, strategi ini dapat mendorong peningkatan nilai intrinsik BUVA dan menopang stabilitas pendapatan seiring membaiknya sektor pariwisata.
"Hal ini mendorong pergeseran ke model bisnis yang lebih asset-backed, yang secara bertahap dapat meningkatkan nilai intrinsik dan stabilitas pendapatan," ujar Sukarno.
Ia menambahkan prospek BUVA akan semakin positif jika aset tersebut mampu meningkatkan yield operasional melalui perbaikan tingkat hunian dan tarif kamar.
Karena itu, sentimen ini dinilai lebih menarik untuk investor jangka menengah hingga panjang dibanding sekadar katalis trading jangka pendek.
Baca Juga: Dividen Jumbo AKRA Rp 10.000 per Lot, Harga Saham Langsung Melonjak
Saham BUVA Cocok Akumulasi Bertahap?
Secara teknikal, Sukarno melihat saham BUVA masih lebih sesuai untuk strategi buy on weakness atau akumulasi bertahap.
Investor disarankan mewaspadai risiko jika harga melanjutkan downtrend dan menembus support di level Rp890.
Untuk jangka menengah, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan trading buy saham BUVA dengan target harga Rp1.230 per saham.
Jika target tersebut tercapai, upside saham BUVA masih terbuka signifikan dari level saat ini. Pada perdagangan Selasa 28 April 2026, harga saham BUVA stagnan di level 1.085. Namun harga saham BUVA telah naik 90 poin atau 9,05% dalam sebulan terakhir.
Tonton: Thailand Gaspol Proyek Rp 532 Triliun! Land Bridge Siap Geser Selat Malaka?
Sentimen Positif untuk Saham BUVA?
Akuisisi lahan di kawasan premium Uluwatu dapat menjadi katalis positif bagi sentimen saham BUVA karena memperkuat eksposur perseroan pada sektor hospitality premium.
Di tengah pemulihan pariwisata Bali dan meningkatnya minat terhadap aset berbasis properti-resor, langkah BUVA ini dapat dipandang sebagai strategi ekspansi bernilai tambah.
Investor kini akan mencermati seberapa besar akuisisi ini dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kinerja operasional dan valuasi perseroan ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News