Indeks

Alarm peringatan akan kejatuhan pasar saham semakin kuat berdering

Jumat, 04 Desember 2020 | 19:00 WIB Sumber: MarketWatch
Alarm peringatan akan kejatuhan pasar saham semakin kuat berdering


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peringatakan akan kejatuhan pasar saham belum juga berakhir. Maklum dalam beberapa bulan terakhir, harga saham di seluruh dunia mengalami euforia dengan kenaikan signifikan di tengah munculnya harapan akan vaksin Covid-19 yang telah memukul ekonomi dunia dan pasar saham global.

Namun muncul suara yang mengingatkan bahwa kondisi pasar saham saat ini sudah jauh di atas fundamentalnya. Bahkan kondisi pasar saham akhir-akhir ini dinilai telah mencapai pada level yang terlihat sama pada malam kehancuran pasar saham tahun 1929 di AS.

Mengutip MarketWatch, Kamis (3/12), ahli Strategi Deutsche Bank, Jim Reid, mengatakan, kenaikan harga saham di bursa AS baru-baru ini telah membawa pasar di atas level yang terlihat pada malam jatuhnya pasar tahun 1929 dan puncaknya baru-baru ini pada Januari 2018.

Baca Juga: Warren Buffett ungkap 3 alasan cerdas lebih menyukai investasi pasif daripada aktif

Pertimbangan itu mengutip rasio CAPE dari price-to-earnings, yang sebagian diajarkan oleh Robert Shiller.  

Rasio price-to-earnings (CAPE) yang disesuaikan secara siklis menangkap rasio harga saham riil (yang disesuaikan dengan inflasi) dengan rata-rata 10 tahun pendapatan riil per saham, dan digunakan oleh beberapa orang sebagai satu ukuran, dari traditional P/Es,  untuk menilai seberapa mahal harga saham.

Reid memperingatkan bahwa rasio CAPE bukanlah alat yang sempurna jika dianggap sebagai alat penentuan waktu pasar karena nilai dapat bertahan di ketinggian lebih lama dari yang dapat diprediksi.

“Rasio CAPE tidak sempurna karena banyak alasan dan perlu diperhatikan bahwa kami telah berada di atas rata-rata jangka panjang 17 sejak awal 1991 di luar 10 bulan selama [krisis keuangan 2008],” tulisnya dalam catatan penelitian pada hari Rabu seperti dilansir Stok Market.

Baca Juga: Indikator Warren Buffett soal kejatuhan pasar saham mulai terlihat jelas

Ahli strategi Deutsche Bank mengatakan bahwa salah satu alasan harga saham mahal adalah tingkat imbal hasil obligasi pemerintah yang sangat rendah.

Editor: Noverius Laoli


Terbaru