Logam Mulia Meroket, Saham Emiten Emas Di BEI Malah Melorot, Pilih Beli / Jual?

Kamis, 12 Maret 2026 | 04:05 WIB
Logam Mulia Meroket, Saham Emiten Emas Di BEI Malah Melorot, Pilih Beli / Jual?

ILUSTRASI. Logam Mulia Meroket, Saham Emiten Emas Di BEI Malah Melorot, Pilih Beli / Jual?


Reporter: Dimas Andi  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Harga saham emiten tambang emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah pada Maret 2026. Padahal harga emas dunia  terus melesat di tengah memanasnya tensi konflik geopolitik di Timur Tengah. Apakah sekarang saatnya jual atau beli saham emas?

Lihat saja harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang terkoreksi 1,98% dalam sepekan terakhir ke level Rp 3.970 per saham hingga Rabu (11/3). Harga saham BRMS juga turun 1,18% ke level Rp 840 per saham dalam sepekan terakhir.

Dua emiten Grup Merdeka, yaitu PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) juga mengalami penyusutan harga masing-masing 1,75% ke level Rp 3.370 per saham dan 1,23% ke level Rp 8.000 per saham dalam sepekan terakhir.

Harga saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga terperosok 9,84% ke level Rp 5.500 per saham dalam sepekan terakhir. Ada pula PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang harga sahamnya melorot 3,67% ke level Rp 1.705 per saham dalam seminggu terakhir. 

Berdasarkan data Trading Economics, harga emas dunia berada di level US$ 5.186,53 per ons troi pada Rabu (11/3) sore atau naik 1,56% dalam sepekan terakhir. Kemarin, harga emas dunia sempat menembus di atas level US$ 5.200 per ons troi.

Baca Juga: Bangkit Usai Harga Turun Tajam, Saham Tambang Emas Ini Diprediksi Bisa Beri Cuan

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan, pelemahan saham emiten emas sangat dipengaruhi oleh sentimen negatif pasar global terhadap eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Potensi disrupsi energi menciptakan risiko makro yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan dan juga bursa saham global, sehingga performa saham produsen emas terdampak oleh pelemahan indeks secara kolektif. 

Dengan adanya konflik ini, Liza juga melihat bahwa investor cenderung memposisikan diri mereka untuk mengurangi risiko. "Hal ini juga mempengaruhi penurunan harga saham meskipun komoditas safe haven tersebut masih meningkat," ujar Liza, Rabu (11/3/2026).

Senada, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi menilai, tekanan yang dialami saham-saham produsen emas disebabkan oleh sentimen risk off secara umum, termasuk adanya capital outflow di pasar saham. Khusus untuk saham MDKA dan AMMN, keduanya juga terbebani oleh eksposur yang besar pada komoditas nikel dan tembaga.

"Valuasi mayoritas emiten sekarang sudah tergolong wajar dan beberapa sudah premium karena pasar sudah priced in reli emas," imbuh dia, Rabu (11/3).

Wafi menambahkan, kinerja keuangan emiten-emiten emas berpotensi mampu melampaui capaian tahun 2025 seiring tingginya harga jual rata-rata komoditas tersebut. Namun, dari sisi operasional, pertumbuhan volume penjualan emas berpeluang tertahan oleh batas operasional pabrik dan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) yang ditetapkan pemerintah. Alhasil, pasokan fisik emas kerap tidak mampu mengimbangi kenaikan permintaan yang instan.

Tonton: Tarif KRL Berpotensi Naik! Pemerintah Dinilai Terbebani Subsidi

Prospek Saham Emas

Sementara itu, Liza tetap optimistis terhadap prospek emiten emas pada 2026 yang didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Secara eksternal, penguatan harga emas dunia dan aksi akumulasi berkelanjutan oleh bank sentral global menjadi katalis utama. Sedangkan secara internal, kemampuan emiten emas dalam meningkatkan volume produksi dan menjaga biaya menjadi penentu krusial bagi pertumbuhan kinerja keuangan mereka pada masa mendatang. 

"Terkait dinamika pasar, kami mengamati minat masyarakat terhadap emas fisik tetap sangat tinggi yang tercermin dari premi harga ritel yang seringkali melampaui harga spot dunia," jelas dia.

Lebih lanjut, dalam menghadapi volatilitas pasar, emiten produsen emas perlu memprioritaskan strategi pengendalian biaya produksi. Langkah ini menurut Liza sangat krusial agar emiten dapat memaksimalkan ekspansi margin laba di tengah momentum penguatan harga komoditas. Dengan demikian, kenaikan harga emas dunia bisa terkonversi secara optimal menjadi pertumbuhan laba bersih.

Di lain pihak, Wafi menilai bahwa biaya pemeliharaan menyeluruh perlu ditekan dan realisasi ekspansi fasilitas pengolahan perlu dipercepat oleh emiten emas. Emiten yang murni bergerak di industri emas dan sedang dalam fase peningkatan kapasitas produksi berpeluang menjadi pihak yang paling diuntungkan dari momentum kenaikan harga emas.

Dari situ, Wafi menyebut saham BRMS, ANTM, dan MDKA layak dipertimbangkan oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 900 per saham, Rp 4.000 per saham, dan Rp 3.700 per saham.

 

 

 

Rusia Diduga Bantu Iran Lawan AS & Israel? Kremlin Akhirnya Buka Suara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru