Konflik Iran Bikin Investor Mulai Tinggalkan Obligasi? Ini Penjelasan Analis

Kamis, 11 Juni 2026 | 08:16 WIB
Konflik Iran Bikin Investor Mulai Tinggalkan Obligasi? Ini Penjelasan Analis

ILUSTRASI. Sistem rudal S-200 dipamerkan selama Pekan Pertahanan Iran, di sebuah jalan di Tehran, Iran, 24 September 2024. Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS


Sumber: Reuters  | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - Ketika ketegangan geopolitik meningkat, investor biasanya mencari perlindungan di aset yang dianggap aman seperti obligasi pemerintah.

Menariknya, pola tersebut mulai berubah dalam gejolak pasar terbaru yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Laporan Reuters pada Senin (9/6) menunjukkan bahwa pasar obligasi global justru ikut tertekan di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

Kondisi ini menjadi perhatian investor karena mengindikasikan bahwa aset yang selama ini dikenal sebagai safe haven tidak lagi memberikan perlindungan seperti biasanya.

Baca Juga: Apa Risiko IPO SpaceX? Investor Veteran Jim Chanos Beri Peringatan

Obligasi dan Saham Sama-sama Tertekan

Dalam kondisi normal, harga obligasi pemerintah cenderung naik ketika investor menghindari risiko dan menjual saham. Namun kali ini, saham dan obligasi justru bergerak searah.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jerman mendekati level tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun bahkan menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade.

Kenaikan yield berarti harga obligasi sedang turun karena keduanya bergerak berlawanan arah.

Fenomena tersebut menunjukkan investor tidak hanya khawatir terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga terhadap risiko inflasi yang dapat muncul akibat lonjakan harga energi.

Baca Juga: China Kian Ketat Awasi Investasi Offshore, Apa Dampaknya bagi Investor?

Harga Minyak Jadi Kunci

Salah satu sumber kekhawatiran pasar berasal dari ancaman gangguan pasokan minyak dunia melalui Selat Hormuz, jalur perdagangan energi yang sangat penting bagi pasar global.

Jika konflik di Timur Tengah berlangsung lebih lama dan harga minyak bertahan tinggi, tekanan inflasi dapat meningkat di banyak negara.

Florian Ielpo, Head of Macro dan Multi-Asset Portfolio Manager Lombard Odier Investment Managers, menilai perubahan ekspektasi harga minyak dapat mengubah pandangan pasar secara drastis.

"Jika pasar mulai memperkirakan harga minyak US$95 atau lebih untuk waktu yang lama, itu akan mengubah pandangan secara total dan memunculkan skenario stagflasi," kata Ielpo.

Stagflasi adalah kondisi ketika inflasi tetap tinggi sementara pertumbuhan ekonomi melambat. Situasi seperti ini biasanya menjadi tantangan bagi pasar saham maupun obligasi.

Baca Juga: Booming IPO India, Raksasa Asing Justru Tarik Dana Miliaran Dolar

Mengapa Investor Khawatir terhadap Obligasi?

Ketika inflasi meningkat, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya. Kondisi tersebut membuat obligasi yang sudah beredar menjadi kurang menarik dibanding instrumen baru yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Karena alasan itulah pasar obligasi saat ini lebih sensitif terhadap prospek inflasi dibanding risiko geopolitik semata.

Reuters melaporkan sejumlah manajer investasi mulai mengurangi eksposur terhadap obligasi pemerintah dan beralih ke instrumen yang lebih terlindungi dari inflasi.

Perubahan perilaku investor juga terlihat dari meningkatnya penggunaan strategi lindung nilai (hedging).

Michael Nizard dari Edmond de Rothschild Asset Management mengatakan pihaknya menambah instrumen derivatif yang dapat memperoleh keuntungan ketika volatilitas pasar meningkat.

Sementara Kevin Thozet dari Carmignac meningkatkan kepemilikan obligasi Amerika Serikat yang terkait inflasi karena menilai pasar masih terlalu tenang dalam memperkirakan kenaikan harga konsumen ke depan.

Florian Ielpo juga mengaku tetap mempertahankan kepemilikan saham, tetapi mengurangi porsi obligasi pemerintah dalam portofolionya sebagai langkah antisipasi terhadap risiko inflasi yang lebih tinggi.

Baca Juga: Morningstar Ragukan Bisnis AI SpaceX, Valuasi Dinilai Kemahalan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru