Booming IPO India, Raksasa Asing Justru Tarik Dana Miliaran Dolar

Kamis, 04 Juni 2026 | 13:54 WIB
Booming IPO India, Raksasa Asing Justru Tarik Dana Miliaran Dolar

ILUSTRASI. Bendera India (KONTAN/Fenie Chintya)


Sumber: Reuters  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Demam IPO di India terus menarik minat perusahaan asing. Anehnya, sebagian besar perusahaan justru tidak menggunakan IPO untuk menghimpun modal baru, melainkan untuk menarik keuntungan dan mengirim dana kembali ke kantor pusat mereka.

Pada Kamis (4/6/2026), Reuters melaporkan bahwa hanya satu dari enam perusahaan asing yang melantai di bursa India sejak 2024 yang menerbitkan saham baru untuk memperoleh tambahan modal.

Sisanya menggunakan skema offer for sale (OFS), yakni penjualan saham milik pemegang saham lama kepada publik.

Data Prime Database menunjukkan induk perusahaan asing telah mengantongi hampir US$5 miliar dari IPO semacam itu. Sebagian besar berasal dari IPO unit India milik Hyundai Motor dan LG Electronics.

Tren tersebut diperkirakan berlanjut. IPO senilai US$1 miliar milik PhonePe, unit pembayaran Walmart di India, serta IPO unit gim milik Modern Times Group senilai US$335 juta juga akan menggunakan skema OFS.

Pekan ini, Coca-Cola juga mengumumkan bahwa pencatatan saham perusahaan pembotolannya di India akan melibatkan penjualan sebagian kepemilikan saham.

Sementara sumber perbankan mengatakan IPO Carlsberg di India juga diperkirakan tidak akan menghimpun dana baru.

Baca Juga: Wall Street Cetak Rekor, Analis Peringatkan Risiko Koreksi Tajam

Valuasi Tinggi Jadi Daya Tarik

Mitra firma hukum Shardul Amarchand, Prashant Gupta, mengatakan pencatatan saham di India memberikan likuiditas sekaligus meningkatkan nilai perusahaan induk.

"Perusahaan global melakukan pencatatan saham di India karena memberikan likuiditas sekaligus berdampak positif terhadap kapitalisasi pasar perusahaan induk," katanya.

Perlu diketahui, India menjadi pasar IPO terbesar kedua di dunia pada 2025 setelah AS.

Sebanyak 367 IPO berhasil menghimpun dana US$21,8 miliar sepanjang tahun lalu. Saat ini, IPO senilai US$26 miliar masih menunggu persetujuan regulator.

Salah satu alasan utama adalah valuasi saham di India yang sering kali lebih tinggi dibanding perusahaan induknya di luar negeri.

Misalnya, saham Nestle India diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (P/E) hampir 77 kali, jauh di atas induknya di Swiss yang berada di sekitar 22 kali. Sementara LG Electronics India diperdagangkan pada valuasi hampir 59 kali, dibandingkan 44 kali untuk perusahaan induknya di Korea Selatan.

Baca Juga: Saham MU Naik 7% Usai Kabar Keluarga Glazer Pertimbangkan Penjualan

Nilai Tukar Rupee Terus Tertekan

Tren OFS juga memunculkan kekhawatiran terhadap nilai tukar rupee India.

Mata uang India telah melemah 13% terhadap dolar AS sejak 2024 dan turun 6% sepanjang tahun ini. Sejumlah ekonom menilai arus dana keluar dari IPO turut menambah tekanan terhadap rupee.

MUFG Bank pada Januari lalu menyebut kuatnya pasar IPO India menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pelemahan rupee.

Sementara investor portofolio asing telah menjual aset senilai lebih dari US$23 miliar sepanjang tahun ini, melampaui rekor arus keluar US$18,9 miliar pada 2025.

Senior Vice President Business and Economics Research Axis Bank, Tanay Dalal, mengatakan arus dana keluar terkait IPO memberi tekanan yang konsisten terhadap mata uang India.

"Arus keluar modal yang terkait IPO memberikan tekanan pelemahan yang stabil, meski tidak mendadak, terhadap rupee," katanya.

Meski demikian, hingga kini pemerintah dan regulator India belum menunjukkan tanda-tanda akan membatasi tren IPO dengan skema OFS tersebut.

Baca Juga: Mukesh Ambani Turun Kasta, Ini Konglomerat Jepang yang Jadi Orang Terkaya di Asia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru