KONTAN.CO.ID - Simak profil OASA yang menjadi sorotan investor PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) tengah menjadi perhatian investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) seiring berbagai aksi korporasi yang dilakukan sepanjang 2026.
Mulai dari masuknya PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) ke anak usaha OASA, persiapan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), pembentukan anak usaha baru di sektor energi terbarukan, hingga agenda Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Public Expose pada Juli 2026.
Berbagai langkah tersebut dinilai memperkuat posisi OASA sebagai salah satu emiten yang agresif mengembangkan bisnis energi baru terbarukan (EBT) dan pengelolaan lingkungan di Indonesia.
Kini, tercatat, saham OASA telah naik 23% dari pekan lalu dan bertengger pada harga Rp318 per saham pada sesi 1 perdagangan Selasa (14/7).
Lalu, seperti apa profil emiten ini? Cek informasi menarik selengkapnya.
Baca Juga: Saham MDKA dan EMAS Kompak Menguat, Rencana Aksi Korporasi Jadi Pendorong
Profil Singkat OASA
PT Protech Mitra Perkasa Tbk yang kemudian berubah nama menjadi PT Maharaksa Biru Energi Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang energi. Baik dalam energi baru terbarukan (EBT), pengelolaan limbah, pengolahan sampah menjadi energi (Waste to Energy), serta jasa lingkungan.
Perseroan awalnya dikenal sebagai perusahaan di sektor teknologi, namun dalam beberapa tahun terakhir melakukan transformasi bisnis dengan fokus pada pengembangan energi hijau dan ekonomi sirkular.
Transformasi tersebut dilakukan melalui berbagai investasi dan pembentukan anak usaha yang bergerak di bidang energi terbarukan.
Baca Juga: Mencermati Aksi Korporasi dan Strategi Bertahan MPPA di Awal Tahun 2026
Lini Usaha OASA
Melansir laman resmi perusahaan, OASA memiliki sejumlah lini bisnis utama, antara lain:
- Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).
- Waste to Energy atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
- Pengelolaan limbah industri dan limbah domestik.
- Infrastruktur energi hijau.
- Jasa konsultasi dan rekayasa lingkungan.
- Investasi pada perusahaan energi ramah lingkungan melalui anak usaha.
Perseroan juga terus memperluas portofolio melalui pembentukan entitas baru yang mendukung pengembangan proyek-proyek energi bersih.
Baca Juga: SRTG Tebar Dividen Rp 103,3 per Saham: Cek Profil hingga Kinerja Emiten Ini
Lima Aksi Korporasi yang Menjadi Sorotan
1. BIPI Akuisisi Anak Usaha OASA
Pada April 2026, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) resmi menandatangani akta jual beli saham untuk mengakuisisi masing-masing 20% saham PT Indoplas Energi Hijau (IEH) dan PT Maharaksa Energi Hijau (MEH).
Kedua perusahaan tersebut merupakan bagian dari kelompok usaha OASA. Nilai transaksi sebesar Rp500 juta menjadi sinyal adanya ketertarikan investor strategis terhadap prospek bisnis energi hijau yang sedang dikembangkan perseroan.
2. RUPST dan Public Expose Juli 2026
Perseroan dijadwalkan menggelar:
- Public Expose Tahunan: 20 Juli 2026.
- RUPST: 22 Juli 2026.
Agenda tersebut menjadi perhatian investor karena berpotensi memuat pembahasan strategi bisnis, proyek baru, hingga arah pengembangan perseroan pada tahun mendatang.
Baca Juga: Saham ESIP Terbang hingga 60% Sepekan, Cek Profil hingga Rencana Terbaru Emiten Ini
3. Fokus Proyek PSEL
OASA terus memperkuat posisinya sebagai pengembang Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Pada 2026, perseroan mengalokasikan belanja modal (capex) sekitar Rp100 miliar sebagai persiapan proyek PSEL di Jakarta Barat dan Tangerang Selatan.
Proyek tersebut mendukung program pemerintah dalam mengurangi volume sampah sekaligus meningkatkan bauran energi terbarukan nasional.
4. Membentuk Anak Usaha Baru
Pada Mei 2026, OASA mendirikan PT Bumi Mentari Nusantara. Anak usaha baru tersebut dibentuk untuk memperluas bisnis energi terbarukan sekaligus memperkuat ekosistem EBT yang tengah dikembangkan perseroan.
5. Perubahan Penggunaan Dana Rights Issue
Sebelumnya, OASA memperoleh dana sekitar Rp575 miliar melalui rights issue. Perseroan kemudian melakukan perubahan alokasi penggunaan dana yang menjadi perhatian Bursa Efek Indonesia (BEI).
Investor menilai perubahan tersebut berpotensi menjadi sentimen positif apabila dana lebih banyak diarahkan untuk proyek-proyek strategis yang memberikan nilai tambah jangka panjang.
Baca Juga: Saham ASHA Melonjak Awal Pekan, Cek Profil Emiten Perikanan dan Kinerjanya
Susunan Manajemen
Berdasarkan laporan tahunan dan keterbukaan informasi terbaru, susunan manajemen OASA terdiri atas:
1. Susunan Direksi
| Nama | Jabatan | Status Afiliasi |
|---|---|---|
| Ir. Gafur Sulistyo Umar, MBA | Direktur Utama | Terafiliasi |
| Chandra Devikemalawaty | Direktur | Terafiliasi |
| Ir. Tri Widjajanto, MT | Direktur | Terafiliasi |
| Noor Romawibowo Danusutedjo | Direktur | Terafiliasi |
| Cendy Hadiputranto | Direktur | Terafiliasi |
2. Susunan Dewan Komisaris
| Nama | Jabatan | Status |
|---|---|---|
| Hariyadi Budisantoso Sukamdani | Komisaris Utama | Non-Independen |
| John Pieter Nazar, S.H., M.H. | Komisaris | Independen |
| Djoko Rosmiatu Mijaata | Komisaris | Independen |
| Cinta Laura Kiehl | Komisaris | Non-Independen |
| Carmelita Hartoto | Komisaris | Non-Independen |
Manajemen OASA berfokus pada pengembangan bisnis energi hijau melalui investasi strategis, pembangunan infrastruktur, serta kolaborasi dengan berbagai mitra nasional.
Baca Juga: Saham Happy Hapsoro Kompak Terbang, PADI Melejit 121%, Sinyal Cuan atau Jebakan?
Kinerja Terbaru OASA
Melansir data BEI, OASA mencatatkan kinerja yang masih tertekan pada kuartal I 2026. Perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp23,7 miliar, meningkat 192,6% dibandingkan rugi bersih Rp8,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kerugian tersebut setara dengan rugi bersih per saham sebesar Rp3,73.
Dari sisi operasional, pendapatan OASA anjlok 88,3% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp2,4 miliar, dari Rp20,5 miliar pada kuartal I 2025.
Penurunan pendapatan tersebut turut menekan laba kotor yang merosot 96,8% menjadi hanya Rp0,1 miliar, dibandingkan Rp3,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, EBITDA berbalik positif menjadi Rp0,3 miliar, dibandingkan posisi negatif Rp4 miliar pada kuartal I 2025. Meski demikian, perbaikan EBITDA belum mampu mengimbangi beban usaha dan beban lainnya sehingga perseroan masih mencatatkan kerugian bersih yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.
Tonton: Purbaya Tegaskan Tak Ada Kenaikan Pajak, Fokus Kejar Wajib Pajak Baru
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News