Saham ASHA Melonjak Awal Pekan, Cek Profil Emiten Perikanan dan Kinerjanya

Selasa, 20 Januari 2026 | 09:08 WIB
Saham ASHA Melonjak Awal Pekan, Cek Profil Emiten Perikanan dan Kinerjanya

ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan Meroket (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Bimo Kresnomurti  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Simak profil emiten ASHA yang menjadi sorotan ritel. Emiten perikanan ini tercatat alami kenaikan signfikan pada perdagangan Senin (19/1).

PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk (ASHA) merupakan salah satu pemain di sektor perikanan Indonesia yang telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 2022. 

Perusahaan ini fokus pada industri perikanan terintegrasi, mulai dari penangkapan ikan hingga ekspor, dan menjadi bagian penting dalam rantai pasok makanan laut nasional.

Pada Selasa (20/1), saham ASHA mengalami lonjakan signifikan, naik hingga 32% mencapai Rp99 per saham. Hal ini seiring dengan kebijakan IJEPA yang menghapus tarif ekspor tuna ke Jepang menjadi 0% efektif 16 Januari 2026. 

Simak profil saham ASHA secara mendalam, termasuk bidang usaha dan struktur direksi, kinerja keuangan, serta perkembangan terkini hingga awal 2026.

Baca Juga: Misteri Kenaikan CUAN Terungkap: Orang Terkaya Indonesia Lakukan Aksi Mengejutkan

Profil Perusahaan dan Bidang Usaha

Melansir laman CSFI, PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk didirikan pada tahun 1999 dengan nama awal PT Cilacap Samudera Fishing Industry. Perusahaan ini bergerak di bidang perikanan tangkap, pengolahan ikan, pertambakan, galangan kapal, serta perdagangan hasil ikan laut, khususnya untuk komoditas ekspor. 

Aktivitas utamanya meliputi penangkapan, pengolahan, pembekuan, cold storage, serta impor-ekspor ikan. Kantor pusat berada di Jl. Muara Baru Ujung K No. 7D, Penjaringan, Jakarta Utara, dengan situs resmi www.csfi.co.id. 

ASHA melakukan IPO pada 27 Mei 2022, dengan menawarkan 1,25 miliar saham atau 25% dari total 5 miliar saham terdaftar. 

Sektornya termasuk Barang Konsumen Primer, subsektor Makanan & Minuman, dan subindustri Ikan, Daging & Produk Unggas. 

Baca Juga: Saham IKAN Menghijau: Cek Profil Emiten dan Kinerja Keuangan Terbarunya

Pemegang saham utama meliputi PT Asha Fortuna Corpora (30%), PT Mestika Arta Dirga (11%), PT Inti Sukses International (11%), dan Ervin Sutioso (7,5%). 

Pada akhir 2025, terdapat perubahan kepemilikan, di mana PT Mestika dan PT Inti masing-masing mengurangi 200 juta saham. Anak perusahaan seperti PT Jembatan Lintas Global mendukung operasi perdagangan ikan dengan aset signifikan. 

Secara keseluruhan, ASHA memposisikan diri sebagai perusahaan perikanan terintegrasi yang mendukung ekspor seafood Indonesia.

Baca Juga: Anomali GOTO: Harga Saham Turun Saat Dana IPO Rp 13,73 T Sudah Habis

Struktur Direksi dan Komisaris

Manajemen ASHA dipimpin oleh sosok berpengalaman di industri perikanan.

Direksi terdiri dari:

  • William Sutioso sebagai Direktur Utama (CEO), yang memiliki latar belakang investasi dan pengalaman di bisnis perikanan sejak muda.
  • Henry Sutioso sebagai Direktur, yang terafiliasi dengan pemegang saham. 

Dewan Komisaris:

  • Asman sebagai Komisaris Utama, dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di perikanan, mulai dari awak kapal hingga pengusaha terintegrasi. 
  • Drs. A. Rahim Diar, MM sebagai Komisaris Independen.

Baca Juga: Tiga Saham Favorit Asing Pendorong IHSG Rekor: Cek Target Harga Terbaru

Kinerja Keuangan

Melansir data BEI.go.id, kinerja ASHA pada 2025 menunjukkan tantangan, dengan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada kuartal III 2025, perusahaan mencatat rugi bersih Rp6,8 miliar, berbalik dari laba Rp873,7 juta pada periode sama 2024. 

Untuk 9 bulan pertama 2025 (9M25), rugi bersih mencapai Rp4,6 miliar, membaik 51,6% dari rugi Rp9,5 miliar pada 9M24, dengan pendapatan Rp44,5 miliar dan gross profit Rp21,8 miliar (margin 49%).

Demikian informasi mengenai saham ASHA yang naik seiring kebijakan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) yang menghapus tarif ekspor tuna ke Jepang menjadi 0%, efektif sejak 16 Januari 2026.

Tonton: Target Stop Impor Avtur Perlu Dibarengi Kepastian Harga untuk Industri Penerbangan

Selanjutnya: Rupiah Spot Melemah 0,19% ke Rp 16.988 per dolar AS pada Selasa (20/1) Pagi

Menarik Dibaca: Serial 18+: Adegan Vulgar Dominasi Cerita Populer Ini, Termasuk Euphoria

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru