Rekomendasi

Harga Saham Turun Karena Revisi Outlook Moody's, Analis Malah Rekomendasi Beli

Selasa, 10 Februari 2026 | 08:36 WIB
Harga Saham Turun Karena Revisi Outlook Moody's, Analis Malah Rekomendasi Beli

ILUSTRASI. Harga Saham Turun Karena Revisi Outlook Moody's, Analis Malah Rekomendasi Beli


Reporter: Pulina Nityakanti  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah menurunkan outlook surat utang Indonesia, lembaga pemeringkatan global Moody’s Ratings juga merevisi outlook sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Walhasil, harga saham emiten tersebut melemah. Namun, analis malah rekomendasi beli.

Dalam pernyataan resminya pada 5 Februari 2026 lalu, Moody’s menyebut penurunan outlook dari stabil menjadi negatif didorong oleh menurunnya prediktabilitas kebijakan dan kualitas tata kelola pemerintahan. 

Jika berlanjut, kondisi tersebut dinilai dapat menggerus kredibilitas kebijakan yang selama ini menjadi penopang stabilitas makroekonomi, fiskal, dan sistem keuangan Indonesia. 

Efek dari penurunan outlook Indonesia itu, Moody’s Ratings juga mengubah outlook dari stabil menjadi negatif terhadap sejumlah perusahaan terbuka.

Baca Juga: Harga Saham Bank Blue Chip Jatuh Lagi Usai Mendaki: Ini Peluang Cuan atau Buntung?

Sebut saja, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Centra Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). 

Walhasil, harga saham emiten tersebut bergerak ke zona merah. Sebagai contoh, harga saham TLKM pada perdagangan Senin 9 Februari 2026 ditutup di level 3.350 turun 30 poin atau 0,89% dibandingkan sehari sebelumnya. Selama perdagangan lima hari terakhir, harga saham TLKM terakumulasi melemah 190 poin atau 5,37%.

 

 

Jeffrosenberg Chenlim, Head of Research Maybank Sekuritas Indonesia mengatakan, dampak keputusan Moody’s akan lebih terasa di pasar valuta asing, obligasi global Indonesia, dan obligasi pemerintah dan korporasi lokal, daripada di pasar saham.

Namun demikian, kemungkinan akan ada volatilitas jangka pendek pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berkelanjutan.

Hal ini pun diperparah oleh aksi jual pasar yang sedang berlangsung setelah hasil konsultasi MSCI yang tidak menguntungkan dan meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah yang menekan harga minyak. 

“Dengan latar belakang ini, kami merekomendasikan pendekatan beli saat harga melemah, dengan fokus selektif pada saham-saham unggulan berkualitas tinggi,” ujarnya dalam riset yang diterima Kontan pada 9 Februari 2026.

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus mengatakan, secara jangka pendek, koreksi IHSG pasti terjadi.

Namun, hal ini wajar, karena ketika suatu saham memiliki prospek yang mengalami penurunan, pelaku pasar dan investor pasti akan menghindari hal tersebut dengan melakukan penjualan. 

Selain itu, penurunan outlook akan berpengaruh terhadap biaya pendanaan, terutama apabila emiten tersebut ingin menerbitkan obligasi. “Sehingga bunga yang ditawarkan pun harus meningkat atau lebih tinggi daripada biasanya,” ujarnya kepada Kontan, Senin (9/2).

Tonton: Tokoh Reformasi TNI, Letjen TNI Purnawirawan Agus Widjojo Meninggal Dunia

Analis fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand menilai, dampak pemangkasan outlook Moody’s ke kinerja keuangan dan saham emiten tidak berdampak ke kinerja fundamental karena tidak mengubah peringkat kredit maupun arus kas operasional. Namun, hal itu berpotensi menekan harga saham secara jangka pendek melalui sentimen risiko dan aliran dana asing.

“Dampaknya biasanya bersifat sementara, sekitar 1–3 bulan, hingga pasar kembali fokus pada fundamental laba, dividen, dan outlook bisnis masing-masing emiten,” ujarnya kepada Kontan, Senin.

Terkait kinerja dari masing-masing emiten yang mendapatkan penurunan rating dari Moody’s juga, mereka dinilai masih memiliki fundamental kuat dan berkapitalisasi pasar besar.

Nico melihat, prospek TLKM masih stabil dan dominasi pasarnya kuat di era digitalisasi. Lalu, ICBP masih prospektif lantaran masuk ke dalam saham sektor consumer.

“Selain itu produk ICBP juga selalu digunakan oleh masyarakat, sehingga tingkat konsumsi dapat terjaga dengan baik,” paparnya.

Untuk UNTR, prospek kinerjanya juga masih positif, terutama dari sisi ekspor komoditas. Sementara, sektor perbankan memiliki profitabilitas tinggi, apalagi bank-bank himbara yang mendukung koperasi merah putih.

“Sehingga, yang harus diperhatikan investor adalah nilai valuasi saham para emiten, apakah di masa depan akan mengalami kenaikan atau tidak,” tuturnya.

Selain UNTR, sejumlah saham-saham tersebut hari ini (9/2/2026) pun terpantau terkoreksi lantaran perubahan outlook dari Moody’s ini. Misalnya, saham TLKM hari ini turun 0,89%, BBCA 2,28%, BMRI 0,99%, dan BBNI 0,22%.

Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Tumbuh pada Kuartal III 2025, Cermati Rekomendasi Analis

Nico pun merekomendasikan beli untuk ICBP, TLKM, BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI dengan target harga masing-masing Rp 11.920 per saham, Rp 3.800 per saham, Rp 10.210 per saham, Rp 5.650 per saham, Rp 4.510 per saham, dan Rp 5.110 per saham.

Abida melihat, prospek kinerja TLKM, ICBP, UNTR, PGAS, serta bank-bank besar ke depan tetap solid. Sebab, kinerja mereka didukung posisi pasar dominan, recurring revenue, dan fundamental neraca yang kuat. 

Sentimen positif para emiten itu meliputi pertumbuhan kredit perbankan, stabilitas konsumsi domestik, potensi penurunan suku bunga, dan normalisasi siklus komoditas.

“Sementara sentimen negatif mencakup volatilitas makro global, risiko kebijakan fiskal, dan fluktuasi harga komoditas bagi emiten berbasis energi dan alat berat,” katanya.

Baca Juga: Performa Indeks Kompas100 Ungguli Kinerja Blue Chip, Cek Saham Rekomendasi Analis

Abida pun merekomendasikan beli untuk BBCA, BMRI, BBNI, TLKM, dan UNTR dengan target harga masing-masing Rp 11.400 per saham, Rp 6.200 per saham, Rp 4.700 per saham, Rp 4.000 per saham, dan Rp 32.000 per saham.

Sementara, Chenlim merekomendasikan beli untuk untuk BBCA dan BBNI dengan target harga masing-masing Rp 10.650 per saham dan Rp 4.850 per saham.


 

Janji Baru Prabowo: Genjot Industrialisasi hingga Buka Lapangan Kerja Baru

Selanjutnya: Bursa Australia Menguat Ditopang Komoditas, Macquarie Bersinar Berkat Kinerja Positif

Menarik Dibaca: Kapan Puasa 2026? Ini Jadwal Sidang Isbat Awal Ramadan 1447 H

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru