KONTAN.CO.ID - Reli pasar saham Amerika Serikat (AS) yang telah berlangsung selama sembilan pekan berturut-turut mulai memunculkan kekhawatiran di Wall Street.
Pada Rabu (3/6/2026), sejumlah analis memperingatkan bahwa pasar semakin rentan terhadap gejolak setelah indeks-indeks utama terus mencetak rekor tertinggi di tengah optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI).
Mengutip Reuters, indeks S&P 500 telah naik hampir 20% sejak menyentuh titik terendah pada akhir Maret.
Namun, sejumlah indikator di pasar opsi menunjukkan investor mulai mengurangi perlindungan terhadap risiko penurunan dan lebih agresif bertaruh pada kenaikan saham.
"Situasi ini sangat, sangat matang untuk apa yang saya sebut sebagai lonjakan volatilitas," kata pendiri SpotGamma, Brent Kochuba.
Ia bahkan menilai kondisi saat ini lebih mungkin berakhir dengan koreksi dibanding sekadar pergerakan pasar yang tenang.
"Saya pikir ini akan berakhir dengan penurunan yang tajam," ujarnya.
Baca Juga: Saham MU Naik 7% Usai Kabar Keluarga Glazer Pertimbangkan Penjualan
Euforia Investor Dianggap Berlebihan
Kepala Riset Derivatif Ekuitas AS UBS, Maxwell Grinacoff, mengatakan pasar kini menjadi lebih rapuh.
Menurut UBS, indikator kerentanan pasar Turbu-lens saat ini berada di level 0,8, mendekati level yang menunjukkan potensi tekanan pasar tinggi.
"Saat pasar berada di level kerentanan yang ekstrem seperti ini, biasanya reaksi volatilitas menjadi jauh lebih tinggi," kata Grinacoff.
Kepala Strategi Ekuitas dan Makro Cantor Fitzgerald, Eric Johnston, juga melihat tanda-tanda euforia berlebihan di pasar.
"Ini menunjukkan tingkat euforia dan spekulasi yang terlalu tinggi," ujarnya, merujuk pada meningkatnya minat investor terhadap opsi yang bertaruh pada kenaikan harga saham.
Baca Juga: IPO Saham SpaceX Dipatok Rp2,42 Juta per Saham, Ini Risiko dan Peluangnya
Sejumlah Pemicu Besar Menanti
Analis juga menyoroti korelasi antar saham di indeks S&P 500 yang turun ke level terendah dalam sejarah pada Mei 2026.
"Dalam lima tahun terakhir, setiap kali korelasi turun mendekati nol, selalu muncul peristiwa volatilitas dalam waktu sekitar satu bulan setelahnya," kata Grinacoff.
Dalam beberapa pekan ke depan, investor akan mencermati sejumlah agenda penting, mulai dari rapat Federal Reserve, jatuh tempo kontrak opsi bulanan, IPO SpaceX, hingga perkembangan konflik Iran.
Menurut Kochuba, pasar memang membutuhkan pemicu untuk berbalik arah. Namun semakin tinggi reli berlangsung, semakin kecil pemicu yang diperlukan.
"Semakin jauh pasar bergerak dan semakin ekstrem kondisinya, semakin kecil pemicu yang dibutuhkan," katanya.
Baca Juga: AS Sanksi Bursa Kripto Terbesar Iran, Nobitex Dituduh Bantu IRGC
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News