KONTAN.CO.ID - Rencana penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX memunculkan suara skeptis yang mempertanyakan apakah valuasi perusahaan milik Elon Musk tersebut memang layak. Salah satunya datang dari investor dan short seller legendaris Jim Chanos.
Menjelang IPO yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (12/6), Chanos menilai valuasi SpaceX sebesar US$1,75 triliun atau sekitar Rp31.448 triliun terlalu tinggi jika dibandingkan dengan prospek bisnis perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.
Mengutip Reuters, SpaceX berencana menghimpun dana hingga US$75 miliar atau sekitar Rp1.348 triliun dalam IPO yang berpotensi menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar modal dunia.
Baca Juga: AS Sanksi Bursa Kripto Terbesar Iran, Nobitex Dituduh Bantu IRGC
Jim Chanos: Valuasi SpaceX Dibangun oleh "Harapan dan Mimpi"
Dalam konferensi iConnections di New York pada Rabu (10/6), Chanos secara terbuka menyampaikan keraguannya terhadap valuasi yang dibidik SpaceX.
"Perusahaan ini menurut saya tidak bernilai US$1,75 triliun berdasarkan asumsi yang masuk akal untuk lima tahun ke depan," kata Chanos.
Menurut pendiri Kynikos Associates tersebut, optimisme pasar terhadap SpaceX saat ini lebih banyak didorong oleh ekspektasi masa depan dibandingkan fundamental bisnis yang sudah terbukti menghasilkan keuntungan.
Ia bahkan menyindir berbagai narasi futuristik yang sering dikaitkan dengan perusahaan antariksa milik Elon Musk.
"Kita bisa membangun cerita apa pun yang kita inginkan. Koloni di Mars, terowongan pabrik, pusat data di luar angkasa. Hal itu untuk membenarkan valuasi tersebut. Dalam pasar bullish, investor memberi premi pada janji. Dalam pasar bearish, investor memberi diskon pada realitas," ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan salah satu perdebatan klasik dalam dunia investasi, yakni sejauh mana ekspektasi pertumbuhan masa depan dapat dibenarkan dalam valuasi sebuah perusahaan.
Baca Juga: Sebelum IPO Anthropic, Investor Perlu Tahu Hubungannya dengan Pemerintah AS
Mengapa Valuasi SpaceX Dipertanyakan?
Menurut Chanos, salah satu alasan utama di balik skeptisisme tersebut adalah rasio valuasi SpaceX yang dianggap terlalu tinggi.
Ia menyebut SpaceX saat ini dihargai sekitar 90 kali pendapatan (sales), jauh di atas Tesla yang diperdagangkan pada kisaran 14 kali pendapatan.
Perbandingan tersebut menjadi perhatian karena valuasi yang sangat tinggi umumnya mengharuskan perusahaan mencatat pertumbuhan luar biasa dalam jangka panjang.
Data S3 Partners menunjukkan para short seller Tesla secara kolektif kehilangan sekitar US$27 miliar sejak pertengahan 2021. Dalam satu dekade terakhir, saham Tesla telah melonjak lebih dari 2.500%.
Karena itu, sejumlah pelaku pasar memilih menunggu kinerja SpaceX sebagai perusahaan publik sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif.
Baca Juga: Morningstar Ragukan Bisnis AI SpaceX, Valuasi Dinilai Kemahalan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News