Bursa Kamis (23/6) Segera Dibuka, Ini Saham Pilihan yang Tahan Banting Dari Resesi AS

Kamis, 23 Juni 2022 | 08:25 WIB   Reporter: Adi Wikanto, Sugeng Adji Soenarso
Bursa Kamis (23/6) Segera Dibuka, Ini Saham Pilihan yang Tahan Banting Dari Resesi AS


KONTAN.CO.ID - Jakarta. Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali membuka transaksi saham edisi hari ini Kamis 23 Juni 2022. Sebelum bertransaksi, simak rekomendasi saham pilihan yang diprediksi tahan banting terhadap dampak resesi ekonomi Amerika Serikat (AS).

Ekonomi AS kini tengah di depan jurang resesi akibat tingginya angka inflasi. Perekonomian global dan Indonesia bakal merasakan dampak negatif resesi ekonomi AS.

Lantai bursa pun akan terkena getahnya. Namun tetap ada saham-saham yang berpotensi mencatatkan kinerja oke saat AS mengalami resesi ekonomi.

Mengutip keterangan di website Otoritas Jasa Keuangan, resesi ekonomi adalah suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara sedang memburuk yang terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang negatif, pengangguran meningkat, maupun pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menuturkan, di tengah ancaman resesi umumnya akan terjadi switching ke saham defensif. Menurutnya, saham-saham defensif berasal dari sektor consumer dan telekomunikasi.

"Alasannya adalah dalam kondisi apapun produk yang dihasilkan akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat sehingga seharusnya pendapatan akan lebih stabil dibanding sektor lain," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (22/6).

Baca Juga: Investor Asing Banyak Memburu Saham-Saham Ini Saat IHSG Terkoreksi, Rabu (22/6)

Beberapa saham yang dinilainya menarik diamati datang dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

 

 

Pandhu menjelaskan, dipilihnya TLKM sebagai saham defensif karena dari sisi pendapatan secara konsisten membukukan pertumbuhan positif, profitabilitasnya pun cukup kuat. ROE stabil di atas 15% dari tahun ke tahun, bahkan tahun lalu membukukan laba bersih terbesar sepanjang sejarah dinilai  perseroan kuat dalam menghasilkan keuntungan secara konsisten.

"Secara operasional juga tidak perlu diragukan karena bagaimanapun kondisi ekonomi, komunikasi sudah menjadi kebutuhan pokok seperti pulsa dan berlangganan data internet. TLKM juga market leader di industri dengan skala bisnis yang besar dan memiliki struktur permodalan yang sehat menjadi keunggulan kompetitif TLKM dibanding provider telekomunikasi lain," jelasnya.

Dari pergerakan harga saham, TLKM sedang dalam masa koreksi setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di Rp 4.850 pada bulan April lalu. Harga saham TLKM terkoreksi sekitar 17% dari level tertinggi, sehingga sudah mulai menarik untuk diperhatikan.

Untuk tren jangka panjang juga dilihat masih bergerak menguat dengan support trendline sekitar Rp 3.800. Secara valuasi saat ini diperdagangkan pada rasio PE sekitar 16,4 kali, relatif menarik karena masih relatif rendah dibanding selama 10 tahun terakhir yang bergerak dalam range sekitar 13,5 kali - 24 kali dengan nilai median di 18,5 kali.

"Artinya saat ini relatif lebih murah sehingga jika terjadi koreksi diperkirakan tidak akan terlalu jauh lagi dari harga saat ini," sebutnya.

Kemudian saham ICBP dipilih karena memiliki berbagai produk yang mampu menjadi market leader seperti Indomie, Chitato, dan Pop Mie. Pandhu melihat kinerja konsisten bertumbuh, bahkan teruji ketika menghadapi masa pandemi Covid-19 yang lalu dengan pendapatan yang tumbuh positif.

Konflik Ukraina-Rusia yang membuat harga gandum melonjak hampir 2 kali lipat dibanding tahun lalu juga tidak membuat kinerja surut. Masih dapat membukukan pertumbuhan pendapatan sekitar 14%, meskipun labanya turun tipis.

"Hal ini juga meredakan kekhawatiran pasar bahwa kinerja akan terpukul dengan lonjakan harga bahan baku, namun perseroan dapat membuktikan bahwa stok bahan baku dapat mereka kelola dengan sangat baik sehingga tidak mengganggu kinerja," katanya. 

Dari arah pergerakan saham ICBP, selama 2 bulan terakhir terus bergerak menguat. Terutama semenjak the Fed memutuskan menaikkan suku bunga. Hal ini memperkuat hipotesa bahwa sektor consumer akan cenderung bergerak menguat ketika ekspektasi akan terjadi kontraksi ekonomi di masa mendatang.

Itulah rekomendasi saham yang berpotensi untung meskipun ekonomi AS mengalami resesi ekonomi. Ingat disclaimer on, segala risiko investasi atas rekomendasi saham di atas menjadi tanggung jawab Anda sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto

Terbaru