KONTAN.CO.ID - SImak profil emiten TPIA yang mulai Buyback saham Rp1 triliun. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback.
Aksi korporasi ini diumumkan pada 19 Oktober 2026, ketika pasar saham Indonesia mengalami tekanan dan sejumlah emiten Grup Barito mengumumkan langkah serupa.
Perusahaan yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu tersebut berencana membeli kembali maksimal 800 juta saham atau sekitar 0,92% dari total saham yang telah diterbitkan.
Baca Juga: 80 Saham HSC Jadi Sorotan usai Pertemuan MSCI dan BEI, Cek Daftarnya
Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham, menjaga agar pergerakan saham mencerminkan fundamental perusahaan, serta mendukung kepercayaan investor.
Di luar aksi buyback, TPIA memiliki bisnis petrokimia, energi, perdagangan, dan infrastruktur yang berkembang melalui ekspansi serta akuisisi.
Namun, pertumbuhan pendapatan perusahaan perlu dicermati bersama perubahan laba bersih, mengingat kinerja semester I 2026 menunjukkan tekanan profitabilitas.
Baca Juga: Cek 3 Saham yang Disuspensi BEI per 15 Oktober 2026: Ada AKKU hingga TFCO
Jadwal dan Ketentuan Buyback Saham TPIA
Berdasarkan informasi buyback yang diumumkan pada Oktober 2026, berikut rincian rencana pembelian kembali saham TPIA.
| Keterangan | Rincian |
|---|---|
| Emiten | PT Chandra Asri Pacific Tbk |
| Kode saham | TPIA |
| Anggaran maksimal | Rp1 triliun |
| Jumlah saham maksimal | 800 juta saham |
| Persentase saham | Sekitar 0,92% |
| Rentang harga buyback | Rp1.250–Rp3.000 per saham |
| Periode rencana | 20 Oktober 2026–19 Januari 2027 |
| Sumber dana | Kas internal perusahaan |
| Pelaksana transaksi | PT Henan Putihrai Sekuritas |
Anggaran Rp1 triliun merupakan batas maksimal, bukan kepastian bahwa seluruh dana akan digunakan. Jumlah saham yang dibeli juga bergantung pada pelaksanaan transaksi dan kondisi pasar.
Manajemen menyatakan pembelian kembali saham akan tetap memperhatikan ketentuan mengenai saham beredar di publik atau free float.
Perseroan juga menyampaikan bahwa rencana tersebut tidak diperkirakan menimbulkan dampak negatif material terhadap kegiatan operasional dan pendapatan, dengan mempertimbangkan kecukupan modal kerja serta arus kas.
Baca Juga: Tebar Dividen Interim Rp273,43 Miliar, Cek Profil Emiten IMPC dan Kinerja Terkini
Apa tujuan buyback saham TPIA?
Buyback merupakan aksi korporasi ketika perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri di pasar. Dalam rencana TPIA, langkah ini memiliki beberapa tujuan utama:
- Menjaga kepercayaan investor. Pembelian kembali saham menjadi salah satu upaya perusahaan merespons kondisi pasar yang berfluktuasi.
- Meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Buyback dapat mengurangi jumlah saham yang beredar di pasar, bergantung pada pelaksanaannya.
- Menjaga keselarasan harga dengan fundamental. Manajemen berharap pergerakan saham dapat lebih mencerminkan kondisi bisnis perusahaan.
Meski demikian, buyback tidak menjamin harga saham akan naik. Pergerakan harga tetap dipengaruhi kinerja keuangan, kondisi industri petrokimia, sentimen pasar, dan faktor lainnya.
Mengutip data IPOT, harga saham TPIA alami kenaikan Rp1.130/saham atau naik 0,44% (+5,00) pada sesi 1 hari ini Selasa (20/10).
Lalu, seperti apa profil emiten TPIA? Cek lini bisnis hingga kinerja terbaru TPIA mulai Buyback.
Baca Juga: Ada 79 Saham HSC Terbaru Oktober 2026: FILM dan MGLV Keluar dari Daftar
Lini Bisnis TPIA
TPIA merupakan bagian dari Chandra Asri Group, yang mengembangkan bisnis di bidang bahan kimia, energi, perdagangan, dan infrastruktur. Diversifikasi tersebut semakin penting setelah perusahaan memperluas skala usaha melalui akuisisi dan pengembangan fasilitas baru.
1. Petrokimia dan bahan kimia
Bisnis petrokimia menjadi salah satu kegiatan utama TPIA. Perusahaan memproduksi berbagai bahan baku industri yang digunakan dalam rantai pasok manufaktur, kemasan, otomotif, konstruksi, dan berbagai sektor lainnya.
Produk petrokimia memiliki keterkaitan erat dengan harga bahan baku, permintaan industri, kapasitas produksi, serta margin pengolahan. Karena itu, perubahan harga minyak dan nafta serta kondisi pasokan global dapat memengaruhi kinerja segmen ini.
2. Energi
Chandra Asri Group mengembangkan usaha energi untuk mendukung kebutuhan operasional industri dan pelanggan. Portofolionya mencakup pembangkitan listrik, jasa kelistrikan, serta pengembangan energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga surya.
Menurut laporan tahunan 2025, kapasitas infrastrukturnya mencakup pembangkit listrik siklus gabungan berkapasitas 120 MW di Indonesia, fasilitas pembangkitan 174 MW di Singapura, dan PLTS terpasang 12,15 MWp di Indonesia.
3. Infrastruktur
Infrastruktur menjadi lini bisnis tersendiri dalam pengembangan Chandra Asri Group sejak 2025. Bidangnya mencakup penyediaan listrik, pengadaan dan pengolahan air, serta fasilitas pendukung kegiatan industri.
Bisnis infrastruktur dapat memberikan sumber pendapatan yang berbeda dari petrokimia, meskipun kontribusinya terhadap kinerja konsolidasi bergantung pada skala operasi, investasi, dan perkembangan proyek.
4. Perdagangan dan pengembangan usaha
Chandra Asri Group juga menjalankan kegiatan perdagangan produk dan bahan baku industri. Perluasan bisnis melalui kemitraan dan akuisisi menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperbesar skala usaha serta memperluas jangkauan pasar.
Baca Juga: Cek 5 Saham Masuk Radar UMA BEI per 12 Oktober 2026: Ada TFCO hingga STRK
Manajemen TPIA
Susunan pengurus TPIA mengalami perubahan setelah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 26 Januari 2026. Berikut sejumlah nama dalam jajaran pengurus perusahaan berdasarkan informasi yang tersedia.
| Nama | Jabatan |
|---|---|
| Erwin Ciputra | Presiden Direktur |
| Baritono Prajogo Pangestu | Wakil Presiden Direktur |
| Andre Khor Kah Hin | Direktur |
| Edi Riva'i | Direktur |
| Fransiskus Ruly Aryawan | Direktur |
| Hamim Thohari | Direktur |
| Konlakan Chankachangchaeng | Direktur |
| Nongnapat Saisuthi | Direktur |
| Pholavit Thiebpattama | Wakil Presiden Direktur |
| Raymond Budhin | Direktur |
| Ronald Sihombing | Direktur |
| Suryandi | Direktur |
| Wittaya Guntawang | Direktur |
Untuk jajaran komisaris, nama yang tercantum dalam informasi pengurus adalah:
| Nama | Jabatan |
|---|---|
| Djoko Suyanto | Presiden Komisaris |
| Tan Ek Kia | Wakil Presiden Komisaris |
| Agus Salim Pangestu | Komisaris |
| Ho Hon Cheong | Komisaris |
| Lim Chong Thian | Komisaris |
| Pongpun Amornvivat | Komisaris |
| Rungnapa Janchookiat | Komisaris |
| Sakchai Patiparnpreechavud | Komisaris |
Baca Juga: Ada Pengendali Baru, Simak Profil Emiten TGUK, Lini Bisnis, dan Kinerja Terkini
Kinerja Keuangan TPIA Terbaru
Merangkum data BEI, pada semester I 2026, TPIA mencatat peningkatan pendapatan, tetapi laba bersihnya turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai sekitar US$283,23 juta atau setara Rp5,11 triliun.
| Indikator | Semester I 2026 | Perubahan tahunan |
|---|---|---|
| Pendapatan | Sekitar Rp96,26 triliun | Naik 83,6% |
| Laba bersih pemilik entitas induk | Sekitar Rp5,11 triliun | Turun 77,5% |
Kenaikan pendapatan menunjukkan skala usaha TPIA bertambah besar. Namun, penurunan laba bersih menandakan bahwa peningkatan penjualan belum menghasilkan pertumbuhan laba yang sebanding.
Tekanan profitabilitas tersebut berkaitan dengan peningkatan biaya produksi, penyusutan, biaya penjualan dan administrasi, serta beban keuangan. Selain itu, dampak akuisisi dan integrasi bisnis membuat kinerja konsolidasi perlu dianalisis dengan memperhatikan perubahan struktur usaha perusahaan.
Tonton: Harga Minyak Tembus US$106 per Barel, Menteri Bahlil Ungkap Cadangan BBM Nasional
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News