Diprediksi Bayar Dividen Jumbo, Ini Saham BUMN yang Layak Dicermati Investor Ritel

Rabu, 11 Maret 2026 | 04:05 WIB
Diprediksi Bayar Dividen Jumbo, Ini Saham BUMN yang Layak Dicermati Investor Ritel

ILUSTRASI. Diprediksi Bayar Dividen Jumbo, Ini Saham BUMN yang Layak Dicermati Investor Ritel


Reporter: Pulina Nityakanti  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Usaha Milik Negara alias BUMN  diprediksi memberikan dividen saham jumbo pada tahun 2026. Tak heran, investor mulai gemar memburu saham BUMN. Lalu, saham pelat merah apa yang diprediksi beri cuan besar kepada investor?

 

Tingginya minat investor terhadap saham BUMN pembagi dividen jumbo terindikasi dari pergerakan indeks IDX BUMN20 yang lebih bagus dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG. IDX BUMN20 hanya terkoreksi 0,91% secara year to date (YTD). Sebagai perbandingan, IHSG turun 13,95% YTD.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi mengatakan, kenaikan saham emiten konstituen BUMN20 didorong ekspektasi pembagian dividen besar dan pertumbuhan laba bersih sektor perbankan. 

“Saham penggeraknya adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (BBNI), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM),” ujarnya kepada Kontan, Selasa (10/3/2026).

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, kinerja indeks IDX BUMN20 sejak awal tahun ini terutama ditopang oleh saham berbasis komoditas dan perbankan daerah. 

Baca Juga: Harga Turun, Saham Blue Chip Perbankan Ini Siapkan Dividen Jumbo Triliunan Rupiah

Beberapa konstituen yang menjadi motor penggerak antara lain PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur  Tbk (BJTM), dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR). 

“Penguatan harga komoditas energi serta stabilnya kinerja perbankan regional menjadi faktor utama yang menopang performa indeks,” katanya kepada Kontan, Selasa.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus bilang, saham emiten BUMN yang terdampak kinerja positif berasal dari sektor komoditas, seperti minyak, gas, dan emas. 

“Selain itu, daya tarik terhadap valuasi dan rotasi sektor juga menjadi salah satu perhatian, terutama beberapa bank besar yang mengalami penurunan harga, sehingga membuat valuasinya menjadi semakin murah,” ungkapnya kepada Kontan, Selasa (10/3/2026)

Tonton: Rusia Solid ke Iran! Putin Kirim Dukungan untuk Mojtaba Khamenei

Pada tahun 2026, kinerja IDX BUMN20 kemungkinan juga akan menguat terbatas. 

Wafi bilang, peluangnya berasal dari valuasi diskon dan potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) di semester II 2026. “Sementara, tantangannya berasal dari volatilitas Rupiah, eskalasi geopolitik, dan arus keluar modal asing,” tuturnya.

Sektor perbankan dan komunikasi pun dinilai masih akan menjadi sektor favorit dari emiten BUMN di tahun 2026. Katalisnya berasal dari pertumbuhan kredit stabil dan resiliensi konsumsi domestik. 

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Emiten BUMN Ini Usai Dapat Proyek Hilirisasi Danantara 

“Sentimen negatif untuk sektor itu adalah tingginya cost of funds (CoF) akibat suku bunga tinggi dan tekanan daya beli menengah-bawah,” ungkapnya. 

Wafi merekomendasikan beli untuk BMRI, BBRI, BBNI, dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 7.000 per saham, Rp 5.800 per saham, Rp 5.500 per saham, dan Rp 3.800 per saham.

Sukarno melihat, prospek IDX BUMN20 diperkirakan tetap positif hingga akhir 2026, meskipun berpotensi mengalami koreksi wajar di tengah ketidakpastian global dan tensi geopolitik. 

“Potensi rebound saham perbankan yang memiliki bobot besar dalam indeks yang ditambah daya tarik dividen tinggi dari sejumlah emiten BUMN, berpeluang menjadi katalis utama yang menjaga tren penguatan indeks ke depan,” katanya.

Dari sisi sektoral, emiten energi masih dipandang prospektif mengingat dinamika geopolitik global yang berpotensi menjaga volatilitas harga komoditas. 

“Namun, sentimen eksternal seperti perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas tetap menjadi risiko yang dapat menekan kinerja saham blue chip dalam indeks,” tuturnya.

Tonton: Lippo Hibahkan 30 Hektare Lahan di Meikarta, Bisa Bangun 140.000 Unit Rusun

Sukarno pun merekomendasikan beli untuk JSMR dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 3.850 per saham dan Rp 4.000 per saham. Rekomendasi trading buy disematkan untuk PTBA dengan target harga Rp 3.150 per saham.

Nico menambahkan, emiten berbasis komoditas berpeluang berkinerja baik dengan harga saham yang menguat. Alasannya, terjadi kenaikkan harga komoditas yang akan memberikan pengaruh positif.

Selain itu, beberapa saham yang fundamentalnya bagus dan punya potensi valuasi di masa yang akan datang. “Namun, volatilitas masih tinggi terutama di tengah situasi dan kondisi yang ada saat ini,” ungkapnya.

Nico pun merekomendasikan beli untuk ANTM, BBRI, BBNI, BMRI, BRIS, dan JSMR dengan target harga masing-masing Rp 4.940 per saham, Rp 4.450 per saham, Rp 5.035 per saham, Rp 5.860 per saham, Rp 3.150 per saham, dan Rp 4.680 per saham.

 

 

 

BREAKING! KPK OTT Bupati Rejang Lebong – Baru Beberapa Hari, Kepala Daerah Kembali Ditangkap

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru