Manajer investasi Gencar Menerbitkan Reksadana Terproteksi

Selasa, 19 April 2022 | 09:25 WIB   Reporter: Danielisa Putriadita
Manajer investasi Gencar Menerbitkan Reksadana Terproteksi


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Manajer investasi mulai gencar menerbitkan reksadana terproteksi. Analis menilai instrumen ini menarik di tengah prospek kenaikan suku bunga acuan yang membuat akan meningkatkan volatilitas di pasar obligasi. 

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia di bulan ini ada dua manajer investasi yang mengumumkan akan meluncurkan produk reksadana terproteksi. Pertama, BNI Asset Managament (BNI AM) akan meluncurkan Reksadana Terproteksi BNI AM Proteksi Canation dan Reksadana Terproteksi BNI AM Proteksi Sakura. 

Kedua, PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen juga akan meluncurkan reksadana Terproteksi Batavia Maxima 39. 

Baca Juga: Net Buy Asing Capai Rp 696 Miliar, Ini Saham yang Banyak Dikoleksi pada Awal Pekan

Eri Kusnadi Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen belum dapat memberikan informasi detil mengenai produk tersebut karena masih proses persiapan dan diskusi dengan agen penjual. Namun, Eri mengatakan harusnya tingkat imbal hasil yang ditawarkan akan cukup menarik bagi investor. 

"Kami sudah menemukan obligasi yang memiliki peringkat kredit baik dan kualitas fundamental yang baik untuk dijadikan aset dari reksadana terproteksi," kata Eri, Senin (18/4). 

Praska Putrantyo CEO Edvisor.id perusahaan riset dan konsultasi investasi, mengatakan prospek reksadana terproteksi di tahun ini bisa terangkat oleh sentimen kenaikan imbal hasil atawa yield obligasi. Hal ini terjadi seiring ekspektasi potensi kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed). Tren memanasnya inflasi tahunan juga mendorong ekspektasi tingkat bunga yang lebih tinggi pada obligasi maupun reksadana terproteksi yang akan terbit. 

Baca Juga: Mencermati Saham-saham Big Cap yang Punya Prospek Apik di Tahun 2022

Minat investor pada reksadana terproteksi yang memberikan imbal hasil pasti ini juga berpotensi lebih tinggi di tengah volatilitas pasar obligasi karena tekanan kenaikan suku bunga. Untuk kelompok obligasi AAA hingga A peningkatan yield mulai terjadi dengan kisaran 6%-8%. "Ke depan kupon berpotensi naik jika suku bunga acuan BI mengalami kenaikan," kata Praska, Senin (18/4). 

Fahmi Arya, CEO Raiz Indonesia menilai reksadana terproteksi dapat dijadikan alternatif investasi di tengah prospek pasar saham yang juga masih akan fluktuatif di tahun ini."Tawaran imbal hasil dari reksadana terproteksi yang Raiz pernah tawarkan cukup atraktif yaitu di 5%-7%," kata Fahmi. 

Sementara itu,  Praska menilai tingkat risiko reksadana terproteksi di tahun ini relatif menurun dibanding tahun lalu atau akan lebih terkendali.  Sentimen positif datang dari risiko bisnis yang dapat mengganggu solvabilitas korporasi penerbit obligasi seharusnya mulai menurun seiring pemulihan ekonomi dan dibukanya aktivitas ekonomi di tengah melandainya pandemi.

"Investor dapat menimbang risiko reksadana terproteksi dengan memperhatikan aset underlyingnya apakah obligasi berasal dari emiten dengan kondisi solvabilitas yang baik atau tidak," kata Praska. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru