Margin emiten konsumer tergerus harga komoditas

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 20:05 WIB   Reporter: Dityasa H. Forddanta
Margin emiten konsumer tergerus harga komoditas

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten konsumer tidak sepenuhnya defensif. Meski tingginya permintaan kebutuhan pokok masih mampu mengerek penjualan, namun tingginya harga komoditas menekan margin bisnis di sektor ini.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) misalnya. Margin laba kotor perusahaan per kuartal kedua tahun ini sebesar 34,8%, jauh lebih rendah dibading kuartal sebelumnya, 38,91%%. 

"Margin mengalami tekanan cukup besar. Ini karena harga komoditas bahan mentah untuk produksi perusahaan mengalami kenaikan selama periode tersebut," terang analis RHB Sekuritas Michael Setjoadi, Kamis (26/8).

Baca Juga: Beban Keuangan Menekan Indofood CBP (ICBP)

Menilik laporan keuangan, selama dua kuartal tahun ini ICBP memang mencatat kenaikan beban produksi 21% menjadi Rp 17,32 triliun dari  Rp 14,24 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan beban produksi didorong oleh kenaikan bahan baku yang digunakan sebesar 24%secara tahunan menjadi Rp 13,71 triliun.

Akibat kenaikan tersebut, ICBP mengakumulasi beban pokok penjualan sebesar Rp 17,77 triliun. Beban ini naik 20,72% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 14,72 triliun.

PT Mayora Indah Tbk (MYOR) mengalami nasib serupa. Natalia Sutanto, analis Danareksa Sekuritas mencermati, harga crude palm oil (CPO) Agustus kemarin mencapai 60% secara tahunan. Harga gandum dan gula juga masing-masing naik 44% dan 47%.

Baca Juga: Kinerja Indofood CBP (ICBP) di semester pertama di bawah ekspektasi

Kenaikan harga komoditas yang terjadi sejak awal tahun menggerus margin laba kotor MYOR menjadi 24,4% pada kuartal kedua kemarin. Padahal, pada kuartal pertama tahun ini, margin laba kotor mencapai 29,6%.

Perusahaan sejatinya bisa menyiasati kenaikan harga komoditas dengan menaikkan harga jual. "Namun, strategi ini sulit diterapkan akibat tekanan ekonomi dampak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM)," tulis Natalia dalam riset.

Mempertimbangkan kondisi tersebut, dia merevisi perkiraan pendapatan MYOR tahun ini menjadi Rp 27,34 triliun dari sebelumnya 27,43 triliun. Perkiraan laba bersih juga diturunkan menjadi Rp 1,99 triliun dari sebelumnya 2,27 triliun. Margin laba kotor MYOR hingga akhir tahun diperkirakan menjadi 29,4% dari sebelumnya 29,3%.

Baca Juga: Margin Mayora Indah bisa menipis di semester kedua, ini rekomendasi saham MYOR

Setidaknya, MYOR masih terbantu oleh segmen pasar ekspor sehingga membuat prospek kinerja tahun ini tetap positif. "MYOR satu-satunya emiten konsumer dengan porsi penjualan ekspor terbesar, mencapai 45% dari total penjualan," imbuhnya.

Dia mempertahankan rekomendasi buy MYOR dengan target harga Rp 2.600 per saham. Saham MYOR kemarin anteng di level Rp 2.200 per saham.

Michael sudah mengantisipasi tekanan harga komoditas terhadap kinerja emiten konsumer. Dia mempertahankan rekomendasi buy ICBP dengan target harga Rp 12.100 per saham. Harga ICBP kemarin berada di level Rp 8.225 per saham.

Baca Juga: Berikut rekomendasi saham Mayora Indah (MYOR) dari NH Korindo Sekuritas

Editor: Handoyo .
Terbaru