MBMA Sempat Naik, Kini Memerah: Cek Profil, Kinerja, hingga Lini Usaha Emiten

Jumat, 20 Februari 2026 | 11:05 WIB
MBMA Sempat Naik, Kini Memerah: Cek Profil, Kinerja, hingga Lini Usaha Emiten

ILUSTRASI. Merdeka Battery Materials, MBMA (DOK/MBMA)


Penulis: Bimo Kresnomurti  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Simak profil emiten MBMA yang menjadi sorotan investor retail.  Pergerakan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) pada pekan ini, khususnya periode 19–20 Februari 2026, menunjukkan dinamika yang cukup fluktuatif.

Setelah sempat mengalami kenaikan pada Kamis, 19 Februari 2026 dengan tertinggi Rp935 per saham, hal ini didorong oleh sentimen positif sektor nikel dan optimisme terhadap prospek bahan baku baterai kendaraan listrik.

Kemudian, harga saham MBMA kemudian berbalik melemah pada Jumat, 20 Februari 2026 dengan kisaran Rp870 per saham.

Lalu, seperti apa profil dari emiten MBMA? Cek lini usaha hingga kinerja keuangan emiten nikel ini.

Baca Juga: Saham Nikel: Kuota Produksi Dipangkas, Siapa Paling Cuan 2026?

Profil MBMA

PT Merdeka Battery Materials Tbk (kode saham MBMA) adalah salah satu emiten terkemuka di sektor pertambangan dan pengolahan nikel di Indonesia, dengan fokus pada rantai nilai baterai kendaraan listrik (EV battery materials).

Perusahaan ini tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 18 April 2023 di Papan Utama setelah IPO yang mengumpulkan dana signifikan. MBMA merupakan anak usaha dari PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan bagian dari Grup Merdeka yang didukung oleh pengusaha Garibaldi 'Boy' Thohir.

Kantor pusat berlokasi di Treasury Tower Lantai 69, District 8 SCBD Lot 28, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.

Baca Juga: Apa Saja Saham Nikel yang Terdaftar di BEI? Ini 10 Daftarnya

Lini Usaha Utama

Melansir laman resminya, MBMA beroperasi secara terintegrasi vertikal dalam rantai nilai nikel dan mineral strategis untuk baterai EV:

  • Pertambangan Nikel: Mengoperasikan tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM Mine) di Konawe, Sulawesi Tenggara, salah satu cadangan nikel terbesar dunia (sekitar 13,8 juta ton nikel dan 1 juta ton kobalt). Produksi utama meliputi bijih limonite dan saprolite.
  • Pengolahan & Smelter: Memiliki smelter Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) untuk menghasilkan Nickel Pig Iron (NPI) dan High-Grade Nickel Matte (HGNM), serta fasilitas Acid Iron Metal (AIM) dan High-Pressure Acid Leach (HPAL) untuk produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai bahan baku baterai.
  • Hilirisasi Baterai: Berfokus pada produksi bahan baku baterai EV (nikel dan kobalt) melalui proyek HPAL dan kemitraan strategis dengan raksasa global seperti Tsingshan, Huayou Cobalt, CATL, dan GEM.

Lokasi Operasional Utama: Tambang dan smelter di Sulawesi Tengah dan Tenggara, termasuk Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP).

Pendapatan utama berasal dari penjualan bijih nikel, NPI, MHP, dan produk turunan, dengan mayoritas diekspor ke China dan pasar global.

Baca Juga: BI Rate Tetap 4,75%, Harga Saham Bank Besar Anjlok, Pilih Beli / Jual?

Susunan Direksi dan Komisaris (Terbaru 2025–2026)

Berdasarkan laporan tahunan 2024 dan perubahan terbaru (per akhir 2025):

Dewan Direksi:

  • Presiden Direktur: Teddy Nuryanto Oetomo
  • Direktur: Titien Supeno
  • Direktur: Anthony Kartono Tan

Dewan Komisaris:

  • Presiden Komisaris: Winato Kartono
  • Komisaris: Michael W.P. Soeryadjaya
  • Komisaris Independen: Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak.

Struktur ini mencerminkan tim manajemen berpengalaman tinggi (rata-rata >25 tahun di pertambangan dan pengolahan) dengan dukungan sponsor kuat dari Grup Merdeka.

Baca Juga: Saham Blue Chip Perbankan Ini Akan Bayar Dividen Jumbo, Diprediksi Hampir Rp 44 T

Kinerja Keuangan Terbaru (9M 2025/Q3 2025)

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per 30 September 2025 pada laman BEI, berikut ini rincian kinerja keuangan MBMA:

  • Pendapatan Bersih: US$935,0 juta (sekitar Rp14,5 triliun, turun 32% YoY karena penurunan kontribusi NPI dan HGNM).
  • EBITDA: US$140 juta (naik 22% YoY berkat efisiensi biaya dan margin lebih baik).
  • Laba Bersih: US$29,62 juta (sekitar Rp460 miliar, turun dari tahun sebelumnya tapi stabil).
  • Aset Total: Tidak disebutkan secara spesifik di Q3, tapi aset tetap kuat di atas US$3 miliar (didorong ekspansi).
  • Utang Bersih: Relatif terkendali dengan rasio DER sehat.
  • Produksi Operasional:Bijih Limonite: 9,9 juta wmt (naik signifikan).
  • Bijih Saprolite: 4,5 juta wmt.
  • NPI: 52.863 ton.
  • MHP: Produksi meningkat melalui HPAL (PT ESG mencapai 7.181 ton nikel di MHP pada Q3).

Pendapatan diprediksi US$1,2–1,4 miliar dengan margin EBITDA tetap kuat; ekspansi HPAL dan AIM on track untuk operasi penuh 2026.

MBMA tetap menjadi pemain kunci di rantai nilai baterai EV Indonesia, dengan kinerja operasional solid meski ada penurunan pendapatan akibat fluktuasi harga nikel global.

Tonton: Menkeu Tolak Usulan IMF Naikkan Pajak Karyawan!

Selanjutnya: Promo JSM Superindo 20-22 Februari 2026, Nata De Coco-Ikan Shisamo Beli 1 Gratis 1

Menarik Dibaca: Promo JSM Superindo 20-22 Februari 2026, Nata De Coco-Ikan Shisamo Beli 1 Gratis 1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru