KONTAN.CO.ID - Simak daftar saham dengan usaha Nikel yang terdaftar di BEI. Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia dengan cadangan melimpah, membuat sektor pertambangan nikel menjadi salah satu primadona di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Melansir laporan Kontan, awal 2026, harga nikel global mulai pulih ke level US$16.000-17.000 per ton, didorong oleh rencana pemerintah memangkas produksi bijih nikel hingga 34% pada 2026 untuk mengatasi oversupply dan menopang harga.
Kebijakan ini membuat saham-saham emiten nikel kompak menguat, seperti NICL yang melonjak 24,75% dan DKFT 21,52% pada perdagangan awal Januari.
Nikmatnya tren transisi energi hijau dan baterai kendaraan listrik (EV) semakin mendorong permintaan nikel, terutama produk hilir seperti nickel matte dan MHP.
Baca Juga: Meroket Hampir 100% Sebulan, Apakah Saham BUMI Layak Beli atau Jual?
Daftar Utama Saham Nikel di BEI
Berikut daftar utama saham perusahaan nikel yang terdaftar di BEI beserta profil singkatnya, dirangkum dari laman BEI.
1. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
ANTM merupakan perusahaan pertambangan milik negara yang berada di bawah holding industri pertambangan MIND ID. Perseroan dikenal sebagai produsen nikel terdiversifikasi dengan produk utama berupa feronikel dan bijih nikel, di samping komoditas lain seperti emas, perak, dan bauksit.
Operasi penambangan nikel ANTM tersebar di wilayah Sulawesi dan Maluku Utara, dengan dukungan fasilitas pengolahan feronikel di Pomalaa. Ke depan, ANTM fokus pada strategi hilirisasi nikel, termasuk pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik, guna meningkatkan nilai tambah dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Baca Juga: Apa Itu Bull Market & Bear Market dalam Pasar Modal? Ini Ciri-cirinya
2. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
INCO merupakan anak usaha dari Vale S.A. Brasil dan menjadi salah satu produsen nikel terbesar dan paling stabil di Indonesia. Perusahaan ini mengoperasikan tambang dan fasilitas pengolahan nikel matte di Sorowako, Sulawesi Selatan, dengan kapasitas produksi sekitar 70.000–75.000 ton per tahun.
Produk nickel matte INCO dikenal memiliki kualitas tinggi dan sebagian besar diekspor ke Jepang untuk kebutuhan industri baja tahan karat. Selain menjaga kinerja operasional yang efisien, INCO juga tengah mengembangkan proyek-proyek pertumbuhan baru di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara untuk memperpanjang umur tambang dan mendukung hilirisasi.
Melansir Kontan, INCO sementara masih menunda operasional Nikel selagi menunggu RKAB dari Kementerian ESDM.
3. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)
NCKL merupakan emiten nikel terintegrasi di bawah Harita Group yang beroperasi di Pulau Obi, Maluku Utara. Perseroan memiliki rantai bisnis yang lengkap mulai dari penambangan bijih nikel hingga pengolahan melalui fasilitas smelter, termasuk teknologi HPAL (High Pressure Acid Leach) untuk menghasilkan bahan baku baterai seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
Dengan fokus pada industri baterai kendaraan listrik, NCKL menjadi salah satu pemain kunci dalam agenda hilirisasi nikel nasional dan memiliki prospek jangka panjang yang kuat seiring meningkatnya permintaan EV global.
Baca Juga: Profil Emiten INPC: Saham Perbankan yang Naik 50% dalam Sebulan Terakhir
4. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)
MBMA adalah anak usaha dari PT Merdeka Copper Gold Tbk yang secara khusus menggarap bisnis pengolahan nikel dan material baterai kendaraan listrik. Perusahaan ini memiliki eksposur kuat terhadap rantai nilai baterai, mulai dari tambang nikel hingga fasilitas pengolahan berteknologi tinggi seperti HPAL.
MBMA diposisikan sebagai pilar pertumbuhan baru grup Merdeka, seiring pergeseran global menuju energi bersih dan elektrifikasi kendaraan. Dengan dukungan mitra strategis dan proyek yang sedang berjalan, MBMA memiliki potensi pertumbuhan signifikan dalam jangka menengah hingga panjang.
5. PT Central Omega Resources Tbk (DKFT)
DKFT merupakan produsen nikel yang beroperasi di Sulawesi Tengah dengan kegiatan utama penambangan bijih nikel dan produksi feronikel. Perseroan memiliki fasilitas smelter dengan kapasitas sekitar 100.000 ton feronikel per tahun, yang mendukung upaya peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri.
DKFT memanfaatkan kebijakan larangan ekspor bijih mentah sebagai peluang untuk memperkuat bisnis pengolahan dan meningkatkan stabilitas pendapatan melalui produk bernilai tambah lebih tinggi.
Baca Juga: Saham Bank Blue Chip Tertekan di Awal 2026, Waktunya Akumulasi atau Jual?
6. PT Harum Energy Tbk (HRUM)
HRUM awalnya dikenal sebagai perusahaan batu bara, namun dalam beberapa tahun terakhir melakukan diversifikasi agresif ke sektor nikel. Perseroan berinvestasi pada sejumlah proyek smelter nikel dan pengolahan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang ditujukan untuk industri baterai.
Transformasi ini menjadikan HRUM sebagai salah satu emiten yang menarik di sektor nikel, dengan potensi lonjakan kinerja keuangan pada 2026 dan seterusnya seiring mulai beroperasinya proyek-proyek baru dan meningkatnya kontribusi dari bisnis non-batu bara.
7. PT PAM Mineral Tbk (NICL)
NICL merupakan emiten pertambangan nikel yang relatif baru di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan ini berfokus pada penambangan bijih nikel di Sulawesi Tenggara dan menargetkan pengembangan bisnis ke arah hilirisasi melalui pembangunan smelter.
Dengan cadangan yang dimiliki dan dukungan kebijakan pemerintah terkait pengolahan mineral di dalam negeri, NICL memiliki peluang untuk tumbuh sebagai pemain nikel menengah dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: Harga Saham Blue Chip LQ45 Rontok Tahun 2025, Cek Prospek 2026
8. PT Ifishdeco Tbk (IFSH)
IFSH bergerak di bidang pertambangan bijih nikel dengan wilayah operasi utama di Sulawesi Tenggara. Perseroan mengelola aktivitas penambangan secara terintegrasi dan berorientasi pada pasokan bijih nikel untuk kebutuhan smelter domestik. IFSH memanfaatkan meningkatnya permintaan nikel seiring pesatnya pembangunan fasilitas pengolahan di Indonesia, sehingga memiliki prospek permintaan yang relatif terjaga.
9. PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE)
NICE merupakan produsen bijih nikel yang beroperasi di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Kegiatan utama perusahaan meliputi eksplorasi dan produksi bijih nikel untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan dalam negeri. Dengan lokasi tambang yang strategis dan kedekatan dengan kawasan industri nikel, NICE berpotensi diuntungkan oleh perkembangan hilirisasi dan meningkatnya kebutuhan bahan baku smelter.
10. PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI)
KKGI dikenal sebagai perusahaan batu bara, namun kini mulai melakukan diversifikasi ke sektor nikel sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Perusahaan ini memiliki aset dan izin tambang nikel di Sulawesi Tenggara yang dikembangkan untuk menangkap peluang dari pertumbuhan industri nikel nasional.
Diversifikasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada batu bara sekaligus membuka sumber pendapatan baru yang berkelanjutan di masa depan.
Peringatan lain yang kadang disebut: MDKA (Merdeka Copper Gold, eksposur nikel via anak usaha), meski bukan pure nikel.
Tonton: Trump Mulai Bahas Caplok Greenland, Militer AS Jadi Opsi
Selanjutnya: Huawei MatePad SE 11: Rekomendasi Tablet Rp 2 Jutaan di 2026
Menarik Dibaca: Tayang 5 Februari, Film Check Out Sekarang, Pay Later Rilis Official Poster & Trailer
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News