KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham pertambangan batubara milik Grup Bakrie dan Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus meroket sejak akhir tahun 2025 hingga awal 2026. Di tengah lonjakan harga, apakah saham BUMI masih layak beli atau jual?
Hingga akhir perdagangan Selasa (6/1/2026), harga saham BUMI berada di posisi Rp 464 per saham atau stagnan dibandingkan perdagangan hari sebelumnya. Meski begitu, pergerakan harga saham ini telah mengakumulasi kenaikan hingga 93,33% sejak sebulan perdagangan terakhir.
Selama enam bulan terakhir, harga saham BUMI terakumulasi meningkat 351 poin atau 310,62%.
Analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai saat ini pergerakan saham BUMI masih berada dalam tren bullish dan belum ada tanda pembalikan arah.
"Kendati begitu, tampaknya beberapa hari ini harga belum mampu menembus level resistance pada Rp 466–Rp 476 karena terdapat tekanan jual," kata Reza kepada Kontan, Selasa (6/1/2026).
Baca Juga: Saham Bank Blue Chip Tertekan di Awal 2026, Waktunya Akumulasi atau Jual?
Rekomendasi Saham BUMI
Reza merekomendasikan investor dan pelaku pasar untuk menerapkan strategi buy on pullback di dekat level support pada Rp 400–Rp 428 dengan target penguatan berada pada level Rp 476–Rp 510.
Dari sisi aksi korporasi, BUMI mengumumkan selesainya proses akuisisi lanjutan terhadap Jubilee Metals Limited (JML).
Perusahaan ini merupakan perusahaan pertambangan yang berfokus pada emas dan beroperasi di Northern Queensland, Australia.
BUMI telah melakukan transaksi pengambilbagian atas sejumlah 3.312.632 saham baru yang diterbitkan oleh JML pada 18 Desember 2025 dengan nilai transaksi sebesar AUD 31.470.004 atau setara Rp 346,93 miliar.
Transaksi dengan perusahaan asal Australia ini terjadi pada 18 Desember 2025. Dengan penyelesaian transaksi ini, BUMI kini resmi menguasai 64,98% saham JML.
Akuisisi JML selaras dengan strategi diversifikasi jangka panjang BUMI yang menargetkan komposisi EBITDA terkonsolidasi 50:50 antara batu bara termal dan aset non-batu bara termal pada tahun 2031.
Selanjutnya: Dari US$ 80 ke US$ 200? Klaim Kiyosaki Soal Perak Tuai Ejekan Warganet
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News