KONTAN.CO.ID - Pahami apa itu Bull Market dan Bear Market pada pasar modal. Kondisi pasar modal merupakan arena dinamis yang selalu bergerak naik-turun, mencerminkan harapan, ketakutan, serta kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Di tengah fluktuasi tersebut, dua istilah klasik yang sering menjadi acuan para investor adalah bull market (pasar banteng) dan bear market (pasar beruang).
Kedua kondisi ini tidak hanya menggambarkan arah tren harga saham dan indeks secara umum, tetapi juga memengaruhi sentimen, strategi investasi, hingga keputusan finansial jutaan orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Baca Juga: IPO Saham SUPA Sukses & Capai ARA Hari Pertama, Cermati Saran Analis
Memahami perbedaan serta ciri-ciri bull dan bear market menjadi bekal penting bagi siapa saja yang ingin bertahan dan berkembang dalam dunia investasi jangka panjang.
Berikut ini definisi masing-masing dari kondisi dua pasar modal tersebut.
1. Bull Market (Pasar Banteng)
Melansir dari Investopedia, Pengertian dari Bull Market adalah Kondisi pasar di mana harga-harga aset (terutama saham) cenderung naik secara konsisten dalam jangka waktu yang relatif panjang.
Ciri-ciri utama:
- Indeks saham utama (misalnya IHSG, S&P 500, Nasdaq) naik minimal 20% dari titik terendah sebelumnya.
- Optimisme investor tinggi.
- Volume perdagangan meningkat.
- Ekonomi biasanya tumbuh baik (PDB naik, pengangguran rendah, laba perusahaan meningkat).
- Investor cenderung "bullish" (yakin harga akan terus naik), sehingga banyak yang membeli saham.
Contoh: Pasar saham Indonesia pada periode 2020–2021 pasca-pandemi awal, di mana IHSG rebound kuat dari level rendah karena stimulus ekonomi dan vaksinasi.
Dampak bagi investor: Peluang keuntungan besar dari kenaikan harga saham, tapi tetap ada risiko koreksi sementara.
Baca Juga: Marak Dividen Jumbo Awal 2026, Saham Apa yang Layak Dibeli Investor Ritel
2. Bear Market (Pasar Beruang)
Sementara itu, Bear Market menjadi penanda kondisi pasar di mana harga-harga aset cenderung turun secara signifikan dalam jangka waktu yang relatif panjang.
Ciri-ciri utama:
- Indeks saham turun minimal 20% dari titik tertinggi sebelumnya.
- Pesimisme investor mendominasi.
- Volume perdagangan bisa menurun atau justru tinggi karena panic selling.
- Biasanya dipicu oleh resesi ekonomi, inflasi tinggi, suku bunga naik, krisis geopolitik, atau gelembung aset pecah.
- Investor cenderung "bearish" (yakin harga akan terus turun), sehingga banyak yang menjual atau menahan uang tunai.
Contoh: Bear market global tahun 2022 akibat kenaikan suku bunga agresif The Fed dan inflasi tinggi, yang membuat banyak indeks saham dunia turun lebih dari 20%.
Dampak bagi investor: Kerugian portofolio jika memegang saham, tapi juga peluang membeli saham bagus dengan harga diskon (strategi "buy the dip").
Investor dapat menyesuaikan strategi: bullish di pasar naik, bearish di pasar turun, dengan memperhatikan volume, sentimen, dan kondisi ekonomi.
Tonton: Asosiasi Pengemudi Ojol Tolak Kenaikan Tarif Ojol Sebelum Perpres Bagi Hasil Terbit
Selanjutnya: Emiten Prajogo Pangestu, Chandra Asri (TPIA) Raih Rp 84 Miliar dari Jual Alat Usaha
Menarik Dibaca: Kim Seon-ho dan Go Youn-jung Siap Beri Kejutan Penggemar di Jakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News