KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pendatang baru di Indeks IDX80 periode Februari-April 2026 masih dalam tren melemah. Apakah saham baru di IDX80 memiliki peluang cuan untuk investasi?
Indeks IDX80 periode Februari-April 2026 kedatangan tiga anggota baru, yakni saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).
Dari tiga saham itu, dua diantaranya dalam tren penurunan harga. Harga saham BREN sejak awal tahun ini hingga 6 Februari 2026 melemah 1.650 poin atau 17,05% ke level 8.025.
Pada saat bersamaan, harga saham CUAN turun ke level 1.630 alias susut 660 poin atau 28,82%. Khusus saham HRTA terakumulasi meningkat 110 poin atau 12% ke level 2.260.
Baca Juga: Aturan Free Float BEI Berubah: BREN, TPIA, HMSP Belum Aman? Wajib Ikuti Langkah Ini
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai kehadiran ketiga saham tersebut memberi warna baru bagi IDX80 yang secara year to date masih berada dalam fase koreksi.
“Masuknya saham berkapitalisasi besar seperti BREN, CUAN, dan HRTA pada dasarnya memberi napas baru bagi IDX80. Ketiganya membawa karakter berbeda namun saling melengkapi dari sisi kapitalisasi, likuiditas, dan cerita pertumbuhan,” ujar Hendra kepada Kontan, Minggu (8/2/2026).
Menurutnya, BREN berpotensi menjadi penopang utama karena bobot kapitalisasi yang besar serta perannya di sektor energi baru terbarukan.
Sementara CUAN membawa tema pertumbuhan berbasis komoditas dengan potensi akselerasi kinerja, dan HRTA merepresentasikan sektor emas yang cenderung defensif di tengah ketidakpastian global.
“Kombinasi ini membuat IDX80 lebih dinamis, meskipun belum sepenuhnya lepas dari tekanan sentimen makro,” tambahnya.
Tonton: Arab Saudi Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Lebih Awal, Indonesia Kapan?
Dari sisi aliran dana, Hendra menilai pasca rebalancing, daya tarik BREN, CUAN, dan HRTA cenderung meningkat, terutama dari dana institusi dan dana pasif yang menjadikan IDX80 sebagai acuan portofolio.
“Masuknya saham ke dalam indeks umumnya diikuti pembelian bertahap dari reksadana indeks dan ETF, sehingga berdampak positif terhadap likuiditas dan volume transaksi,” jelasnya.
Ia menambahkan, BREN dan CUAN berpotensi menjadi magnet utama arus dana karena kapitalisasi dan frekuensi perdagangannya yang tinggi.
Adapun HRTA diuntungkan oleh meningkatnya minat investor terhadap saham berbasis emas, seiring ekspektasi penurunan suku bunga global dan meningkatnya kebutuhan lindung nilai.
Meski demikian, Hendra mengingatkan bahwa masuknya BREN dan CUAN juga membawa konsekuensi meningkatnya volatilitas IDX80 dibandingkan saham-saham yang keluar, seperti AVIA, LSIP, dan PNBN yang cenderung lebih defensif.
“Profil risiko indeks menjadi sedikit lebih agresif, dengan potensi fluktuasi yang lebih lebar. Namun di sisi lain, volatilitas ini membuka peluang return lebih besar ketika sentimen pasar membaik dan risk appetite investor kembali meningkat,” ujarnya.
Sepanjang 2026, IDX80 diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat bertahap, seiring potensi pelonggaran kebijakan moneter global dan stabilisasi ekonomi domestik.
Dalam konteks tersebut, Hendra menilai BREN menarik untuk strategi buy on weakness di area Rp7.600 dengan target Rp8.800, sementara CUAN dapat dicermati di area Rp1.500 dengan target Rp2.000.
Adapun HRTA dinilai lebih sesuai untuk strategi trading buy dengan target Rp2.500, memanfaatkan sentimen harga emas.
“Investor sebaiknya tetap selektif dan disiplin, tidak mengejar harga saat euforia rebalancing. Fase konsolidasi justru bisa dimanfaatkan sebagai titik akumulasi,” pungkasnya.
Selanjutnya: TRK Valves Perluas Jejak Global Lewat LNG 2026
Menarik Dibaca: Hasil BATC 2026: Kalah dari Jepang, Tim Putra Indonesia Raih Medali Perunggu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News