KONTAN.CO.ID - Simak profil emiten AADI yang menguat saat IHSG melemah. Di awal 2026 (Januari–Februari), ketika IHSG mengalami koreksi tajam, bahkan sempat anjlok hingga ke level 7.922 pada pertengahan Januari akibat aksi jual global, kejatuhan harga komoditas, sentimen hawkish The Fed, dan tekanan saham-saham batubara.
Terakhir, saat IHSG memerah pada Senin, 2 Februari 2026, saham AADI memiliki kinerja positif.
Saham ini bertahan atau bahkan menguat relatif dibandingkan indeks, didorong oleh fundamental kuat seperti permintaan batubara stabil dari pasar domestik (PLTU) dan ekspor, serta valuasi yang dianggap murah pasca-IPO.
Lalu, seperti apa profil dari emiten anak usaha dari Adaro Energy ini? Cek penjelasan selengkapnya.
Baca Juga: Harga Emas Jatuh, Emiten Produsen Emas Ikut Rontok, Saatnya Beli / Jual?
Profil Emiten AADI
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (kode saham: AADI) adalah emiten pertambangan batubara termal yang relatif baru di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan ini merupakan anak usaha dari grup Adaro Energy (ADRO) dan resmi melantai melalui IPO pada 5 Desember 2024 dengan harga penawaran Rp5.550 per saham.
Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp57–62 triliun (per akhir 2025/awal 2026), AADI fokus pada produksi dan penjualan batubara berkualitas tinggi dari wilayah operasi utama di Kalimantan Selatan dan sekitarnya.
Emiten ini dikenal sebagai pemain besar di sektor energi fosil, dengan cadangan batubara yang signifikan dan operasi efisien, sehingga sering menjadi pilihan investor value di tengah volatilitas komoditas.
Baca Juga: Pasar Saham Awal Feb 2026 Tertekan, Ini Rekomendasi untuk Investor Ritel Raih Cuan
Lini Usaha Utama
AADI beroperasi di sektor pertambangan dan perdagangan batubara termal (thermal coal), dengan fokus pada produksi batubara sub-bituminous berkalori tinggi yang cocok untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Lini usaha mencakup:
- Penambangan batubara: Operasi tambang terbuka di Kalimantan Selatan, dengan kapasitas produksi jutaan ton per tahun.
- Pengolahan dan pengangkutan: Termasuk crushing, blending, dan logistik (jalur sungai dan kereta) untuk efisiensi biaya.
- Penjualan dan pemasaran: Mayoritas untuk pasar domestik (PLN dan industri) serta ekspor ke Asia (India, China, Jepang).
- Bisnis pendukung: Infrastruktur tambang, jasa kontraktor, dan mungkin ekspansi ke energi terbarukan di masa depan sesuai strategi grup Adaro.
Perusahaan ini memanfaatkan sinergi dengan grup Adaro Energy untuk rantai pasok terintegrasi, sehingga biaya produksi relatif rendah dan marjin kompetitif.
Baca Juga: AMMN Sempat Naik saat IHSG Merah: Kenali Profil, Lini Usaha, dan Kinerja Emiten
Susunan Direksi dan Dewan Komisaris
Susunan direksi AADI masih mengikuti struktur grup Adaro, dengan beberapa perubahan pasca-IPO 2024.
Berdasarkan data keterbukaan informasi BEI dan situs perusahaan:
Direktur
- Julius Aslan sebagai Direktur Utama
- Priyadi sebagai Direktur
- Lie Luckman sebagai Direktur
- Susanti sebagai Direktur
Komisaris
- Budi Bowoleksono sebagai Komisaris Utama
- Primus Dorimulu sebagai Komisaris
Dipimpin oleh komisaris independen dan perwakilan pemegang saham utama (PT Adaro Energy Tbk dan entitas terkait).
Pemegang saham mayoritas adalah PT Adaro Energy dan afiliasi (di atas 70%), dengan free float sekitar 10% pasca-IPO. Struktur ini menjamin stabilitas manajemen dan sinergi grup.
Baca Juga: Pjs Dirut BEI Segera Diumumkan, Nama Jeffrey hingga Kartika & Pahala Mencuat
Kinerja Keuangan Q3 2025 (Januari–September 2025)
Melansir data BEI, AADI merilis laporan keuangan 9M 2025 pada November 2025, menunjukkan performa yang solid meski ada penurunan YoY akibat fluktuasi harga batubara global:
- Pendapatan usaha → USD 3,61 miliar (turun 10,89% YoY) karena harga batubara rata-rata lebih rendah dibandingkan 2024.
- Laba bersih → USD 587,32 juta (setara sekitar Rp9,80 triliun), jeblok 45–46% YoY karena margin tertekan dan biaya operasional naik.
- EPS (laba per saham) → USD 0,07542 (turun dari USD 0,15335 sebelumnya).
- Market cap → Sekitar USD 3–4 miliar (Rp57–62 triliun), dengan trailing P/E rendah sekitar 4–5x, menunjukkan valuasi murah.
- Aspek positif → Volume produksi dan penjualan tetap stabil, cadangan batubara besar, dan kontribusi domestik kuat. Perusahaan juga menunjukkan ketahanan di tengah transisi energi, dengan rencana diversifikasi.
Secara keseluruhan, AADI tetap menarik bagi investor jangka panjang karena posisi kuat di sektor batubara domestik, meski volatil di tengah isu lingkungan dan transisi energi.
Tonton: Kasus TBC di Indonesia Tertinggi Kedua di Dunia, Prabowo Panggil Wamenkes yang Ahli Paru
Selanjutnya: Samsung Galaxy A35 HP Rp 4 Jutaan: Layar AMOLED Juara, Baterai Tahan Lama
Menarik Dibaca: Samsung Galaxy A35 HP Rp 4 Jutaan: Layar AMOLED Juara, Baterai Tahan Lama
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News