KONTAN.CO.ID - Saham sejumlah operator bursa besar di Amerika Serikat melemah pada perdagangan Selasa (2/6) waktu setempat.
Penurunan ini terjadi setelah regulator membuka jalan bagi peluncuran kontrak perpetual futures untuk aset kripto, memicu kekhawatiran investor terhadap potensi perubahan besar di pasar derivatif.
Mengutip Reuters, saham Cboe Global Markets tercatat turun sekitar 9%. Sementara itu, CME Group dan Intercontinental Exchange (ICE), perusahaan induk Bursa Efek New York (NYSE), masing-masing melemah sekitar 4%.
Sentimen negatif muncul setelah Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menyetujui kehadiran perpetual futures kripto di bursa domestik yang teregulasi di AS.
Ini menjadi pertama kalinya instrumen tersebut tersedia bagi investor AS melalui platform resmi dalam negeri.
Baca Juga: Dividen MAIN Rp52 per Saham, Yield 3x Bunga Deposito! Catat Jadwal Pembayaran
Apa Itu Perpetual Futures?
Perpetual futures atau sering disebut "perps" merupakan produk derivatif yang tidak memiliki tanggal jatuh tempo seperti kontrak futures tradisional.
Instrumen ini selama ini lebih banyak diperdagangkan di bursa kripto luar negeri dan dikenal memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi.
Popularitasnya terutama didorong oleh investor ritel karena menawarkan penggunaan leverage besar dan strategi perdagangan jangka pendek.
Persetujuan regulator AS terhadap produk tersebut memicu kekhawatiran bahwa konsep serupa nantinya dapat diperluas ke kelas aset lain, termasuk saham dan komoditas.
Analis TD Cowen, Bill Katz, menilai perhatian pasar kini tertuju pada seberapa cepat regulator akan memberikan izin bagi produk perpetual futures di sektor lain.
"Pertanyaannya adalah seberapa cepat perpetual futures dapat disetujui untuk aset lain seperti saham dan komoditas," ujarnya.
Baca Juga: Cum Dividen Hari Ini (3/6), Harga Saham dengan Yield Dividen 9% Ini Masih Anjlok 32%
Dampak ke CME dan ICE
Analis RBC Capital Markets, Ashish Sabadra, menilai risiko persaingan masih bisa dikelola karena terdapat perbedaan mendasar antara perpetual futures dan kontrak futures tradisional.
"Kami meyakini risiko persaingan masih dapat dikelola mengingat adanya perbedaan fundamental produk dan keunggulan struktural yang dimiliki kedua bursa (Cboe dan CME)," ujar Sabadra.
Pandangan serupa disampaikan analis Raymond James, Patrick O'Shaughnessy. Ia menilai perpetual futures lebih cocok untuk aktivitas spekulasi investor ritel dibandingkan kebutuhan lindung nilai.
"Kontrak ini tidak dirancang untuk lindung nilai, melainkan lebih berorientasi pada spekulasi investor ritel. Karena itu, sulit membayangkan perpetual futures dapat menggantikan likuiditas dan volume perdagangan yang saat ini dimiliki CME Group dan ICE," kata O'Shaughnessy.
Saat ini, perpetual futures memang semakin populer di kalangan trader ritel berkat leverage tinggi dan periode kepemilikan yang relatif singkat.
Namun, permintaan dari investor institusi masih terbatas sehingga analis belum melihat ancaman langsung terhadap dominasi kontrak futures tradisional.
Baca Juga: Apa Itu FTSE Russell yang Coret 8 Saham RI? Ini Pengertian hingga Dampaknya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News