Sudah turun dalam, ini rekomendasi analis untuk saham Unilever Indonesia (UNVR)

Kamis, 15 Juli 2021 | 06:15 WIB   Reporter: Hikma Dirgantara
Sudah turun dalam, ini rekomendasi analis untuk saham Unilever Indonesia (UNVR)

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dinilai masih punya jalan yang panjang untuk menuju pemulihan. Di satu sisi, berbagai sentimen negatif justru tengah menyelimuti prospek emiten consumer staples ini.

Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia Edward Tanuwijaya dalam risetnya pada 27 Mei menuliskan, UNVR masih punya jalan yang panjang menuju pemulihan. Menurutnya, dengan kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlarut-larut, masyarakat lebih memfokuskan pengeluarannya pada makanan segar dan FMCG.

“Sementara barang-barang rumah tangga dan perawatan pribadi tidak diprioritaskan untuk saat ini, padahal keduanya berkontribusi terhadap 71% penjualan UNVR. Belum lagi, UNVR juga harus menghadapi tantangan dari persaingan yang lebih ketat untuk segmen ini,” tulis Edward dalam risetnya. 

Di tengah pelemahan daya beli masyarakat akibat pandemi yang berkepanjangan, UNVR pun menyiasatinya dengan membuat lebih banyak produk sasetan berharga lebih murah juga berinovasi ke produk yang diperlukan saat pandemi.

Baca Juga: Rutin lakukan testing, Unilever Indonesia gunakan Abbott Panbio Antigen Nasal

Hanya saja, analis Samuel Sekuritas Nasrullah Putra Sulaeman melihat langkah tersebut sebatas membuat UNVR tetap mempertahankan pangsa pasarnya. Pasalnya, kompetitor UNVR saat ini juga melakukan hal yang serupa. Oleh karena itu, ia melihat ke depan kompetisi masih akan tetap ketat.

Di satu sisi, ia bilang, saat ini UNVR cenderung diselimuti sentimen negatif, yakni kenaikan harga komoditas seperti CPO dan minyak mentah. Hal ini menjadi katalis negatif mengingat bahan baku menyumbang 83% Cost of Goods Sold (COGS) di mana sebagian besar terkait dengan CPO dan minyak mentah.

“Pada akhirnya, kenaikan harga soft commodities juga menjadi kekhawatiran untuk investor dikarenakan margin UNVR yang terancam terpangkas. Apalagi pertumbuhan ekonomi yang cenderung lemah semakin menekan daya beli masyarakat ke depan,” kata Nasrullah kepada Kontan.co.id, Rabu (14/7).

 

 

Lebih lanjut, Edward juga melihat kebijakan perubahan pembobotan menjadi berbasis free float juga akan menjadi sentimen negatif untuk saham UNVR. Pasalnya, UNVR memiliki presentase free float yang rendah, yakni 15%, sehingga pembobotannya turun dari 3,1% menjadi 1,4% atau turun 1,7%.

Baca Juga: Investor asing net buy Rp 211 miliar meski IHSG anjlok 1,09% ke 6.012, Selasa (13/7)

Editor: Noverius Laoli
Terbaru