Wall Street Perkasa: Dow Jones, S&P 500 dan Nasdaq Ditutup Naik Lebih dari 2%

Selasa, 04 Oktober 2022 | 08:00 WIB Sumber: Reuters
Wall Street Perkasa: Dow Jones, S&P 500 dan Nasdaq Ditutup Naik Lebih dari 2%

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street tampil perkasa setelah tiga indeks utama ditutup menguat lebih dari 2% di awal pekan ini. Dorongan bagi pasar saham Amerika serikat (AS) datang dari imbal hasil US Treasury yang jatuh usai data manufaktur yang lebih lemah dari perkiraan, yang meningkatkan daya tarik saham di awal kuartal terakhir tahun ini.

Senin (3/10), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 2,66% menjadi 29.490,89; indeks S&P 500 melesat 2,59% ke 3.678,43 dan indeks Nasdaq Composite melonjak 2,27% pada 10.815,44.

11 Sektor utama pada indeks S&P 500 naik ke wilayah positif, dengan sektor energi menjadi indeks sektoral dengan penguatan terbesar.

Pada sesi kali ini, saham perusahaan minyak Exxon Mobil Corp dan Chevron Corp naik lebih dari 5%, mengikuti lonjakan harga minyak mentah setelah sumber mengatakan OPEC+ sedang mempertimbangkan pengurangan produksi terbesar mereka sejak awal pandemi COVID -19.

Saham perusahaan megacap dan perusahaan teknologi seperti Apple Inc dan Microsoft, masing-masing naik lebih dari 3%, sementara sektor bank naik 3%.

Pasar saham Amerika Serikat (AS) telah mengalami penurunan tiga kuartal berturut-turut dalam tahun yang penuh gejolak, yang ditandai oleh kenaikan suku bunga untuk menjinakkan inflasi yang tinggi secara historis, dan kekhawatiran tentang ekonomi yang melambat.

Baca Juga: Wall Street Menguat di Awal Perdagangan Kuartal Keempat 2022

"Pasar imbal hasil AS (sedang) melemah, itu positif ... dan itu berkonotasi dengan lingkungan yang lebih berisiko," kata Art Hogan, Chief Market Strategist di B. Riley Wealth di Boston.

Lebih lanjut, sentimen yang mendukung kenaikan saham yang sensitif terhadap suku bunga, imbal hasil US Treasury tenor 10-tahun turun setelah Perdana Menteri Inggris Liz Truss dipaksa untuk membalikkan arah pemotongan pajak untuk tingkat tertinggi.

Di awal bulan Oktober ini, data terbaru menunjukkan, aktivitas manufaktur meningkat pada laju paling lambat dalam hampir 2,5 tahun pada September karena pesanan baru berkontraksi, kemungkinan karena kenaikan suku bunga untuk menjinakkan inflasi mendinginkan permintaan barang.

Institute for Supply Management mengatakan, PMI manufaktur turun menjadi 50,9 bulan ini, meleset dari perkiraan walau tetap masih di atas 50, yang menunjukkan pertumbuhan.

"Aliran data ekonomi sebenarnya datang lebih buruk dari yang diharapkan. Dengan cara yang sangat berlawanan dengan intuisi yang kemungkinan mewakili kabar baik untuk pasar ekuitas," kata Hogan.

"(Sementara) data ekonomi yang baik, pembacaan yang kuat telah menjadi katalis untuk penjualan, ini adalah pertama kalinya kami benar-benar melihat beberapa berita negatif menjadi katalis."

Ketiga indeks utama mengakhiri kuartal ketiga yang bergejolak lebih rendah pada hari Jumat (30/9), di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa kebijakan moneter agresif Federal Reserve akan mengarahkan ekonomi ke dalam resesi.

Baca Juga: Kelompok Pro-Rusia Galang Dana dalam Kripto untuk Dukung Operasi Militer di Ukraina

Pada sesi ini, saham Tesla Inc anjlok 8,6% setelah menjual kendaraan lebih sedikit dari perkiraan pada kuartal ketiga karena pengiriman tertinggal jauh di belakang produksi akibat hambatan logistik. Sementara itu, saham pesaingnya, Lucid Group naik 0,9% dan Rivian Automotive turun 3,1%.

Pembuat mobil besar diperkirakan akan melaporkan penurunan moderat dalam penjualan kendaraan baru di AS, tetapi analis dan investor khawatir bahwa gambaran ekonomi yang semakin gelap, bukan kekurangan persediaan, akan menyebabkan penjualan mobil yang lebih lemah.

Citigroup dan Credit Suisse menjadi broker terbaru yang menurunkan target akhir tahun 2022 untuk indeks S&P 500, karena pasar ekuitas AS menanggung panasnya tindakan bank sentral yang agresif untuk menekan inflasi.

Credit Suisse juga menetapkan target harga akhir tahun 2023 untuk indeks acuan pada 4.050 poin, menambahkan bahwa 2023 akan menjadi "tahun pertumbuhan yang lemah, non-resesi dan penurunan inflasi."

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru