Ada sejumlah saham yang jadi laggard IHSG, berikut prospeknya menurut analis

Minggu, 13 Juni 2021 | 22:59 WIB   Reporter: Nur Qolbi
Ada sejumlah saham yang jadi laggard IHSG, berikut prospeknya menurut analis

ILUSTRASI. Petugas kebersihan melintasi layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak awal tahun 2021 sampai dengan Jumat (11/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,95% ke level 6.095,50. Meskipun begitu, ada sejumlah saham yang menjadi pemberat (laggard) IHSG.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, sepuluh saham teratas yang menjadi laggard IHSG adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Bank Mayapada Tbk (MAYA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Pollux Properti Indonesia Tbk (POLL), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Baca Juga: Jelang FOMC dan RDG BI, IHSG diprediksi bergerak menguat

Secara total, per Jumat (11/6), kapitalisasi pasar sepuluh emiten tersebut mencapai Rp 1.776 triliun. Meskipun begitu, ada dua saham yang menjadi langganan laggard IHSG sepanjang tahun ini, yaitu UNVR dan HMSP.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama menilai, penurunan yang terjadi pada dua saham tersebut seiring dengan ekspektasi pelaku pasar yang lebih rendah terhadap kinerja emiten pada semester 1 2021.

Hal tersebut tercermin dari daya beli masyarakat sepanjang paruh pertama tahun ini yang belum pulih sepenuhnya.

"Ekspektasi pelaku pasar yang lebih rendah memberikan tekanan pada pergerakan harga saham," kata Okie saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (13/6). Okie menyarankan investor untuk wait and see terhadap saham UNVR dan HMSP.

Bernada serupa, Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony mengatakan, penurunam harga saham sektor barang konsumsi disebabkan oleh penurunan daya beli ditambah dengan aturan-aturan pemerintah yang memberatkan.

"Secara valuasi memang terbilang murah, tetapi perlu diperhatikan juga sentimen-sentimen pendukungnya. Untuk saat ini sektor consumer sebaiknya wait and see terlebih dahulu, khususnya UNVR dan HMSP," tutur Chris.

Untuk ke depannya, Chris melihat prospek saham-saham barang konsumsi dan saham lainnya masih akan cenderung baik. Akan tetapi, untuk tahun ini masih belum menarik, mengingat ekonomi yang baru masuk ke dalam tahap pemulihan awal.

Di sisi lain, menurut Okie, pemulihan ekonomi di tahun 2021 ini dapat mengakselerasi kinerja dari emiten perbankan seiring dengan membaiknya kualitas kredit dan tren ekspansi dari sektor riil yang dapat menopang pertumbuhan kredit.

Baca Juga: Menguat sepekan, kurs rupiah akan bergerak tipis pada Senin (14/6)

Perkembangan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan vaksinasi juga diharapkan dapat menopang optimisme pelaku industri ke depan.

Khusus untuk ICBP, menurut Chris, aksi korporasi ICBP berupa akuisisi Pinehill kemungkinan dapat mempertahankan pertumbuhan kinerja perusahaan.

Sementara ASII akan terdorong sentimen positif pemerintah berupa perpanjangan penurunan PPnBM yang dapat meningkatkan penjualan mobil ke depannya.

Oleh karena itu, Chris merekomendasikan buy ICBP dengan target harga Rp 10.000 per saham dan ASII Rp 7.000 per saham. Sementara Okie merekomendasikan buy BBCA dengan target harga Rp 34.450 per saham meski menurut dia, valuasi BBCA saat ini berada pada harga yang premium.

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Yudho Winarto
Terbaru