Bursa

Begini strategi investasi obligasi untuk tahun depan

Rabu, 30 Desember 2020 | 10:10 WIB   Reporter: Hikma Dirgantara
Begini strategi investasi obligasi untuk tahun depan


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investasi pada instrumen surat utang diperkirakan masih positif tahun depan. Selain mendapatkan imbal hasil berupa bunga, kondisi suku bunga acuan yang masih rendah dan kebijakan moneter lainnya menyebabkan masih ada potensi kenaikan harga obligasi.

Secara year to date (ytd), kinerja obligasi negara yang tercermin dari INDOBEX Government Total Return tercatat tumbuh 14,74%. Sedangkan kinerja obligasi korporasi yang tercermin dari INDOBEX Corporate Total Return tercatat tumbuh 10,98% secara ytd tahun ini.

Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana mengungkapkan, secara umum prospek pasar obligasi pada 2021 masih akan tetap positif. Salah satu faktor utama pendukungnya disebut Fikri berasal dari tren suku bunga rendah serta kebijakan ultra loose monetary. Kedua hal ini dinilai akan membuat yield obligasi bergerak turun lagi pada tahun depan.

“Di satu sisi risk appetite investor global terhadap emerging markets meningkat seiring yield di negara maju yang rendah. Akhirnya investor global akan mengalihkan dananya ke negara yang punya risiko terjaga dan yield menarik, Indonesia adalah salah satunya,” kata Fikri ketika dihubungi Kontan.co.id, Selasa (29/12).

Baca Juga: Lihat situasi, Krakatau Steel (KRAS) belum pastikan rencana IPO anak usaha

Fikri menyebut, likuiditas tak hanya akan datang dari luar negeri tapi juga dari dalam negeri. Hal ini seiring dengan adanya pembentukan sovereign wealth fund (SWF) yang diperkirakan akan menambah likuiditas.

Lebih lanjut, Fikri melihat fase pemulihan ekonomi justru berpeluang memberikan sentimen negatif baik ketika pemulihan berjalan sesuai harapan maupun ketika tidak sesuai harapan. Dia mencontohkan ketika pemulihan berjalan normal, maka likuiditas akan berkurang drastis.

Pertimbangannya adalah ketika pertumbuhan ekonomi baik, praktis perkreditan di perbankan akan kembali berjalan. Padahal, perbankan punya peran besar di SBN sebagai investor terbesar. Dengan keluarnya perbankan dari pasar obligasi, hal tersebut akan berpotensi menekan yield SBN.

Baca Juga: Dari empat saham bank, hanya BBCA yang masih mencatat net buy asing sebulan terakhir

Editor: Wahyu T.Rahmawati


Terbaru