KONTAN.CO.ID - Simak profil CBRE jelang right issue jumbo. Saham PT Cakra Buana Resources Energi Tbk atau CBRE tengah menjadi sorotan pasar menjelang pelaksanaan rights issue jumbo senilai sekitar Rp 1,9 triliun.
Aksi korporasi ini dinilai menjadi langkah strategis perseroan untuk memperkuat struktur permodalan, melakukan konversi utang, hingga mendukung ekspansi armada offshore.
Berdasarkan keterbukaan informasi, CBRE berencana menerbitkan maksimal 12,76 miliar saham baru melalui Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I. Harga pelaksanaan rights issue diperkirakan berada di kisaran Rp100-Rp150 per saham.
Baca Juga: Cakra Buana Resources Energi (CBRE) Incar Dana Jumbo Rp 1,9 Triliun dari Rights Issue
Setiap pemegang 90 saham lama yang tercatat pada 2 Juni 2026 berhak memperoleh 253 HMETD, di mana setiap 1 HMETD memberikan hak membeli 1 saham baru. Perdagangan dan pelaksanaan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 4-10 Juni 2026.
Menjelang rights issue, saham CBRE juga mengalami volatilitas tinggi dan sempat menyentuh Auto Reject Atas (ARA). Manajemen menyebut antusiasme pasar berkaitan dengan rencana ekspansi dan aksi korporasi perseroan.
Lalu, seperti apa profil dari emiten ini? Cek lini usaha hingga kinerja keuangan terbarunya.
Baca Juga: Prospek Cerah Valuasi Murah, Saham TLKM Jadi Buruan Utama Institusi Asing BNY Mellon
Profil dan lini usaha CBRE
PT Cakra Buana Resources Energi Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di sektor energi dan jasa penunjang pelayaran offshore. Perseroan fokus pada penyediaan armada kapal untuk mendukung industri minyak, gas, dan energi lepas pantai.
Dalam beberapa tahun terakhir, CBRE mulai melakukan transformasi bisnis dengan memperkuat bisnis offshore support vessel (OSV) dan kapal pendukung energi. Perseroan juga mulai mengembangkan bisnis terintegrasi di sektor energi dan logistik maritim.
Dana hasil rights issue sebagian akan digunakan untuk pembelian kapal Anchor Handling Tug Supply (AHTS), modal kerja, serta konversi utang menjadi ekuitas.
Selain itu, CBRE disebut tengah memperkuat kontrak dan utilisasi armada, termasuk kapal Hai Long yang mulai beroperasi sejak kuartal IV-2025.
Baca Juga: Right Issue RMKO Memicu Harapan Jangka Pendek, namun Ketidakpastian Masih Tinggi
Struktur pemegang saham CBRE
Menjelang rights issue, struktur kepemilikan saham CBRE masih didominasi investor pengendali. Berikut pemegang saham utama CBRE:
| Pemegang Saham | Kepemilikan |
|---|---|
| PT Omudas Investment Holdco | 61,13% |
| PT Republik Capital Indonesia | 11,30% |
| Andry Hakim | 5,07% |
| Gabriel Rey melalui PT Pukul Rata Kanan | 1,01% |
Masuknya investor baru seperti Gabriel Rey dan meningkatnya kepemilikan Andry Hakim turut menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi ini dinilai memberikan sentimen positif terhadap prospek rights issue perseroan.
Baca Juga: Saham COCO Segera Rights Issue, Cek Profil Emiten hingga Kinerjanya
Kinerja keuangan terbaru CBRE
Melansir BEI, CBRE mencatat pertumbuhan signifikan pada kuartal I-2026. Pendapatan perseroan mencapai Rp67,35 miliar per 31 Maret 2026 atau melonjak sekitar 210% secara year on year dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp21,68 miliar.
Menariknya, pendapatan kuartal I-2026 tersebut sudah melampaui total pendapatan sepanjang tahun 2025 yang sebesar Rp55,16 miliar. Peningkatan ini didorong kenaikan utilisasi armada dan mulai beroperasinya kapal strategis milik perseroan.
Di sisi lain, rights issue juga diarahkan untuk memperbaiki struktur keuangan. Sebagian dana hasil aksi korporasi akan digunakan untuk konversi utang sekitar Rp924 miliar kepada sejumlah pihak terkait.
Di kalangan investor ritel, rights issue CBRE juga ramai diperbincangkan di forum komunitas saham. Sebagian investor melihat potensi ekspansi armada dan penguatan modal sebagai katalis positif, sementara sebagian lain menyoroti risiko dilusi akibat penerbitan saham baru dalam jumlah besar.
Tonton: Trump Mendadak Batalkan Pernikahan Anak, AS Bersiap Serang Iran?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News