Rekomendasi

Cek Rekomendasi Saham BUMI, BRMS, dan ENRG Usai Naik Kasta ke Papan Utama

Kamis, 24 November 2022 | 19:54 WIB   Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Cek Rekomendasi Saham BUMI, BRMS, dan ENRG Usai Naik Kasta ke Papan Utama

ILUSTRASI. Tiga emiten komoditas-energi afiliasi Grup Bakrie berhasil naik kasta di papan pencatatan Bursa Efek Indonesia (BEI).

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tiga emiten komoditas-energi afiliasi Grup Bakrie berhasil naik kasta di papan pencatatan Bursa Efek Indonesia (BEI). Ketiganya berpindah dari papan pengembangan ke papan utama. 

Mereka adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Secara total, ada 11 emiten yang naik ke papan utama dengan masa efektif mulai 30 November 2022.

Direktur & Corporate Secretary BUMI, Dileep Srivastava mengomentari perubahan status papan pencatatan tersebut. "BEI berpandangan hingga November 2022 BUMI telah memenuhi kriteria untuk tercatat di papan utama," ujarnya dalam rilis yang disiarkan, Kamis (24/11).

Baca Juga: Pasar Batubara Ramai Sentimen, Intip Rekomendasi Sahamnya

Asal tahu saja, ada sejumlah syarat yang mesti dipenuhi agar emiten bisa masuk ke papan utama. Di antaranya, harus membukukan laba usaha pada satu tahun buku terakhir, serta harus memiliki aktiva berwujud bersih minimal Rp 100 miliar.

Syarat berikutnya, jumlah saham yang dimiliki bukan pengendali & bukan pemegang saham utama minimal 300 juta saham. Kemudian, jumlah pemegang saham minimal 1.000 pihak.

Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengungkapkan, dengan memenuhi syarat papan utama, maka emiten tersebut dinilai sudah tergolong sebagai perusahaan besar dan memiliki historikal keuangan apik.

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menambahkan, ketiga emiten komoditas-energi Grup Bakrie itu telah mencetak pertumbuhan kinerja yang signifikan. Pendongkrak utamanya adalah lonjakan harga komoditas, terutama batubara.

Baca Juga: Kasus Covid China Meledak, Emiten Batubara Mana yang Paling Terdampak?

Tengok saja pendapatan BUMI yang sampai dengan kuartal ketiga 2022 melesat 109,37% secara tahunan (YoY) menjadi US$ 1,39 miliar. Sedangkan laba bersihnya meroket 473,76% YoY ke angka US$ 365,49 juta.

Angin segar masih bertiup lantaran harga batubara masih bertengger di level tinggi, yakni US$ 350-an per ton. Apalagi, BUMI merupakan produsen batubara terbesar di Indonesia.

Selain itu tambahan modal dari aksi private placement sebesar Rp 24 triliun akan memperbaiki struktur permodalan secara signifikan. Antara lain dari posisi Debt to Equity Ratio (DER) yang saat ini lebih dari 3x, nantinya akan terpangkas menjadi di bawah 1x.

Hal ini memberikan sinyal kondisi keuangan yang sehat, dan peluang mendongkrak profitabilitas semakin terbuka. "Beban utang selama ini menjadi penghambat kinerja dan dihindari para investor. Penurunannya tentu menjadi katalis yang kuat bagi BUMI," terang Pandhu kepada Kontan.co.id, Kamis (24/11).

Baca Juga: Kasus Covid China Meledak, Emiten Batubara Mana yang Paling Terdampak?

Sedangkan untuk BRMS, Pandhu melihat kinerjanya pada tahun ini cenderung stagnan. Namun, prospek BRMS akan mengkilap dari masuknya Grup Salim dan beroperasinya pabrik emas kedua dengan kapasitas mencapai 4.000 ton per hari.

Dampaknya akan signifikan, mengingat selama ini kapasitas dari BRMS hanya 500 ton per hari. BRMS pun diuntungkan dari pergerakan harga emas. Meski harga emas turun, tapi masih cukup jauh dari cash cost BRMS yang hanya sekitar US$  900 - US$ 1.100 per ounce.

Sedangkan saat ini harga emas masih bertahan di atas level US$ 1.750 per ons troi. "Masih terdapat profit margin yang lumayan tinggi," imbuh Pandhu. 

Sementara itu, ENRG diuntungkan oleh kenaikan harga gas dan minyak. Sehingga laba bersih per kuartal III-2022 pun meroket 138,46%. Hanya saja, ada kemungkinan pada kuartal keempat kinera ENRG akan melambat, seiring pelemahan harga minyak.

Baca Juga: Banyak Sentimen Positif, Kapan Waktu Tepat Beli atau Jual Saham BUMI?

Rekomendasi Saham

Meski naik kasta ke papan utama, tapi gerak saham BUMI, BRMS, dan ENRG malah kompak merosot. Pada perdagangan hari ini, saham BUMI ambles 3,08% ke harga Rp 189.

BRMS turun lebih dalam sebesar 3,17% ke harga Rp 183. Sedangkan ENRG merosot 1,15% ke harga Rp 344. Menurut Nicodimus, koreksi hari ini masih terbilang wajar.

Koreksi lebih karena pelaku pasar ingin terlebih dulu mengamankan keuntungan (profit taking). Nicodimus memperkirakan, naiknya ke papan utama bakal menjadi angin segar bagi saham BUMI, BRMS, dan ENRG.

"Menjadi sinyal positif untuk prospek bisnis dan bisa semakin menarik minat pasar. Valuasi juga masih murah dibandingkan rata-rata industri," ujarnya.

Baca Juga: 11 Saham Pindah ke Papan Utama Termasuk BUMI, ENRG, BRMS

Hitungan Nicodimus, Price Earning Ratio (PER) BUMI sebesar 9,21x dan ENRG 8,69x. Jauh di bawah rata-rata industri yang sebesar 29,92x. Sedangkan PER BRMS 26,31x, di bawah PER industri yang sebesar 43,89x.

Menimbang hal itu, Nicodimus melihat saham ketiganya masih menarik dikoleksi. Target BUMI ada di harga Rp 200 dengan support yang perlu dicermati pada Rp 158.

Sedangkan target harga BRMS di Rp 206 dengan support Rp 173. Lalu Rp 394 sebagai target harga ENRG dengan support Rp 334.

Adapun Pandhu merekomendasikan ketiga saham tersebut untuk trading jangka pendek. Menimbang posisi harga hari ini, pelaku pasar mesti mencermati level support masing-masing.

Hal itu penting untuk menentukan apakah dapat kembali rebound atau tren penguatan akan berakhir. Support BUMI ada di area Rp 172, BRMS di Rp 175, dan ENRG di Rp 322.

Baca Juga: Saham BUMI Pindah ke Papan Utama BEI, Investor Sebaiknya Beli Atau Jual?

Sementara itu, Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyoroti secara teknikal gerak saham tiga emiten Grup Bakrie tersebut. Untuk saham BUMI, investor disarankan mencermati area support di Rp 194-Rp 192 dan Rp 188.

Melihat harga penutupan hari ini, investor perlu waspada, karena bisa menjadi sinyal mengurangi posisi. Sedangkan untuk average up disarankan ketika sudah menembus level Rp 200, menuju resistance berikutnya pada Rp 220.

Lalu untuk saham BRMS, Liza memberikan rekomendasi buy on break. BRMS masih sideways dengan rentang area support di Rp 184 - Rp 182 dan Rp 176. Sedangkan resistance terdekat ada di Rp 192 - Rp 194.

Selanjutnya, saham ENRG memiliki area support Rp 344 dan Rp 328. ENRG bisa dibeli secara bertahap dengan syarat terlebih dulu break out resistance di Rp 356. Jika tertembus, berpeluang menuju target di Rp 364 dan Rp 394 - Rp 400.

Selanjutnya: Garuda Metalindo (BOLT) Kejar Target Penjualan Rp 1,43 Triliun di Sisa Tahun Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati

Terbaru