Dampak Pencabutan PPKM Tehadap Saham Emiten Properti dan Ritel

Selasa, 03 Januari 2023 | 06:10 WIB   Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Dampak Pencabutan PPKM Tehadap Saham Emiten Properti dan Ritel


KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pencabutan PPKM yang dilakukan pemerintah memberikan efek positif terhadap kinerja sektor properti dan ritel.

Analis Phintraco Sekuritas Rio Febrian mengatakan, sektor yang dapat diperhatikan pasca pencabutan PPKM adalah sektor properti dan ritel. Sebab diperkirakan berpotensi mengalami kenaikan okupansi pengunjung sejalan dengan kenaikan mobilitas masyarakat.

Untuk sektor properti, memang saat ini masih tertekan tingkat inflasi. Namun, Bank Indonesia kembali memperpanjang pelonggaran rasio Loan to Value (LTV) dan Financing to Value (FTV) untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau pembiayaan properti maksimal 100% hingga 31 Desember 2023. 

Hal ini sebagai langkah antisipatif terhadap dampak dari kecenderungan kenaikan suku bunga acuan BI di akhir tahun 2022 hingga awal 2023.

Baca Juga: Saham Konsumsi Akan Bergizi Tinggi

"Secara keseluruhan, pemulihan aktivitas ekonomi turut mendorong peningkatan di sisi retail sales, salah satunya properti dan retail space," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (2/1).

Sentimen lainnya berasal dari data Indeks Permintaan Properti Komersial yang mencatatkan pertumbuhan sejak pandemi. Pada 2020, Indeks Permintaan Properti Komersial berada di 101,81. Selanjutnya, naik ke 102,84 di 2021 dan meningkat ke 103,51 di 2022.

Trend positif dari Indeks Permintaan Properti Komersial menunjukkan spending masyarakat untuk membeli properti yang meningkat dari tahun ke tahun.

"Hal ini berpotensi mendorong emiten properti untuk melakukan ekspansi usaha serta meningkatkan kinerja pendapatan," jelasnya.

Nah, kedua faktor tersebut berpotensi meredam dampak negatif dari kenaikan suku bunga acuan dengan potensi pemulihan recurring income dari sektor properti. Ini sejalan dengan kecenderungan pemulihan aktivitas masyarakat dapat menjadi sentimen positif lain. 

Baca Juga: Pencabutan PPKM Dianggap Tak Terlalu Berdampak Signifikan Terhadap Kinerja Sektoral

Hal ini ditunjukkan dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada di level 119,1 di November 2022, lebih tinggi dari level optimis yakni 100.

Rio berpandangan, saham-saham properti yang memiliki kontribusi recurring income besar dapat diperhatikan karena berpotensi meredam dampak negatif dari tren suku bunga tinggi. Adapun sahamnya CTRA, BSDE, dan PWON.

Beralih ke ritel, Rio memaparkan, sepanjang 2022 rata-rata IKK berada di 119,8 dibanding rata-rata IKK pra-pandemi pada periode yang sama yakni 124,5. Hal ini menunjukkan pemulihan konsumsi masyarakat ke level pra-pandemi.

Di sisi lain, memang ada juga sentimen inflasi yang bisa menghambat. Akan tetapi, trend inflasi diperkirakan akan menurun mengingat inflasi secara bulanan sempat mengalami deflasi sebesar 0,11% MoM di Oktober 2022 dan relatif landai sebesar 0,09% mom di November 2022.

Selain itu, harga komoditas minyak yang cenderung turun beberapa bulan terakhir ini berpotensi mendasari penyesuaian harga BBM terutama BBM Non-Subsidi sehingga dapat memicu laju inflasi akan cenderung menurun.

Dengan demikian, sektor ritel masih berpotensi mencatatkan kinerja yang positif di tahun 2023. Adapun pilihan sahamnya, AMRT, MAPI, dan ACES.

Equity of Research Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menjelaskan, analisa teknikal saham-saham tersebutl:

1. PWON - Buy on Support

Mendekati support area Rp 434 - Rp 440 seiring MFI dan Stochastic RSI yang sudah di oversold area. Potensi pelemahan mulai terbatas. Selama bertahan di atas Rp 434, indikasi rebound masih terjaga.

Target: Rp 462; Rp 480

Entry: Rp 434 - Rp 440

Stoploss: Rp 420

Resistance: Rp 480

Support: Rp 434

Baca Juga: Pasar Properti Diramal Masih Tertahan, Simak Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas

 

2. BSDE

Bergerak sideways di area Rp 895 - Rp 950. Kontraksi harga tidak diikuti dengan volume yang solid (indikasi tekanan jual cenderung kecil). Potensi membentuk broadening form (bullish reversal). Selama bertahan di atas Rp 900, indikasi bullish reversal masih terjaga.

Target: 950; Rp 1.005

Entry: Rp 905 - Rp 920

Stoploss: Rp 870 - Rp 880

 

3. CTRA

Potensi minor bullish reversal. Strong support di Rp 910 - Rp 920. Terdapat kecenderungan rebound pasca uji support area tersebut. Stochastic RSI mulai bergerak naik dari oversold area dan terdapat penyempitan negative slope pada MACD.

Target: Rp 970 - Rp 1.000

Entry: Rp 925

Stoploss: Rp 900

Baca Juga: Permintaan Semen Diproyeksi Meningkat pada 2023, Berikut Saham Pilihan Analis


4. MAPI - Maintain Buy

Tengah uji strong resistance Rp 1.475. positive slope MACD masih cenderung melebar, sejalan dengan MFI yang bergerak naik dari oversold area. Breakout Rp 1.475 akan memvalidasi bullish continuation.

Target: Rp 1.580 - Rp 1.600

Maintain Buy: di atas Rp 1.475 (jika terkonfirmasi) atau di atas Rp 1.400 jika konsolidasi terlebih dulu sebelum rally kenaikan.

Stoploss: Rp 1.380


5. AMRT

MA10 dan MA20 membentuk golden cross menjadi sinyal awal rebound selama terjaga di atas Rp 2.650. Konfirmasi jika resistance breakout Rp 2.820.

Target: Rp 2.820 - Rp 2.940

Entry: Rp 2.650

Stoploss: Rp 2.500


6. ACES

Pelebaran MA10 dan MA20 masih berlanjut pasca membentuk golden cross yang menjadi sinyal bullih reversal. Namun mempertimbangkan Stochastic RSI yang sudah di overbought area, potensi normal pullback atau konsolidasi terlebih dulu.

Target: Rp 540

Entry: Rp 480

Stoploss: Rp 460

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli

Terbaru