Hindari Dividen Trap! 13 Saham Ini Masuk Cum Date Mulai 27 April 2026

Sabtu, 25 April 2026 | 04:00 WIB
Hindari Dividen Trap! 13 Saham Ini Masuk Cum Date Mulai 27 April 2026

ILUSTRASI. Hindari Dividen Trap! 13 Saham Ini Masuk Cum Date Mulai 27 April 2026


Reporter: Rashif Usman  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebanyak 13 saham pembayar dividen akan memasuki cum date mulai besok Senin (27/4/2026 hingga Kamis (30/4/2026). Lalu, dari daftar pembayar dividen tersebut, saham apa yang memiliki prospek untuk investasi?

Berikut daftar saham yang cum dividen date mulai Senin 27 April 2026:

  1. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA)
  2. PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR)
  3. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
  4. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
  5. PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA)
  6. PT Astra Otoparts Tbk (AUTO)
  7. PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII).
  8. PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU)
  9. PT Adiwarna Anugerah Abadi Tbk (NAIK)
  10. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)
  11. PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ)
  12. PT Central Omega Resources Tbk (DKFT)
  13. PT Kedawung Setia Industrial Tbk (KDSI).

Baca Juga: BCA Naikkan DPR ke 72% dan Siapkan Dividen Interim Tiap Kuartal Mulai 2026

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai saham-saham tersebut secara umum dapat dikelompokkan ke dalam dua pendekatan utama.

Pertama, pendekatan high yield yang cocok bagi pemburu dividen atau dividend hunter. Dalam kategori ini, ada sejumlah saham dinilai yang menarik dari sisi imbal hasil, seperti BNGA dengan yield sekitar 8,5%, DRMA sekitar 6,6%, AUTO sekitar 6,0%, ADRO sekitar 4,6%, serta PGEO di kisaran 4,8%.

"BNGA dan AUTO cukup menarik karena menawarkan yield relatif tinggi dengan fundamental yang stabil, terutama dari sektor perbankan dan otomotif. Sementara itu, ADRO dan PGEO tak hanya menawarkan yield, tetapi juga memiliki eksposur ke sektor energi yang masih didukung permintaan yang kuat," kata Alrich kepada Kontan, Jumat (24/4/2026).

Kedua, pendekatan dividend dengan kondisi fundamental, yang lebih sesuai untuk investasi jangka panjang. Dalam kategori ini, ADRO dinilai menarik berkat katalis transisi menuju energi hijau serta diversifikasi bisnisnya. PGEO juga memiliki prospek jangka panjang yang kuat sebagai emiten energi terbarukan berbasis panas bumi. Sementara ITMG masih menjadi pilihan dividend play di sektor batu bara, meskipun sifatnya lebih siklikal.

Namun dari sisi prospek, sektor komoditas seperti ADRO, ADMR, dan ITMG diperkirakan bergerak moderat atau cenderung tertekan. Hal ini seiring harga batu bara yang relatif stabil hingga melemah dibandingkan puncaknya, serta permintaan global yang masih ada namun tidak sekuat periode supercycle.

Risiko utama berasal dari potensi penurunan average selling price (ASP) yang dapat menekan margin. Meski demikian, arus kas yang masih solid dinilai mampu menjadi penopang, sehingga emiten tetap berpeluang membagikan dividen meskipun dengan potensi penurunan.

Tonton: Trump Klaim Iran Bangkrut! Rp 8,6 Triliun Hilang Tiap Hari Imbas Blokade?

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menekankan pentingnya perbedaan strategi antara dividend hunter dan investor jangka panjang.

Investor jangka panjang, menurutnya, cenderung tidak mudah terjebak dalam dividend trap karena lebih fokus pada valuasi dan fundamental. Sebaliknya, dividend hunter mengutamakan yield tinggi dalam jangka pendek, namun perlu mewaspadai potensi penurunan harga setelah ex-date akibat price adjustment.

Secara sektoral, konsumsi domestik dinilai masih cukup kuat sehingga dapat menopang kinerja saham seperti AUTO, DRMA, dan KEJU, seiring daya beli masyarakat yang relatif terjaga di tengah tekanan inflasi. 

Untuk sektor komoditas seperti ITMG, ADRO, dan ADMR, prospeknya masih cenderung stabil dengan margin yang tetap sehat selama ASP terjaga.

"Di sisi lain, PGEO dan DRMA memiliki katalis dari tren transisi energi, termasuk pengembangan kendaraan listrik (EV) dan target net zero emission pemerintah," tambah Nafan.

Adapun sejumlah faktor risiko yang perlu diperhatikan antara lain pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus Rp 17.200 per dolar AS, yang berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku bagi emiten seperti AUTO dan DRMA. 

Selain itu, suku bunga acuan juga memberikan katalis pada biaya dana di sektor perbankan seperti BNGA dan BNII. Risiko lain datang dari ketegangan geopolitik global yang dapat mengganggu rantai pasok serta meningkatkan biaya logistik.

Tonton: Investor Singapura Mau Caplok Saham Hassana Boga (NAYZ)

Rekomendasi Saham

Alrich merekomendasikan trading buy untuk saham ADRO dengan area entry di Rp 2.500, stop loss di bawah Rp 2.440, serta target harga di Rp 2.630 per saham. Secara teknikal, breakout MA20 menjadi sinyal konfirmasi rebound dan membuka peluang pengujian resistance di level Rp 2.630. Indikasi ini juga diperkuat oleh pola golden cross serta dukungan volume transaksi yang solid.

Sementara itu, Nafan menyarankan add saham AUTO dan ADRO di target harga masing-masing Rp 3.120 dan Rp 2.780, serta buy saham ADMR di level Rp 2.130 per saham.

Prabowo Kembali ke Prancis! Ada Agenda Besar di Balik Kedekatan dengan Macron

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru