Masa Depan HOPE: Segera Akuisisi Tambang, Cek Profil Emiten hingga Kinerjanya

Kamis, 23 April 2026 | 10:32 WIB
Masa Depan HOPE: Segera Akuisisi Tambang, Cek Profil Emiten hingga Kinerjanya

ILUSTRASI. Harapan Duta Pertiwi (Dok/HOPE)


Sumber: Bursa Efek Indonesia (BEI  | Editor: Bimo Kresnomurti

KONTAN.CO.ID - Simak profil emiten HOPE yang segera right issue untuk akuisisi tambang. PT Harapan Duta Pertiwi Tbk merupakan perusahaan publik yang bergerak di sektor industri manufaktur, khususnya karoseri kendaraan komersial.

Bisnis HOPE erat kaitannya dengan sektor logistik, konstruksi, hingga pertambangan karena produk Utamanya digunakan untuk kendaraan operasional berat.

Pada 2026, PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) mengumumkan langkah ekspansi besar melalui rencana akuisisi PT Tambang Meranti Mulia Sejahtera.

Untuk mendanai aksi korporasi ini, HOPE akan melakukan rights issue dengan nilai sekitar Rp266,29 miliar melalui penerbitan sekitar 2,13 miliar saham baru dengan harga Rp125 per saham.

Baca Juga: Pabrik VKTR Diresmikan Presiden Prabowo, Cek Profil Emiten hingga Kinerjanya

Dana hasil aksi tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kepemilikan HOPE di TMMS dari 21,57% menjadi 99%, sehingga perusahaan akan menjadi pengendali penuh. Secara keseluruhan, nilai transaksi akuisisi ini diperkirakan berada di kisaran Rp257 miliar hingga Rp317 miliar.

Dengan berita tersebut, saham HOPE sempat Auto Reject Atas (ARA) pada hari Rabu (22/4) sebelum akhir dibuka turun 7-8% pada Kamis (23/4) menuju Rp288/saham.

Lalu, seperti apa profil dari emiten ini? Cek penjelasan dari lini usaha hingga kinerja keuangannya.

Baca Juga: Saham COCO Segera Rights Issue, Cek Profil Emiten hingga Kinerjanya

Kabar Terbaru 

TMMS merupakan perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan jasa penunjangnya, meliputi kontraktor tambang, penyewaan alat berat seperti dump truck, perdagangan komoditas, serta layanan pelabuhan seperti stevedoring dan jetty.

Dari sisi kinerja, TMMS mencatatkan pendapatan sekitar Rp193,6 miliar pada 2025 dengan total aset mencapai sekitar Rp320 miliar.

Manajemen HOPE menyatakan bahwa akuisisi ini bertujuan untuk memperkuat integrasi vertikal bisnis, di mana kebutuhan armada dump truck TMMS dapat dipasok dan dikaroseri oleh HOPE sendiri.

Selain itu, langkah ini juga diharapkan membuka captive market internal, memperluas masuk ke ekosistem pertambangan, serta mendorong diversifikasi sumber pendapatan perusahaan ke sektor yang lebih luas.

Baca Juga: Pendapatan ASLC Sentuh Rp1 Triliun, Cek Profil Emiten Otomotif Digital Ini

Lini Usaha

Secara garis besar, kegiatan usaha HOPE meliputi Karoseri kendaraan komersial. Selain itu, ada pembuatan bak truk, dump truck, dan kendaraan khusus, hingga manufaktur trailer & semi trailer.

Ada juga perakitan kendaraan industri dan kasa modifikasi kendaraan berat

Ke depan, HOPE mulai mengarah ke Integrasi sektor tambang dan Jasa pendukung pertambangan (melalui akuisisi TMMS).

Baca Juga: Masa Depan BIPI: Cek Profil Emiten yang Segera Divestasi Batu Bara

Susunan Manajemen

Manajemen kunci yang tercatat:

Direktur

  • Kevin Jong merupakan Direktur Utama
  • Ir. Nathan Octavian Wangsadirdja merupakan Direktur
  • Rusli Djuhana merupakan Direktur
  • Herryan Syahputra merupakan Direktur
  • Lo Khie Pong merupakan Direktur

Komisaris

  • Wimba Prambada merupakan Komisaris Utama
  • Rino Yosiaki Manangkalangi merupakan Komisaris
  • Antonius merupakan Komisaris.

Baca Juga: Teken Kontrak Rp10,83 T, Cek Profil Emiten PMJS yang Meroket 50% dalam Sepekan

Kinerja dan Kondisi 2025

Melansir BEI, data kinerja detail HOPE memang terbatas di publik, namun gambaran yang tersedia:

Secara tahunan (YoY), kinerja PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) menunjukkan perbaikan terbatas di tengah ekspansi usaha. Pendapatan melonjak signifikan 107,7% menjadi Rp40,5 miliar pada 2025 dibandingkan Rp19,5 miliar pada 2024, mencerminkan peningkatan aktivitas bisnis.

Namun demikian, perusahaan masih mencatatkan rugi bersih sebesar Rp22,8 miliar, sedikit membaik 0,4% dibandingkan rugi Rp22,9 miliar pada tahun sebelumnya.

Dari sisi profitabilitas, rugi kotor menyempit 47,8% menjadi Rp4,7 miliar dari Rp9,0 miliar, sementara EBITDA tercatat stagnan di level rugi Rp15,2 miliar. Perbaikan ini menunjukkan adanya efisiensi operasional, meski belum cukup untuk membawa perseroan kembali ke zona laba.

Tonton: Biaya Naik Tajam, Produsen Snack Ubah Strategi Akibat Harga Plastik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru