KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Rabu (10/6/2026), sementara harga minyak menguat setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran baru di pasar global.
Mengutip Reuters, sentimen pasar memburuk setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Teheran telah menembak jatuh helikopter Apache milik AS di Selat Hormuz.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,6%, Nikkei Jepang melemah 0,9%, dan KOSPI Korea Selatan merosot 2%.
Harga minyak Brent naik 0,9% menjadi US$92,29 per barel atau sekitar Rp1,66 juta per barel. Sementara minyak mentah WTI menguat 0,8% menjadi US$88,97 per barel atau sekitar Rp1,60 juta per barel dengan kurs Rp17.970 per dolar AS.
Baca Juga: Sebelum Beli Bitcoin, Investor Perlu Tahu Ancaman dari Booming Saham AI
Pasar Masih Mencermati Risiko Pasokan
Charu Chanana, Chief Investment Strategist Saxo di Singapura, mengatakan pasar belum melihat perkembangan terbaru di Timur Tengah sebagai ancaman besar terhadap ekonomi global.
Namun, ia mengingatkan bahwa risiko dapat meningkat apabila konflik mulai mengganggu infrastruktur energi, jalur pelayaran, atau memicu keterlibatan AS yang lebih luas.
"Geopolitik saat ini masih diperlakukan sebagai risiko berita utama, bukan guncangan makroekonomi. Harga minyak yang bertahan di sekitar US$90 menunjukkan pasar belum memperhitungkan gangguan pasokan," ungkap Chanana.
Baca Juga: Booming IPO India, Raksasa Asing Justru Tarik Dana Miliaran Dolar
Fokus Beralih ke Data Inflasi AS
Investor kini menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pada Rabu waktu setempat.
Survei Reuters menunjukkan inflasi AS diperkirakan naik 4,2% dalam 12 bulan hingga Mei, yang akan menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak April 2023.
Laporan ketenagakerjaan AS yang kuat pekan lalu juga mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpotensi menaikkan suku bunga tahun ini.
"Jika data CPI hari ini lebih tinggi dari perkiraan, akan jauh lebih sulit bagi The Fed untuk terdengar santai pekan depan," lanjut Chanana.
Baca Juga: AS Sanksi Bursa Kripto Terbesar Iran, Nobitex Dituduh Bantu IRGC
Kombinasi Risiko Baru bagi Pasar
Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise, mengatakan pasar biasanya mampu menyerap gejolak geopolitik selama harga energi tetap terkendali.
Namun, menurutnya, risiko meningkat ketika harga minyak, inflasi, dan kebijakan suku bunga bergerak ke arah yang sama.
"Pasar memiliki ruang yang lebih sempit untuk merasa nyaman ketika harga minyak, data inflasi, dan kebijakan The Fed sama-sama bergerak ke arah yang kurang mendukung saham," kata Saglimbene.
Reuters juga melaporkan bahwa tekanan mulai terasa di pasar negara berkembang. Bank Indonesia pada Selasa secara mengejutkan menaikkan suku bunga untuk menopang rupiah yang masih rentan.
Baca Juga: Morningstar Ragukan Bisnis AI SpaceX, Valuasi Dinilai Kemahalan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News